Agha mungkin tidak serius dengan sms yang tadi sore
dikirimnya itu... Mungkin juga laki – laki itu salah mengirim sms yang
seharusnya ditujukan untuk orang lain... bagaimana mungkin lelaki yang baru
saja mengajaknya berkencan melalui pesan singkat sekarang bertingkah seolah –
olah tidak mengenalnya. Dia mengobrol dan tertawa dengan orang lain tanpa
sekalipun menoleh padanya. Yaahh oke, Rhea memang tidak membalas pesan itu,
tapi bukan berarti dia tidak mau... Dia ingin berbicara langsung dengan pria
itu begitu sampai di kantor. Tapi saangnya dia dan mia tidak berkesempatan
untuk menginjakkan kaki di kantor sepulang dari festival Barbie. Macet sudah
pasti jadi alasan. Dan juga... malam ini semua orang pulang cepat untuk makan
malam bersama di kafe yang katanya langganan indie. That woman... Rhea yakin,
tadinya dia hanya ingin mengajak Agha makan malam bersama. Dan ntahlah
bagaimana scenario yang terjadi hingga akhirnya dia membawa semua orang ke kafe
ini. Bahkan Mia yang masih dalam perjalanan menuju kantor pun mendapat pesan
untuk ikut bergabung, gadis itu akhirnya dia meminta driver untuk langsung mengantar
mereka menuju TKP. Setelah hampir satu jam sejak Rhea datang ke kafe ini, tidak
sekalipun Agha berusaha untuk menghampirinya, menoleh pun tidak. “Rhe, tadi lo
ke kantor bawa kendaraan ?” Rhea buru – buru mengalihkan pandangannya dari Agha
dan menatap Mia yang baru saja bertanya padanya. “mm...? nggak, gue naik angkot
tadi...”Mia mengangguk – angguk mendengar jawaban Rhea, gadis itu lalu menyahut
“soalnya driver udah gue suruh balik tadi... Jadi kalo lo bawa kendaraan, biarin
nginep aja d kantor malem ini... terus lo balik naek apa ntar ? kemaleman kalo
mau naik angkot... gue ada jemputan, lo mau ikut ?” Rhea tersenyum, ternyata masih
ada orang selain Alin bersikap baik padanya di kantor. Hanya saja mereka berada
dalam Tim yang berbeda dan sangat jarang bertemu. “Gampang deh ntar gue minta
jemput temen gue...” Jawab Rhea. Mia kembali mengangguk. “Gue ke toilet dulu
yaa...” Ujar Rhea lagi seraya bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu lalu
berjalan mencari kamar kecil yang ternyata berada di luar bangunan kafe. Kamar
kecil itu menyatu dengan bangunan kafe namun pintu masuknya berada di luar.
Rhea membuka pintu salah satu toilet dan kemudian kembali merasakan dorongan
pelan dari belakang yang lagi – lagi membuatnya hampir jatuh terjembab. Dengan
kesal Rhea menoleh ke belakang. Agha sudah menutup pintu dan berdiri di
hadapannya. What again...?! “Apaa ??” tanya Rhea dengan nada sedikit kesal. Kenapa
lelaki ini suka sekali mengikutinya ke toilet...? “u have to answer if somebody
ask u out...” Agha akhirnya buka suara. Rhea menatap laki – laki itu tidak
percaya. Pria itu sedang membicarakan sms terakhirnya. Lelaki macam apa yang
membicarakan masalah cinta di tempat seperti ini ?? “Harus yaa kita ngomongin
ini di toilet ?” jawab rhea cepat. “Mau lo
kita ngomongin ini sambil candle light dinner di tempat yang romantis ? Yang
seperti itu hanya berlaku bagi orang yang saling mencintai. Apa kita saling
mencintai ?” Agha berkata seraya tertawa kecil. Rhea mengerutkan kening lalu
menggeleng pelan. Jadi apa intinya ??? “Here... Lets make an engagement...”Agha
menjulurukan tangannya dan menunjukkan sebuah cincin pada Rhea. Gadis itu
terkejut. What is it a proposal ???
***
Agha
akhirnya bersedia menjadi kekasih Rhea. Dengan syarat, hanya Agha yang boleh
memutuskan hubungan. Hingga rumor gay, yang akhir – akhir ini semakin keras
terdengar, menghilang tanpa bekas. Laki-laki itu juga memberikan cincin
padanya. Semakin terlihat serius, akan semakin bagus. Rhea setuju tentu saja.
Hubungan ini menguntungkan kedua belah pihak. Tapi hanya adil jika Rhea juga
mengajukan Syarat. “Deal... in one condition... cuma adil kalo lo bisa buat
setidaknya setengah dari para haters gue, jatuh cinta sama lo...”dan tentu saja
Agha tidak keberatan dengan itu. Dia berkata akan berusaha melakukan yang terbaik.
Cincin hanya akan dikenakan jika license and agreement tersebut sudah
terpenuhi. Akan terlihat janggal jika sebuah cincin tiba – tiba saja sudah
bertengger cantik di jari manisnya.
Orang
– orang mungkin tidak akan pernah tau... Alasan kenapa Agha merubah hair style
dan penampilannya akhir – akhir ini. Dia tidak bercanda saat menyetujui
permintaan Rhea untuk tebar pesona di kantor... Dan sepertinya hal itu tidak
terlalu susah untuknya. Saat dia muncul dengan penampilan barunya, para wanita
mulai heboh membicarakannya. Saat dia bersikap seperti lelaki bermanner tanpa
mengumbar senyum murahan, setidaknya 3 dari 5 wanita di kantor mulai tertarik
dan memperhatikannya. Kemudian saat dia membiarkan para wanita melihatnya tertawa
bersama presdir dan staff lainnya di acara pesta ulang tahun presdir sekaligus
perayaan atas goalnya proyek acara televisi baru PMagz malam ini, para wanita
menarik napas panjang dan menikmati kekaguman mereka dalam diam. Lalu saat
akhirnya Agha menyingsingkan lengan kemeja putihnya dan beranjak ke atas
panggung di pojokan kafe untuk memainkan piano, maka terjatuhlah para wanita
yang ada di dalam ruangan itu dalam pesona seorang Agha. Creep. Dan chopin’s
waltz sesuai permintaan sang boss yang merupakan seorang pecinta musik klasik. Setelah
menyelesaikan waltz-nya, Agha akhirnya bersuara “is it okay if i play one more
song ?” lalu para penonton bersorak mempersilahkannya. Agha melanjutkan “This
one is for my...”Kali ini dengan menyertakan senyuman yang begitu manis. Racun.
Dia membiarkan kalimatnya menggantung dengan sengaja. Satu senyuman sudah cukup
memberi tahu semua orang kepada siapa permainan pianonya itu akan ditujukan. Must
be a lover... Seseorang yang istimewa... “I heard women like this song...”
sambungnya, lalu mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano. A thousand years
by christina perry... Yes. Women like this... Dan agha mulai bernyanyi. Melengkapi
rentetan pesona yang telah ditebarkannya beberapa hari terakhir. Bahkan Rhea
sebagai satu – satunya orang yang tau rencana Agha merasa begitu terhanyut pada
musik yang didengarnya malam ini. Namun dengan cepat gadis itu mengumpulkan
kembali kesadarannya yang perlahan – lahan menghilang. Tidak lucu kalau dia
sampai ikut terlena. Sama artinya dengan terjatuh pada lubang yang dibuatnya
sendiri. “well, this aint for me... I I dont have to see it...” Rhea bergumam
pelan pada dirinya sendiri, cukup keras untuk dapat didengar oleh Mia yang
duduk di dekatnya. Gadis itu tersenyum melihat Rhea yang bangkit dari tempat
duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan ruangan yang sedang berada di
bawah pengaruh sihir itu. Sementara Agha yang akhirnya menyelesaikan permainan
pianonya disambut dengan suara riuh dan tepuk tangan seisi ruangan. Lelaki itu
kembali ke tempat duduknya seraya celingukan seolah mencari sesuatu. “Jadi kamu
diem – diem punya pacar ? siapa ?” Mr. Jan langsung menginterogasi Agha begitu
cowok itu sampai di tempat duduknya. Agha hanya tersenyum. Dia menghabiskan
minumannya, lalu mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik. “Saya yakin kamu udah
punya pacar. Cuma saya nggak yakin tentang gendernya...” Mr. Jan mulai tidak
sabar dan mencoba memancing komentar. Agha tertawa. Cowok itu lalu menggeleng “Trust
me, im straight, sir...” jawabnya. Tapi Mr. Jan terlihat masih tidak percaya.
Agha mulai celingukan lagi. “Eh, itu handphone kamu...” Terdengar suara Mr. Jan
lagi. Agha mencari handphonenya di atas meja. Tidak ada. Hingga akhirnya dia
menyadari, barang yang dicarinya sudah berada di tangan Mr. Jan yang melotot
tidak percaya memandangi layar ponselnya. “ini... Maeve Rhea ???” tanya lelaki
setengah botak itu seraya menunjukkan apa yang dilihatnya tadi pada Agha. Layar
ponsel Agha dengan foto Rhea sebagai wallpapernya. Ada panggilan masuk yang
masih berdering, tertulis My Rhe,
tapi Mr. Jan tampaknya enggan memberikan ponsel itu sebelum Agha menjawab
pertanyaannya. Agha kembali tersenyum, “I... think.”jawabnya seraya meminta
ponselnya dengan sopan dan berlalu pergi begitu saja.
***
Rhea
akhirnya kembali kepada style lama yang telah ditinggalkannya kemarin. Celana
jins dan kemeja. Tidak ada lagi rok mini, baju ketat berkerah rendah, dan
segala atribut fashionista yang digunakannya beberapa minggu terakhir. Hanya
saja, Rhea masih mempertahankan hair style dan menggunakan make up ringan nya
di waktu kerja. Agha memintanya untuk menyingkirkan semua itu. “Stop dressing
like a bitch...” And here she come dressing like the old her... Innocent cutie...
Gosip tentang mereka berdua belum tersebar luas di kantor. Meskipun Mr. Jan
sudah mulai tersenyum dan bertanya – tanya pada mereka. Indie still has no
clue. Gadis itu tersenyum lebih sering daripada sebelumnya sejak malam
perayaan. Dan hari ini. Dia kembali tersenyum melihat penampakan Rhea. “Jadi
akhirnya lo sadar kalo Agha itu jauh dari jangkauan lo ?” Tawanya pecah setelah
menyelesaikan kata – kata itu. Rhea tidak menjawab. Saat jam makan siang tiba,
Agha datang menghampiri Rhea dan mengajak gadis itu makan siang bersama dengan
manisnya dihadapan para wanita lainnya. Mr. Jan muncul disaat yang tepat dan
berkata dengan lantangnya “Nahh, I was right... Jadi lagu itu memang buat Maeve
Rhea kan...”. Agha dan Rhea hanya tersenyum. Tidak ada yang buka suara untuk
menjawab. Tapi dari senyuman itu, rasanya semua orang sudah tahu jawabannya. Maka
dimulailah suara dengungan lebah dari para wanita yang menjadi saksi kejadian
itu. They’re mad...
“Are you happy now ?” Agha bertanya pada Rhea setelah
mereka sampai di sebuah resto vegetarian, duduk bersama ditemani segelas ice
lemon dan tomato juice. “Are you...?”balas Rhea. Agha lalu tersenyum. Lebih mirip
cemoohan. “does it hurt ur pride if u answer me first ?” Ujar Agha masih dengan
senyumannya. Rhea menatap lelaki itu dengan seksama. Why is he look different ?
Apa lelaki ini memang menjadi lebih manis atau ini hanya efek malam perayaan
semacam post trauma ? Rhea hanya melontarkan pertanyaannya dalam hati. Gadis
itu lalu menyeruput es lemonnya. “Yes, im extremely happy...” Ujarnya lalu.
Agha hanya mengangguk – angguk. “can i ask a question ?” lanjut Rhea, “u
already ask me a question...” jawab Agha. Rhea mengartikannya dengan go ahead ask ur question. “Why should u
care abt my look...?” Agha menatap Rhea dengan serius “I dont like it if my
girl looks bitchy...”jawab lelaki itu. Rhea menyipitkan matanya. “Jadi kamu
lelaki macem itu juga... Nggak suka kalo pasangannya begitu, tapi suka ngeliat
wanita lain berpakaian minim... But we are not that kind of couple... We dont
love each other... So why...”,”First, Im definitely not that kind of man...”
Agha memotong pembicaraan Rhea. Cowok itu lalu melanjutkan “Second, We r not
that kind of couple, its true. I dont like seeing my woman dressing like bitch,
and i dont enjoy seeing another girl in a sexy dress either. In another word, i
dont like that bicthy kind of woman... Wanita lain berhak memakai apapun yang
mereka suka, i dont care... But my woman... how can i not care...?” Rhea tanpa
sadar menahan napas mendengar penjelasan Agha. Why ??? Why are men like him
hate women like her ? Jadi lelaki charming seperti titan dan agha memang
memandang sebelah mata pada gadis – gadis fashionista ? “But We r not in
love... You dont love me, I dont love you... then why would you care ? u dont
have to take care and protect me...” Rhea bertanya lagi. Dia masih tidak
mengerti. Kenapa agha masih repot – repot memikirkan gaya berbusananya... “Im
protecting my pride... I have dignity. I dont date bitch...” Agha menjawab
singkat. Rhea kembali terhenyak. Itu artinya, di mata seorang Agha, Rhea memang
wanita semacam itu ? Apa penampilannya segitu murahan dan tidak terhormat ?
Tidak pantas untuk seorang Agha ? Jadi hal seperti itu juga yang ada dalam
pikiran seorang titan dulu ? Serendah itukah Rhea ? “Aku pikir semua cowok
pasti bangga punya pacar yang cantik, glamorous, and sexy...” Rhea kembali
menyahut. Mencoba mempertahankan sisa – sisa martabatnya yang baru saja hancur
berantakan karena kata – kata Agha. Lelaki itu hanya tersenyum. Kembali
mencemooh. “Whatever, man... Not me...”sahutnya pendek. Dan habislah sudah
argumen tentang hal ini. This man... Sepertinya memang tidak butuh wanita
cantik untuk membuatnya terlihat hebat. Sebaliknya, dengan ajaib membuat wanita
merasa terhormat berada di sisinya. He’s just that great...
