Pages

Selasa, 24 September 2013

A Girl Who Can't Break Up, A Boy Who Can't Leave (Part 4)

Agha mungkin tidak serius dengan sms yang tadi sore dikirimnya itu... Mungkin juga laki – laki itu salah mengirim sms yang seharusnya ditujukan untuk orang lain... bagaimana mungkin lelaki yang baru saja mengajaknya berkencan melalui pesan singkat sekarang bertingkah seolah – olah tidak mengenalnya. Dia mengobrol dan tertawa dengan orang lain tanpa sekalipun menoleh padanya. Yaahh oke, Rhea memang tidak membalas pesan itu, tapi bukan berarti dia tidak mau... Dia ingin berbicara langsung dengan pria itu begitu sampai di kantor. Tapi saangnya dia dan mia tidak berkesempatan untuk menginjakkan kaki di kantor sepulang dari festival Barbie. Macet sudah pasti jadi alasan. Dan juga... malam ini semua orang pulang cepat untuk makan malam bersama di kafe yang katanya langganan indie. That woman... Rhea yakin, tadinya dia hanya ingin mengajak Agha makan malam bersama. Dan ntahlah bagaimana scenario yang terjadi hingga akhirnya dia membawa semua orang ke kafe ini. Bahkan Mia yang masih dalam perjalanan menuju kantor pun mendapat pesan untuk ikut bergabung, gadis itu akhirnya dia meminta driver untuk langsung mengantar mereka menuju TKP. Setelah hampir satu jam sejak Rhea datang ke kafe ini, tidak sekalipun Agha berusaha untuk menghampirinya, menoleh pun tidak. “Rhe, tadi lo ke kantor bawa kendaraan ?” Rhea buru – buru mengalihkan pandangannya dari Agha dan menatap Mia yang baru saja bertanya padanya. “mm...? nggak, gue naik angkot tadi...”Mia mengangguk – angguk mendengar jawaban Rhea, gadis itu lalu menyahut “soalnya driver udah gue suruh balik tadi... Jadi kalo lo bawa kendaraan, biarin nginep aja d kantor malem ini... terus lo balik naek apa ntar ? kemaleman kalo mau naik angkot... gue ada jemputan, lo mau ikut ?” Rhea tersenyum, ternyata masih ada orang selain Alin bersikap baik padanya di kantor. Hanya saja mereka berada dalam Tim yang berbeda dan sangat jarang bertemu. “Gampang deh ntar gue minta jemput temen gue...” Jawab Rhea. Mia kembali mengangguk. “Gue ke toilet dulu yaa...” Ujar Rhea lagi seraya bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu lalu berjalan mencari kamar kecil yang ternyata berada di luar bangunan kafe. Kamar kecil itu menyatu dengan bangunan kafe namun pintu masuknya berada di luar. Rhea membuka pintu salah satu toilet dan kemudian kembali merasakan dorongan pelan dari belakang yang lagi – lagi membuatnya hampir jatuh terjembab. Dengan kesal Rhea menoleh ke belakang. Agha sudah menutup pintu dan berdiri di hadapannya. What again...?! “Apaa ??” tanya Rhea dengan nada sedikit kesal. Kenapa lelaki ini suka sekali mengikutinya ke toilet...? “u have to answer if somebody ask u out...” Agha akhirnya buka suara. Rhea menatap laki – laki itu tidak percaya. Pria itu sedang membicarakan sms terakhirnya. Lelaki macam apa yang membicarakan masalah cinta di tempat seperti ini ?? “Harus yaa kita ngomongin ini di toilet ?” jawab rhea cepat. “Mau lo kita ngomongin ini sambil candle light dinner di tempat yang romantis ? Yang seperti itu hanya berlaku bagi orang yang saling mencintai. Apa kita saling mencintai ?” Agha berkata seraya tertawa kecil. Rhea mengerutkan kening lalu menggeleng pelan. Jadi apa intinya ??? “Here... Lets make an engagement...”Agha menjulurukan tangannya dan menunjukkan sebuah cincin pada Rhea. Gadis itu terkejut. What is it a proposal ???
***
Agha akhirnya bersedia menjadi kekasih Rhea. Dengan syarat, hanya Agha yang boleh memutuskan hubungan. Hingga rumor gay, yang akhir – akhir ini semakin keras terdengar, menghilang tanpa bekas. Laki-laki itu juga memberikan cincin padanya. Semakin terlihat serius, akan semakin bagus. Rhea setuju tentu saja. Hubungan ini menguntungkan kedua belah pihak. Tapi hanya adil jika Rhea juga mengajukan Syarat. “Deal... in one condition... cuma adil kalo lo bisa buat setidaknya setengah dari para haters gue, jatuh cinta sama lo...”dan tentu saja Agha tidak keberatan dengan itu. Dia berkata akan berusaha melakukan yang terbaik. Cincin hanya akan dikenakan jika license and agreement tersebut sudah terpenuhi. Akan terlihat janggal jika sebuah cincin tiba – tiba saja sudah bertengger cantik di jari manisnya.
Orang – orang mungkin tidak akan pernah tau... Alasan kenapa Agha merubah hair style dan penampilannya akhir – akhir ini. Dia tidak bercanda saat menyetujui permintaan Rhea untuk tebar pesona di kantor... Dan sepertinya hal itu tidak terlalu susah untuknya. Saat dia muncul dengan penampilan barunya, para wanita mulai heboh membicarakannya. Saat dia bersikap seperti lelaki bermanner tanpa mengumbar senyum murahan, setidaknya 3 dari 5 wanita di kantor mulai tertarik dan memperhatikannya. Kemudian saat dia membiarkan para wanita melihatnya tertawa bersama presdir dan staff lainnya di acara pesta ulang tahun presdir sekaligus perayaan atas goalnya proyek acara televisi baru PMagz malam ini, para wanita menarik napas panjang dan menikmati kekaguman mereka dalam diam. Lalu saat akhirnya Agha menyingsingkan lengan kemeja putihnya dan beranjak ke atas panggung di pojokan kafe untuk memainkan piano, maka terjatuhlah para wanita yang ada di dalam ruangan itu dalam pesona seorang Agha. Creep. Dan chopin’s waltz sesuai permintaan sang boss yang merupakan seorang pecinta musik klasik. Setelah menyelesaikan waltz-nya, Agha akhirnya bersuara “is it okay if i play one more song ?” lalu para penonton bersorak mempersilahkannya. Agha melanjutkan “This one is for my...”Kali ini dengan menyertakan senyuman yang begitu manis. Racun. Dia membiarkan kalimatnya menggantung dengan sengaja. Satu senyuman sudah cukup memberi tahu semua orang kepada siapa permainan pianonya itu akan ditujukan. Must be a lover... Seseorang yang istimewa... “I heard women like this song...” sambungnya, lalu mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano. A thousand years by christina perry... Yes. Women like this... Dan agha mulai bernyanyi. Melengkapi rentetan pesona yang telah ditebarkannya beberapa hari terakhir. Bahkan Rhea sebagai satu – satunya orang yang tau rencana Agha merasa begitu terhanyut pada musik yang didengarnya malam ini. Namun dengan cepat gadis itu mengumpulkan kembali kesadarannya yang perlahan – lahan menghilang. Tidak lucu kalau dia sampai ikut terlena. Sama artinya dengan terjatuh pada lubang yang dibuatnya sendiri. “well, this aint for me... I I dont have to see it...” Rhea bergumam pelan pada dirinya sendiri, cukup keras untuk dapat didengar oleh Mia yang duduk di dekatnya. Gadis itu tersenyum melihat Rhea yang bangkit dari tempat duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan ruangan yang sedang berada di bawah pengaruh sihir itu. Sementara Agha yang akhirnya menyelesaikan permainan pianonya disambut dengan suara riuh dan tepuk tangan seisi ruangan. Lelaki itu kembali ke tempat duduknya seraya celingukan seolah mencari sesuatu. “Jadi kamu diem – diem punya pacar ? siapa ?” Mr. Jan langsung menginterogasi Agha begitu cowok itu sampai di tempat duduknya. Agha hanya tersenyum. Dia menghabiskan minumannya, lalu mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik. “Saya yakin kamu udah punya pacar. Cuma saya nggak yakin tentang gendernya...” Mr. Jan mulai tidak sabar dan mencoba memancing komentar. Agha tertawa. Cowok itu lalu menggeleng “Trust me, im straight, sir...” jawabnya. Tapi Mr. Jan terlihat masih tidak percaya. Agha mulai celingukan lagi. “Eh, itu handphone kamu...” Terdengar suara Mr. Jan lagi. Agha mencari handphonenya di atas meja. Tidak ada. Hingga akhirnya dia menyadari, barang yang dicarinya sudah berada di tangan Mr. Jan yang melotot tidak percaya memandangi layar ponselnya. “ini... Maeve Rhea ???” tanya lelaki setengah botak itu seraya menunjukkan apa yang dilihatnya tadi pada Agha. Layar ponsel Agha dengan foto Rhea sebagai wallpapernya. Ada panggilan masuk yang masih berdering, tertulis My Rhe, tapi Mr. Jan tampaknya enggan memberikan ponsel itu sebelum Agha menjawab pertanyaannya. Agha kembali tersenyum, “I... think.”jawabnya seraya meminta ponselnya dengan sopan dan berlalu pergi begitu saja.

***
Rhea akhirnya kembali kepada style lama yang telah ditinggalkannya kemarin. Celana jins dan kemeja. Tidak ada lagi rok mini, baju ketat berkerah rendah, dan segala atribut fashionista yang digunakannya beberapa minggu terakhir. Hanya saja, Rhea masih mempertahankan hair style dan menggunakan make up ringan nya di waktu kerja. Agha memintanya untuk menyingkirkan semua itu. “Stop dressing like a bitch...” And here she come dressing like the old her... Innocent cutie... Gosip tentang mereka berdua belum tersebar luas di kantor. Meskipun Mr. Jan sudah mulai tersenyum dan bertanya – tanya pada mereka. Indie still has no clue. Gadis itu tersenyum lebih sering daripada sebelumnya sejak malam perayaan. Dan hari ini. Dia kembali tersenyum melihat penampakan Rhea. “Jadi akhirnya lo sadar kalo Agha itu jauh dari jangkauan lo ?” Tawanya pecah setelah menyelesaikan kata – kata itu. Rhea tidak menjawab. Saat jam makan siang tiba, Agha datang menghampiri Rhea dan mengajak gadis itu makan siang bersama dengan manisnya dihadapan para wanita lainnya. Mr. Jan muncul disaat yang tepat dan berkata dengan lantangnya “Nahh, I was right... Jadi lagu itu memang buat Maeve Rhea kan...”. Agha dan Rhea hanya tersenyum. Tidak ada yang buka suara untuk menjawab. Tapi dari senyuman itu, rasanya semua orang sudah tahu jawabannya. Maka dimulailah suara dengungan lebah dari para wanita yang menjadi saksi kejadian itu. They’re mad...
“Are you happy now ?” Agha bertanya pada Rhea setelah mereka sampai di sebuah resto vegetarian, duduk bersama ditemani segelas ice lemon dan tomato juice. “Are you...?”balas Rhea. Agha lalu tersenyum. Lebih mirip cemoohan. “does it hurt ur pride if u answer me first ?” Ujar Agha masih dengan senyumannya. Rhea menatap lelaki itu dengan seksama. Why is he look different ? Apa lelaki ini memang menjadi lebih manis atau ini hanya efek malam perayaan semacam post trauma ? Rhea hanya melontarkan pertanyaannya dalam hati. Gadis itu lalu menyeruput es lemonnya. “Yes, im extremely happy...” Ujarnya lalu. Agha hanya mengangguk – angguk. “can i ask a question ?” lanjut Rhea, “u already ask me a question...” jawab Agha. Rhea mengartikannya dengan go ahead ask ur question. “Why should u care abt my look...?” Agha menatap Rhea dengan serius “I dont like it if my girl looks bitchy...”jawab lelaki itu. Rhea menyipitkan matanya. “Jadi kamu lelaki macem itu juga... Nggak suka kalo pasangannya begitu, tapi suka ngeliat wanita lain berpakaian minim... But we are not that kind of couple... We dont love each other... So why...”,”First, Im definitely not that kind of man...” Agha memotong pembicaraan Rhea. Cowok itu lalu melanjutkan “Second, We r not that kind of couple, its true. I dont like seeing my woman dressing like bitch, and i dont enjoy seeing another girl in a sexy dress either. In another word, i dont like that bicthy kind of woman... Wanita lain berhak memakai apapun yang mereka suka, i dont care... But my woman... how can i not care...?” Rhea tanpa sadar menahan napas mendengar penjelasan Agha. Why ??? Why are men like him hate women like her ? Jadi lelaki charming seperti titan dan agha memang memandang sebelah mata pada gadis – gadis fashionista ? “But We r not in love... You dont love me, I dont love you... then why would you care ? u dont have to take care and protect me...” Rhea bertanya lagi. Dia masih tidak mengerti. Kenapa agha masih repot – repot memikirkan gaya berbusananya... “Im protecting my pride... I have dignity. I dont date bitch...” Agha menjawab singkat. Rhea kembali terhenyak. Itu artinya, di mata seorang Agha, Rhea memang wanita semacam itu ? Apa penampilannya segitu murahan dan tidak terhormat ? Tidak pantas untuk seorang Agha ? Jadi hal seperti itu juga yang ada dalam pikiran seorang titan dulu ? Serendah itukah Rhea ? “Aku pikir semua cowok pasti bangga punya pacar yang cantik, glamorous, and sexy...” Rhea kembali menyahut. Mencoba mempertahankan sisa – sisa martabatnya yang baru saja hancur berantakan karena kata – kata Agha. Lelaki itu hanya tersenyum. Kembali mencemooh. “Whatever, man... Not me...”sahutnya pendek. Dan habislah sudah argumen tentang hal ini. This man... Sepertinya memang tidak butuh wanita cantik untuk membuatnya terlihat hebat. Sebaliknya, dengan ajaib membuat wanita merasa terhormat berada di sisinya. He’s just that great...

The Most Incredible Woman Around Me...?


She's a mother...
Who always cries at four o'clock in the morning... Thinking about her daughters...
Kata orang, cara anak - anakmu memperlakukanmu adalah cerminan perlakuanmu pada orang tuamu di masa lalu. Karena itu dia mulai berpikir... Dosa apa yang telah dilakukannya dahulu ? Hingga anak - anaknya menjadi begini menyebalkan ? Susah menurut, bersikap acuh tak acuh seolah tidak pernah mendengar apapun yang dikatakannya... Seingatnya, dia sudah melakukan semua yang dia bisa untuk orang tuanya. Membantu mencari uang sejak masih kecil, mengurus adik - adiknya, mengerjakan pekerjaan rumah... Lalu, apa yang salah...??

Senyuman bahkan sudah jarang terbit di wajahnya yang dulu begitu cerah dan bercahaya. 
Sejak kehilangan suami tercinta, kehidupan tidak pernah sama lagi. Memikirkan masa tua, dulu tidak pernah seberat ini. Apakah berharap untuk menjalani hidup dengan damai di saat senja seraya menikmati bakti anak - anaknya yang berhasil sukses dan mandiri terlalu berlebihan ? Di usia yang telah lebih setengah abad begini, dia tetap harus bekerja begitu keras untuk menghidupi anak - anaknya yang masih menggantungkan seluruh hidup mereka padanya...

Dia meletakkan impian tertingginya pada anak - anaknya...
Mereka harus mendapat pendidikan yang lebih tinggi darinya, hidup sukses, dan berguna bagi sesama manusia. Tapi sekarang... Apakah dia harus menghapus impian itu dari hati dan pikirannya secara perlahan - lahan ? Anak - anaknya bahkan seperti tidak peduli pada hidup mereka sendiri... Jika nanti dia harus pergi menghadap Tuhan... Apa yang akan terjadi pada anak - anaknya ? Meski pikiran untuk dapat kembali bertemu dengan sang suami tercinta di tempat yang lebih baik begitu indah dan begitu dirindukannya, dia tetap harus bertahan ! Demi kedua putrinya...  

She's a mother...
Who never had missed a single day, praying to God, for the sake of her daughters... She's a supergreat mother...
She's MY MOTHER...







NB : Jika ada kesalahan dalam berbahasa, baik inggris ataupun indonesia, mohon dimaafkan...


#PeopleAroundUs | Day 14

Jumat, 05 Juli 2013

a girl who can't breakup, a boy who can't leave (part 3)

“He’s gay, rhe... Everybody in this office seems to know that...”Rhea kembali mendesah mendengar statement yang baru saja dikeluarkan oleh Alin. That girl, she’s just an office girl, but she speaks english well. Dulunya dia adalah putri seorang pengusaha sukses yang dengan rutin mengunjungi negara – negara maju setiap bulan untuk berbelanja.Sayang ayahnya mengalami kebangkrutan hingga akhirnya Alin tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Nasib Rhea sendiri tidak jauh berbeda. Ayah Rhea bangkrut saat dia sedang menjalani studi sebagai mahasiswi semester akhir. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu faktor kenapa Rhea dan Alin akhirnya menjadi teman dekat. Mereka pernah merasakan penderitaan yang sama. Dan mereka sedang membicarakan Agha. Sejak melarikan diri dari Agha di book cafe dua hari yang lalu, Rhea benar – benar tidak punya keberanian untuk bertemu dengan Agha lagi. Setiap kali gadis itu melihat Agha, dia dengan cepat menghindar dan menyembunyikan diri sebisa mungkin. That’s annoying. Ini tidak sesuai rencana. Rhea harusnya berusaha menarik hati seorang Agha. Tapi untuk saat ini, dia benar – benar tidak tahu harus bersikap seperti apa jika bertemu Agha. Sekilas profil tentang Agha yang baru saja dijabarkan oleh Alin. Cowok itu adalah pengasuh arikel Hi-Tech di people magz tempat mereka bekerja sekarang. Dia Cuma penulis artikel, tapi kenapa dia bisa mendapat ruangan sendiri untuk tempatnya bekerja di kantor ini ? Jawabannya karena dia adalah orang yang belakangan ini dianggap sebagai beethoven dalam dunia IT. Setidaknya di negara ini. Orang pintar selalu mendapat perlakuan khusus. Seringkali mendapat undangan sebagai dosen tamu di beberapa perguruan tinggi dan sudah menelurkan 3 buah buku yang diterbitkan oleh penerbit buku ternama. Dua buah buku tutorial dan satu buah buku berisi tips – tips berharga hasil karyanya. Then why such a person is so willing to work here ??? Apa ini semacam lelucon yang sedang ditertawakannya sendiri ? Dan berita lainnya tentang pria ini adalah, orang – orang curiga dia seorang gay. Yang tidak akan pernah terpergok sedang menonton atau membaca porn, dan tidak akan pernah ketahuan memiliki hubungan spesial dengan wanita. He’s that kinda man. Dan akhirnya Rhea menyadari, hal – hal misterius itulah yang akhirnya berhasil menarik perhatian seorang indie  dan membuat gadis itu tergila – gila pada Agha. “lo tau apa yang bikin ini jadi lebih menarik ? gue rasa pasti jauh lebih mudah buat indie menerima kenyataan dia ditolak Agha karena cowok itu gay, daripada harus mengakui bahwa seorang Agha yang dikabarkan gay akhirnya berhasil takluk di hadapan gue.” Rhea tersenyum sendiri membayangkan hal yang baru saja dikatakannya itu. “Dan itu artinya lo gk bakal kabur lagi kalo ketemu Agha ?” celetuk Alin cepat. Rhea berpikir sejenak. Senyuman di wajahnya sudah menghilang. “I will manage it later...” sahut Rhea lalu.
***
No more hiding from now on. Rhea akhirnya berhasil meyakinkan dirinya sendiri untuk berhenti melarikan diri dari Agha. Why should she hid herself ? Memangnya kenapa kalau Agha tau semuanya ? Bukan berarti tertutup kemungkinan Agha bisa jatuh cinta padanya. Kabur dan bersembunyi seperti pecundang bukanlah gayanya. “Gk kabur lagi lo ?” Rhea terkejut mendengar suara dari belakangnya dan dengan cepat berbalik. Agha. Jadi cowok itu sudah tau kalo selama beberapa hari ini Rhea berusaha kabur setiap kali melihatnya. “Why shud i...??” balas Rhea lalu tanpa ragu dengan disertai senyuman manis. “u know my intention, so what... i’m already a bitch here...”lanjut Rhea lagi. Agha hanya tertawa sinis. Cowok itu sedang mencemoohnya. “So u r gonna keep going ? hillarious...”sahut agha. Rhea menghela napas panjang, “well... who knows... some people were just born to be loved. Effortless. Lets say i have that kinda charm in me... Even gay will fall for me if i want it...” Rhea tersenyum dan kemudian berlalu begitu saja setelah menyelesaikan kata – katanya.
***
Sesuatu pasti akan terjadi hari ini. Rhea dan Indie akhirnya harus pergi bersama ke sebuah event yang diselenggarakan oleh komunitas pecinta barbie international. Event ini berlangsung hanya 3 hari dan menampilkan pertunjukan teater tentang dongeng barbie setiap harinya. Barbie World Fest. Semua tentang barbie ada disini. People magz sudah seharusnya meliput event yang luar biasa ini. Pihak kantor hanya menyediakan 3 tiket masuk untuk orang yang terpilih. Rhea dan Indie termasuk dalam daftar 3 orang yang beruntung itu. Dan tentu saja, satu orang lainnya adalah seorang wanita juga. Untungnya, orang itu bukanlah salah satu dari sekian banyak haters yang dengan konsisten menghujat Rhea. What a relieve. “I can see u put some interest to Agha too lately...” Indie berbicara pada Rhea dengan suara pelan saat mereka sedang berada di dalam kendaraan yang disediakan kantor. Rhea hanya tersenyum. “Give it up, bitch ! ”Ujar indie lagi. “Why should i...? its fun...”sahut Rhea tanpa menoleh memandang indie yang tengah duduk di sebelahnya. “Now u sound like real bitch...” Ujar indi lagi. Rhea kembali tertawa “u made me... so please enjoy it...”. Indie ikut tertawa dan kembali menyahut “Theres no way he would fall for a bitch like u...”. Rhea tidak menjawab. Dia lebih tertarik untuk mengecek ponselnya yang baru saja mengeluarkan bunyi pendek tanda ada pesan masuk. “How would u know...” ujarnya kemudian. Dia berhenti sejenak, memastikan bahwa indie tidak bergerak memeriksa ponselnya juga. Lalu dengan memasang senyuman termanis, Rhea menunjukkan layar ponselnya pada Indie, “I think he missed me...” Rhea berkata dengan nada mencemooh. Senyuman indie akhirnya menguap begitu saja. Di layar ponsel itu tertera nama Agha. Lelaki itu benar – benar mengirim pesan untuk Rhea ? Meskipun indie tidak bisa melihat apa isi pesan tersebut, namun pikirannya sudah terlanjur berantakan dan dia kewalahan mengatur emosinya sendiri. Buru – buru dia memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan dari Agha. Gadis itu semakin kalut dan dengan susah payah berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang betapa tidak pentingnya pesan teks itu. Sementara Rhea tersenyum memandangi layar ponselnya. Why cappuchino ? with extra cream ?. why suddenly he care to ask. Rhea lalu mulai mengetik dan mengirim pesan balasan gay tends to like what girls like. sent ! Akhir – akhir ini menaruh kopi setiap pagi di meja kerja Agha adalah rutinitas baru Rhea. Sudah hampir satu minggu dia menyempatkan diri untuk mampir di coffee house memesan cappuchino untuk Agha. Gadis itu selalu menempelkan post it di gelas kopi dan menuliskan pesan pendek untuk menyapa lelaki itu. Good morning. did u sleep well ? , Good morning. lets work hard today ! atau kata – kata sejenis itu. Tapi pagi ini dia menggambar siluet Barbie dan menulis Im gonna see barbie today, let me know if u want me to say hi for u. Dan akhirnya Agha benar – benar mengiriminya pesan. Setelah bergelas – gelas kopi, dan berlembar - lembar post it. Agha akhirnya memutuskan untuk mengiriminya pesan singkat. But why does it feel so good ? Kenapa rhea merasa senang mendapat pesan yang amat sangat singkat dan tidak berarti apa – apa itu ? That man really feels like a dilemma buat rhea. Separuh dirinya merasa begitu terluka dan dipenuhi rasa bersalah. This isn’t right. She put a lot of effort for this man, and that is felt so wrong. She doesn’t even love that man for real. Seharusnya hanya Titan yang boleh medapat perlakuan seperti ini darinya. Rhea bahkan hampir berteman baik dengan Kevin dalam rangka merebut hati Agha ini. Dia datang ke kafe tempat Kevin bekerja setiap kali Agha datang kesana. Saat akan break makan siang, Rhea selalu mengirimkan gambar makanan sehat dan alamat resto sebagai rekomen. Memesan air mineral extra dan ice tea di pantry untuk Agha. Dan masih banyak lagi. She did that. Blink ! Ponsel Rhea kembali mengeluarkan suara memberitahukan bahwa ada pesan baru. Indie dengan cepat melirik Rhea. Dari senyuman Rhea, dia tahu itu pasti Agha. I know now that I realy am too awesome. They spread that rumor to make me more like human. Rhea tertawa membaca pesan itu. Dia tau seharusnya dia tidak sesenang ini. Tapi dengan keberadaan indie di dekatnya saat ini, kadar kebahagiaannya justru semakin meningkat. “akhirnya sampe...” terdengar suara dari kursi depan. It’s the driver. Mia, gadis yang sedari tadi duduk di sebelah sopir itu dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Sementara indie dan rhea masih butuh waktu untuk merapikan pikiran mereka masing – masing dan menyadari bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan. Barbie world fest. Rhea dan Indie buru – buru turun dari mobil. Mereka lalu berkumpul untuk membagi tugas dan menentukan tujuan masing – masing. Rhea harus mendatangi beberapa tempat yang menyenangkan. Itu sudah diputuskan pada pertemuan kemarin. Dimana Rhea dan Indie mati – matian mempertahankan argument mereka masing – masing seperti jaksa penuntut umum dan pembela di pengadilan. Well, mereka berdua akhirnya sama – sama mendapatkan kesempatan untuk pergi.
Rhea berkeliling melihat – lihat, mencoba, dan mencatat segala hal yang dia perlukan untuk liputan di majalah. Mengambil beberapa foto sudah pasti. Tugas Rhea jauh lebih menyenangkan daripada Mia yang harus mewawancarai sang pembuat event. Sementara Indie harus menghadiri pertunjukan teater. Barbie world fest ini benar – benar impian para gadis kecil di seluruh dunia. Segala tentang Barbie ada disini, terwujud dalam dunia nyata. They can even dressed like Barbie and take a picture of it. Rhea tersenyum. Dia memang bukan pecinta Barbie. Tapi melihat para gadis kecil yang begitu bahagia seolah menjadi Barbie dan masuk ke dalam dunia dongeng, membuatnya dipenuhi perasaan bahagia. Dia ingat betapa dia menyukai cerita peter pan saat dia masih kecil dulu dan begitu terobsesi pada neverland. Saat ini dia bahkan membayangkan jika dirinya bisa benar – benar datang ke neverland. Rhea kembali berkeliling dan mengambil beberapa foto yang diperlukan. Dia kemudian berhenti di depan salah satu pintu. Should she come in again ? setelah berpikir beberapa saat, Rhea akhirnya memutuskan untuk masuk. Tempat itu adalah ruang studio. Para gadis cilik berganti kostum dan berfoto disana. Rhea memandangi gadis kecil berkostum Barbie yang sepertinya baru saja selesai foto. It’s Mariposa. How cute... She’s the reason why Rhea come in to this room again. Rhea melihatnya dari luar dan berpikir bahwa dia harus mengambil beberapa foto gadis kecil ini. “Hai Mariposa...” Sapa Rhea lalu, gadis kecil itu tampak malu – malu. Looks sparke somehow. “Hai...” Gadis itu menjawab dengan malu – malu. Rhea tersenyum dan kemudian duduk disampingnya. Tidak lama kemudian, dia sudah berhasil membujuk gadis kecil itu untuk berfoto lagi. Setelah mengambil beberapa gambar, Rhea lalu menuliskan sesuatu di atas kertas dan memberikannya pada si kecil mariposa. “satu kali lagi...” katanya lalu. Gadis itu mengerti dan menunjukkan kertas itu kea rah Rhea. Kali ini Rhea mengambil gambar dengan kamera ponselnya. “Thank u, mariposa...” Rhea tersenyum dan memberikan cupcake barbienya pada gadis kecil itu setelah menyelesaikan urusannya. Gadis itu berlari ke pelukan ibunya dan melambaikan tangan pada Rhea. Rhea balas melambai. Dia lalu kembali memeriksa pesan di ponselnya. Dia tidak membalas pesan dari Agha tadi. Have u decide it ? whether u want me to say hi or not ? Rhea memencet enter dan mengirim pesan pada Agha. Tak berapa lama, ponselnya kembali berbunyi. No Thanks. Rhea tertawa. Dia lalu kembali mengetik But She said hi to you... Sent ! Rhea mengirim foto si mariposa cilik pada Agha. Gadis itu membawa kertas bertuliskan “Hi... Did u enjoy the cappuchino ?” yang tadi ditulis oleh Rhea. Agha membalas Tell her, she’s my type. Rhea tertawa, dia tidak membalas lagi.
Rhea tersenyum geli memandangi foto dirinya di layar ponsel. Dia akhirnya memutuskan untuk memakai kostum dan berfoto seperti para pengunjung lainnya. Tentu saja dia bukan satu – satunya wanita dewasa disini. Dia harus menjadi model sukarelawan dan berfoto bersama anak – anak kecil untuk bisa memakai kostum ini. Beberapa model lainnya hanya tersenyum melihatnya. Dia bahkan berkenalan dengan para model import itu pada akhirnya. Rhea mengirim fotonya yang berkostum Barbie dan membawa kertas bertuliskan “Am I close to ur type now ?” kepada Agha dan tertawa sendiri membayangkan reaksi agha melihat kelakuannya ini. Tak lama, ponsel Rhea menerima pesan baru. Dengan cepat Rhea memeriksanya. Dari Mia, Done yet ? Ketemu di kafe yaa... Rhea lalu bergegas bangkit dan berjalan menuju kafe yang dimaksud Mia. Sudah tidak ada yang bisa dia kerjakan lagi. “Rhe...!” Rhea mendengar seseorang memanggilnya. Tampak dari kejauhan Mia melambaikan tangan padanya. Indie tidak ada disana. Apa pertunjukannya belum selesai sampai jam segini ? “Indie balik duluan tadi... Dia bilang mau naik taksi ke kantor...” Seolah bisa membaca pikiran Rhea, Mia langsung menjelaskan begitu Rhea sampai di dekatnya. Rhea hanya tersenyum. Keliatannya Indie sepanik itu mikirin Agha. Dari tempat ini ke kantor butuh waktu satu jam. Belum lagi kalo kena macet. Segitu mendesaknya kah urusan Indie di kantor sampai harus rela menghabiskan uang untuk taksi ? “kapan dia balik ?” Tanya Rhea pada Mia. Gadis itu melihat arloji di tangannya “baru 15 menit yang lalu... Tadi si gue bilang kita barengan aja... Biar gue hubungin lo dulu, udah kelar apa blm... Tapi dia bilang takutnya lo masi lama, jadi balik duluan pake taksi...”jelas Mia. Rhea benar – benar ingin tertawa ngakak mendengarnya. Tapi cukup lah dia menertawakan Indie dalam hati. “Nggak buru – buru kan rhe ? Kita makan dulu aja gmna ?” Mia menyodorkan menu pada Rhea dan meminta persetujuan untuk memesan makanan. Rhea mengangguk. Dia juga sudah amat sangat kelaparan sedari tadi... Hanya sempat makan satu cupcake. Blink ! ponsel Rhea berbunyi lagi. Rhea tidak terlalu mempedulikan. Baginya, memesan makanan secepat mungkin adalah prioritas utama saat ini. They r all look tasty... Rhea bingung memilih salah satu dari menu yang ada. Saat sedang lapar, semua pasti terlihat enak. “buru dong rhe... biar cepet diproses...” Mia berkata sambil tertawa, dia sepertinya tau kebingungan rhea. Akhirnya rhea memilih salah satu menu dari sekian banyak hidangan yang menarik perhatiannya. “handphone lo kedip – kedip tu...” Mia mengingatkan, rhea lalu memeriksa ponselnya yang tadi sempat berbunyi. Dari Agha. Membuatnya kembali teringat pada Indie. Dibukanya pesan dari sang prince charming yang begitu controversial itu. Rhea terkesiap. Dibacanya lagi nama pengirimnya dan isi pesan itu. Should we start dating ?. Realy ? That man wrote this ? What got into him ?

***

Selasa, 02 Juli 2013

a girl who can't breakup, a boy who can't leave (part 2)

Seems like Rhea nggak main – main dengan pernyataannya kemarin dulu. Saat dia bilang akan mengabulkan kata – kata para haters di kantornya,dia sudah mantap untuk benar – benar melakukannya. Hari ini genap sudah 1 minggu sejak insiden itu. Rhea muncul di kantornya dengan transformasi yang cukup menggemparkan. Dia bahkan keluar dari mobil grand new fortuner silver dengan elegan dan menggandeng seorang pria tampan yang mengantarkannya sampai ke pintu masuk. Ada banyak orang yang menyaksikan momen aneh bin ajaib ini. Selama sautu tahun bekerja di kantor ini, Rhea adalah gadis yang paling tidak menarik dan tidak pernah mencoba untuk menjadi menarik. Jeans, shirt, dan kemeja biasa adalah lebih dari cukup untuknya.wajah selalu polos, sepatu sneakers, dan hair style yang tidak pernah berubah; kuncir kuda. Sepertinya Rhea yang seperti itu tidak akan ditemukan lagi mulai hari ini. Itik buruk rupa sudah bertransformasi menjadi angsa.
Tidak ada seorangpun di kantor ini yang tidak terkejut. Tidak seorang pun. Termasuk indie dan kawan – kawan. Terlebih lagi Fairuz, wanita yang mengumpatnya di kamar mandi seminggu yang lalu, kini harus menahan air mata mendengar pembicaraan teman – temannya yang menyaksikan kedatangan Rhea pagi tadi bersama Arya, lelaki tampan yang baru saja memutuskan hubungan dengan Fairuz 2 hari yang lalu. Indie pun tampaknya sangat terkejut mendengar berita itu, dimana seharusnya dia menjadi orang yang paling masygul, mengingat dialah orang yang telah menyebar gosip tentang Rhea. “total bitch !” Fairuz berusaha menahan air matanya dan berkali – kali mengumpat Rhea. “Gue mesti samperin dia !” Fay tiba – tiba bangkit dari tempat duduknya dan bergegas mencari Rhea, teman – temannya terkejut dengan reaksi yang tiba - tiba itu dan buru – buru mengikutinya. “Fay, fay, tunggu dulu fay... lo gk boleh bikin ribut dsni...” Indie menarik tangan Fairuz tapi gadis itu menepisnya. Dia terus saja berjalan dengan cepat dan penuh emosi munuju tempat Rhea bekerja. Brak !!! Fairuz menggebrak meja kerja Rhea dan berusaha mengatur nafasnya yang terengah – engah. “Hehh, racun lo !!! Lo pikir lo bakalan bisa ngerebut Arya dari gue ??!!! Gk ada malunya lo goda – godain cowok orang !!!”Fairuz meledak. Emosi yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah ruah begitu dia bertemu Rhea. Indie dan teman – temannya yang lain hanya diam menyaksikan kemarahan Fairuz. “lo nanya apa tadi ? apa gue bisa ngerebut arya dari lo ? BASI !!! Arya udh putusin elo, trs dtg ke gue, mau bukti apa lagi lo ???” Rhea berkata seraya tertawa sinis. Fairuz tidak menjawab, pikirannya sibuk mengutuk dan mencari jawaban yang tepat.Tapi Rhea dengan cepat melanjutkan “see... i said i can b bitchy if u want it... I’ve been VERY patient to u... but even ants bite if u step on it...”Rhea lalu melangkah pergi meninggalkan Fairuz dan kawan – kawan dengan membawa map berisi naskah setelah menyelesaikan kata – katanya. What a Joy... Rhea tersenyum sendiri, merasakan kemenangannya atas para gadis yang telah membuatnya begitu sakit hati beberapa bulan ini. She can tell that the other women get the fear too...
***


2 minggu berlalu sejak kemunculan pertama Rhea dengan style barunya. Kendala yang menghalangi pertemanannya dengan pimred sekarang hilanglah sudah. Mr Jan hampir tidak bisa mengenalinya saat pertama kali dia muncul dengan tampilan barunya. “Rhea ? That Maeve Rhea ?” tanya Mr Jan dengan suara berbisik pada asistennya yang kemudian dibalas dengan anggukan. Rhea hanya tersenyum. Dia bahkan sangat serius dengan keputusannya untuk melakukan revenge. That’s why she’s here now. Duduk manis di sebuah book cafe berwifi, mengawasi dua orang pria yang tengah asyik mengobrol dengan membawa laptop masing – masing. Salah satu dari pria itu bernama Agha, yang dicurigai sebagai pria idaman indie belakangan ini. Seems like indie really truely in love this time. Tampan, tinggi, dan pintar. Meski bukan lelaki kaya seperti tipe pria incaran indie biasanya. Tanpa mengeluarkan effort yang besar, Rhea akhirnya berhasil mendapat undangan untuk bergabung bersama para pria tersebut. Kevin, teman lelaki Agha yang sepertinya begitu tertarik untuk mengobrol dengan Rhea yang akgirnya berbaik hati menawarinya untuk duduk bersama. Mereka membicarakan kerjaan, Agha tetap asyik dengan laptopnya. Mereka membahas film dan buku, Agha masih terlihat enggan untuk ikut mengobrol. “Bentar yaa, gue terima telpon dulu.” Kevin akhirnya meminta izin untuk menerima telpon, dan tinggallah Rhea berdua dengan pria yang menjadi targetnya itu. Lelaki pasif dan pendiam. Cenderung gay. Benar – benar jauh dari standar pria seorang Indira Putri. Tapi pria semacam ini bukannya tidak mungkin untuk didekati. Meskipun Agha masih saja seperti orang bego yang tidak bisa menangkap semua sinyal yang telah diberikan oleh Rhea. “Gha, kamu gk suka yaa aku gabung disini bareng kalian...?” tanya Rhea akhirnya. Agha kembali tertawa kecil yang terdengar seperti tawa meremehkan bagi Rhea. Ooohh fine ! I can make you fall for me and begging me to love you back ! You wait and see, kid ! “Hai again...”Kevin kembali duduk bersama mereka setelah menyelesaikan urusan telponnya. Rhea membalas dengan tersenyum. “Aku ke belekang sebentar yaa...”Giliran Rhea yang berdiri dan meminta izin untuk pergi ke kamar kecil. Gadis itu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Namun baru saja dia membuka pintu, seseorang dengan cepat mendorongnya untuk segera masuk dan kemudian mengunci pintu. Rhea berbalik dengan cepat untuk melihat siapa orang di belakangnya yang baru saja mendorongnya masuk. Agha !!! Apa yang cowok itu lakukan di dalam ladies room ??? Dia bahkan mengunci pintunya. Rhea memandang cowok itu dengan dengan expresi terkejut sekaligus takut. Cowok itu berjalan mendekat dan membuat Rhea terpojok. “U think i dont know why u came here dressing like that and try to flirt with me ?”Aga akhirnya membuka suara. Rhea tidak bersuara. Dia masih begitu terkejut melihat lelaki yang satu menit yang lalu masih menjadi lelaki pasif dan pendiam baru saja mengikutinya masuk ke dalam ladies room dan membuatnya terpojok seperti ini. Dia juga bisa melihat tatapan Agha yang berubah bengis dan sadis. “Lo pikir gue gk tau kalo lo berusaha ngedeketin gue buat manas – manasin Indie...?” Kali ini disertai tawa sinis dan mengejek, lalu kembali menambahkan "Should i make it real for you then...?". Rhea terkejut bukan main. Dia bisa merasakan perubahan suhu tubuhnya yang mendadak jadi panas. Dia ketauan !
***

Kamis, 27 Juni 2013

a girl who cant breakup, a boy who cant leave (part 1)

Kata pepatah... “Dunia kerja adalah dunia yang kejam”. Kalimat itu tidak muncul begitu saja tanpa sebab musabab yang jelas. Well, theres a reason for it... Setelah kau memasuki dunia kerja, ada beberapa hal yang perlu kau pahami... Jika kau cantik, segalanya akan terasa sulit untukmu... Jika kau pintar, orang - orang akan berusaha menendangmu keluar... Jika kau pernah membuat skandal, jangan harap kehidupan sosial di kantor akan berjalan dengan tenang dan damai... Well, mungkin tidak semua kantor menganut paham seperti itu. Tapi bagi Rhea, itulah realita dunia perkantoran. Kejam dan menyakitkan. Bukan karena Rhea kelewat cantik. Bukan juga karena dia kelewat pintar. Dengan tampilan boyish yang sama sekali tidak memiliki sense fashion itu, aneh rasanya jika ada lelaki yang kembali melayangkan pandangan padanya setelah melengos pandangan pertama. Besides, di kantor ini, wanita cantik dan sadar fashion ada banyak bertaburan bagai meises coklat di atas donat. Lalu untuk kategori pintar...?? Rhea memang memiliki kinerja yang sangat baik, karirnya pun berjalan mulus... Tapi tidak cukup cemerlang untuk menjadi musuh bersama di dalam kantor yang megah ini. Satu – satunya alasan yang membuat Rhea begitu dibenci oleh para wanita cantik di kantor ini adalah Indie. Wanita cantik modis dan pintar ini adalah rekan sesama tim kreatif rhea. Jika dilihat secara kasat mata, tentu tidak ada alasan bagi Indie untuk membenci rhea. Mereka begitu jarang bertegur sapa hingga akhirnya rhea menemukan fakta bahwa indie ternyata berpacaran dengan Rio, sahabat terbaik rhea sepanjang masa. Kalau saja rhea tidak melihat indie dengan laki – laki lain setiap kali mereka pulang kantor, tentu dia tidak akan keberatan indie berpacaran dengan rio. Dan cerita berikutnya berjalan sebagaimana mestinya. Rhea menjadi orang yang paling sering dibicarakan di kalangan para wanita, dimulai sejak indie dicampakkan oleh Rio. Kehidupan kerja tidak lagi mudah bagi rhea setelah insiden itu. Banyak yang berbisik menyebutnya jalang dan memberi predikat backstabber, spesialis tukang tikung, dan berbagai panggilan yang tidak akan pernah terdengar indah di telinga siapapun. Indie telah kehilangan pacar dengan tabungan dan kartu kredit terbanyak yang pernah dia miliki. Thats why, kebenciannya terhadap rhea menjadi begitu mengerikan.
“Kalo gue jadi elo rhe, mending gue berenti kerja daripada tiap hari makan hati begini... gue kawinin itu si rio... terus hidup bahagia di depan idungnya indie...” Rhea hanya mendesah mendengar kata – kata alin, office girl yang begitu setia menemaninya setiap kali dia harus lembur karena ulah indie akhir – akhir ini. “lo pikir kawin itu macem orang main bekel...?? bisa seenak udel gitu... lagian si rio kan sohib gue... bukan pacar gue...” rhea menjawab ketus. Otaknya sudah mulai buntu... Tapi deadline tidak bisa diganggu gugat... Alin gantian mendesah panjang “Hari gini rhe... lo pikir masih ada itu yang namanya sohib laki ama perempuan...”. kali ini rhea tidak menjawab. Dia bosan mendengar pernyataan semacam ini. Orang – orang selalu meragukan persahabatannya dengan rio. Dan topik seperti ini lah yang akhir – akhir ini membuat kupingnya panas. Sepertinya sedikit lagi rhea akan meledak.
***
Rhea menatap layar ponselnya, memandangi nama rio yang tertulis disana. Haruskah dia menelpon sahabatnya itu untuk berkeluh kesah ? Ini sudah yang ketiga kalinya. Indie mencuri ide dan hasil kerja kerasnya. Gadis licik itu melakukannya dengan sangat baik kali ini. Rhea mengatur nafas untuk menenangkan hati dan pikirannya. You’ll lose if u cry. Rasanya tidak tepat bercerita pada rio tentang hal ini. Baru 2 bulan sahabatnya itu putus.
“ Yea... Like i care... what a rubbish rumor...” rhea mengangkat kepalanya dan beralih menatap pintu toilet tempatnya berada sekarang begitu mendengar suara yang begitu dibencinya itu. Indie. Gadis itu sedang berbicara dengan seseorang. Ladies room memang seringkali beralih fungsi menjadi ruang gosip. Sepertinya tidak ada yang tahu keberadaan rhea di dalam salah satu toilet saat ini.“problematika pria tampan ndie...” sahut temannya yang lain yang disusul suara cekikikan gadis – gadis yang lain. “hati – hati aja lo... si bitchy pasti lagi mengintai...” masih suara yang sama. Tidak ada yang mendapat panggilan itu di kantor ini selain rhea. Bitch ! “lo aja yang hati – hati... kalo bisa pasangin alarm tu cowok lo... she sleeps with everyman for free... menurut lo apalagi yang bisa dia lakuin bwt menarik perhatian lelaki...? kualifikasi fisik dan penampilan... lo tau sendiri lahh kayak apa... no style, no fashion, tampang paspasan !” itu suara indie. What a snake ! Harus bagaimana rhea bereaksi terhadap kata – kata ini ? Apalagi yang tersisa untuk rhea di kantor ini ? pekerjaan berantakan, nama baik dan kualitas kerjanya had flied through a window, dan lagi dia sekarang menjadi orang yang terpinggirkan dalam kehidupan sosial kantor. Pride is the only thing she has now. Jika dia keluar dari kantor ini, sama saja dengan mundur dan mengakui semua tuduhan orang terhadapnya, mengakui bahwa dirinya incompetent, dan akhirnya satu – satunya yang dia miliki sekarang akan ikut menghilang. Dia tidak boleh mundur dengan meninggalkan kesan yang seperti ini. Tidak dalam keadaan begini. Rhea membuka pintu toilet dan melangkahkan kakinya dengan berat hati, melewati orang – orang yang baru saja berbicara buruk di depan cermin tentang dirinya. Meskipun orang – orang itu sudah secara terang – terangan membenci dirinya, tetap saja mereka tampak sedikit terkejut dengan kemunculan rhea yang begitu tiba – tiba dari dalam toilet. “whore...” terdengar suara yang dengan pelan mengumpat di belakang. Rhea menghentikan langkahnya. Thats it ! enough !! Lets do this war. dengan cepat rhea berbalik dan mendekati sumber suara yang membuatnya naik darah itu. “of course, i can b bitchy... you shud start to feel insecure from now on...” rhea berhenti untuk mengambil nafas. Dilihatnya wajah lawan bicaranya. Gadis itu tampak sangat terkejut.“ be careful what u wish for !” rhea berkata tanpa ragu lalu kembali berbalik dan meninggalkan ladies room secepat mungkin.
***
Meskipun berpenampilan lusuh dan seadanya. Maeve Rhea Irdina bukannya orang yang buta fashion. Sama sekali bukan ! Dia juga bukan wanita yang tidak tahu bagaimana caranya menggunakan make up dan bagaimana memilih pakaian yang bagus. Bertahun – tahun yang lalu, bahkan mungkin sebelum para wanita modis di kantornya tau bagaimana cara berdandan dengan benar, dia sudah terbiasa berdandan dengan cantik dan modis. Hanya saja, setelah cinta pertamanya pergi begitu saja, rhea akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukan semua itu. Lelaki seperti titan, cinta pertamanya yang begitu sempurna, tidak menyukai gadis semacam rhea. That kinda man tend to fall in love to a smart girl who dressed naturally... gadis yang bersinar karena kecerdasannya dan tidak mudah terbawa arus. Dengan kata lain, anti mainstream. Karena itu rhea memutuskan untuk berhenti hidup seperti carrie bradshaw dan kawan - kawannya. Titan selalu memandang sebelah mata pada wanita – wanita semacam itu. Rio tahu tentang ini. Karena itu, saat rhea tiba – tiba muncul di hadapannya dan berkata “buy me some clothes !”, cowok itu mengabulkan permintaan rhea tanpa ragu. Dia tahu, pasti terjadi sesuatu pada gadis itu. “what happenned ?” tanya rio akhirnya setelah mereka selesai belanja dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di coffee house favorit mereka. Rhea hanya mendesah panjang. “lo lagi jatuh cinta ?”tanya rio lagi. Kali ini terdengar lebih mendesak. “lo tau... bahkan innocent people sekalipun, kalo tiap hari ditereakin maling, bisa berubah jadi maling beneran...” Rhea akhirnya buka suara. Tapi rio tampaknya tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh sahabatnya itu. “ngomong apa si lo ?” Rio mulai tidak sabaran. “Gara – gara lo ! sekarang gue dapet predikat bitch, whore, and slut dari para fashionista kelas atas di kantor gue... mereka tu kayak nggak ada capeknya tiap hari ngatain gue tukang tikung lah, cewek penggoda lah, ato sebutan – sebutan laen hasil kreasi mantan lo itu...” rhea berhenti. Dia lalu kembali melanjutkan “trus menurut lo... gue mesti gimana coba ?”. Rio mengerutkan kening. Sepertinya dia masih belum yakin apa yang sedang dibicarakan oleh rhea. “kata – kata adalah doa boy ! im gonna grant their wish... dan satu lagi! gk peduli sekuat apa gue berusaha untuk menang dari mantan lo, selama pimred gue masih orang itu, lelaki yang begitu menghargai fashion, sampe modar juga gue gk akan menang dengan tampilan yang jujur seperti ini”Rhea bisa melihat perubahan ekspresi di wajah sahabatnya itu karena apa yang baru saja dia katakan. You wont b serious...
***

Senin, 29 April 2013

Ini Gila !!!

Ini Gila !!!
Mereka pikir aku matre...
Melihat orang dengan standar kaya atau kere...

Ini Gila !!!
Orang bilang aku sok cantik...
Bertemu manusia tampan baru bisa asyik...

Ini Gila !!!
Dengar - dengar ada yang bilang aku idiot...
Sok pintar padahal otak super lemot...

Ini Gila !!!
Semua orang percaya kalau aku pecundang...
Dicemooh, dimaki, bahkan harga diriku pun ditendang...

Aku pikir Ini Gila !!!
Semua yang mereka pikirkan tentang aku...
Dan betapa mereka meremehkan mimpi dan masa depanku...

Andai Tuhan mengirim seseorang...
Yang begitu mendengar... 
Akan berkomentar... 
"INI GILA !!!"


~Sekedar Posting~
 
Copyright (c) 2010 A Girl Like Me and Powered by Blogger.