“He’s
gay, rhe... Everybody in this office seems to know that...”Rhea kembali mendesah
mendengar statement yang baru saja dikeluarkan oleh Alin. That girl, she’s just
an office girl, but she speaks english well. Dulunya dia adalah putri seorang
pengusaha sukses yang dengan rutin mengunjungi negara – negara maju setiap
bulan untuk berbelanja.Sayang ayahnya mengalami kebangkrutan hingga akhirnya
Alin tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Nasib
Rhea sendiri tidak jauh berbeda. Ayah Rhea bangkrut saat dia sedang menjalani
studi sebagai mahasiswi semester akhir. Mungkin itu juga yang menjadi salah
satu faktor kenapa Rhea dan Alin akhirnya menjadi teman dekat. Mereka pernah
merasakan penderitaan yang sama. Dan mereka sedang membicarakan Agha. Sejak
melarikan diri dari Agha di book cafe dua hari yang lalu, Rhea benar – benar
tidak punya keberanian untuk bertemu dengan Agha lagi. Setiap kali gadis itu
melihat Agha, dia dengan cepat menghindar dan menyembunyikan diri sebisa
mungkin. That’s annoying. Ini tidak sesuai rencana. Rhea harusnya berusaha
menarik hati seorang Agha. Tapi untuk saat ini, dia benar – benar tidak tahu
harus bersikap seperti apa jika bertemu Agha. Sekilas profil tentang Agha yang
baru saja dijabarkan oleh Alin. Cowok itu adalah pengasuh arikel Hi-Tech di
people magz tempat mereka bekerja sekarang. Dia Cuma penulis artikel, tapi
kenapa dia bisa mendapat ruangan sendiri untuk tempatnya bekerja di kantor ini
? Jawabannya karena dia adalah orang yang belakangan ini dianggap sebagai
beethoven dalam dunia IT. Setidaknya di negara ini. Orang pintar selalu
mendapat perlakuan khusus. Seringkali mendapat undangan sebagai dosen tamu di
beberapa perguruan tinggi dan sudah menelurkan 3 buah buku yang diterbitkan oleh penerbit buku ternama. Dua buah
buku tutorial dan satu buah buku berisi tips – tips berharga hasil karyanya. Then why such a
person is so willing to work here ??? Apa ini semacam lelucon yang sedang
ditertawakannya sendiri ? Dan berita lainnya tentang pria ini adalah, orang –
orang curiga dia seorang gay. Yang tidak akan pernah terpergok sedang menonton
atau membaca porn, dan tidak akan pernah ketahuan memiliki hubungan spesial
dengan wanita. He’s that kinda man. Dan akhirnya Rhea menyadari, hal – hal
misterius itulah yang akhirnya berhasil menarik perhatian seorang indie dan membuat gadis itu tergila – gila pada
Agha. “lo tau apa yang bikin ini jadi lebih menarik ? gue rasa pasti jauh lebih
mudah buat indie menerima kenyataan dia ditolak Agha karena cowok itu gay,
daripada harus mengakui bahwa seorang Agha yang dikabarkan gay akhirnya
berhasil takluk di hadapan gue.” Rhea tersenyum sendiri membayangkan hal yang
baru saja dikatakannya itu. “Dan itu artinya lo gk bakal kabur lagi kalo ketemu
Agha ?” celetuk Alin cepat. Rhea berpikir sejenak. Senyuman di wajahnya sudah
menghilang. “I will manage it later...” sahut Rhea lalu.
***
No
more hiding from now on. Rhea akhirnya berhasil meyakinkan dirinya sendiri
untuk berhenti melarikan diri dari Agha. Why should she hid herself ? Memangnya
kenapa kalau Agha tau semuanya ? Bukan berarti tertutup kemungkinan Agha bisa
jatuh cinta padanya. Kabur dan bersembunyi seperti pecundang bukanlah gayanya. “Gk
kabur lagi lo ?” Rhea terkejut mendengar suara dari belakangnya dan dengan
cepat berbalik. Agha. Jadi cowok itu sudah tau kalo selama beberapa hari ini
Rhea berusaha kabur setiap kali melihatnya. “Why shud i...??” balas Rhea lalu
tanpa ragu dengan disertai senyuman manis. “u know my intention, so what... i’m
already a bitch here...”lanjut Rhea lagi. Agha hanya tertawa sinis. Cowok itu
sedang mencemoohnya. “So u r gonna keep going ? hillarious...”sahut agha. Rhea
menghela napas panjang, “well... who knows... some people were just born to be
loved. Effortless. Lets say i have that kinda charm in me... Even gay will fall
for me if i want it...” Rhea tersenyum dan kemudian berlalu begitu saja setelah
menyelesaikan kata – katanya.
***
Sesuatu
pasti akan terjadi hari ini. Rhea dan Indie akhirnya harus pergi bersama ke
sebuah event yang diselenggarakan oleh komunitas pecinta barbie international. Event
ini berlangsung hanya 3 hari dan menampilkan pertunjukan teater tentang dongeng
barbie setiap harinya. Barbie World Fest. Semua tentang barbie ada disini. People magz sudah seharusnya meliput event yang luar biasa ini. Pihak kantor hanya menyediakan 3 tiket masuk untuk orang yang terpilih. Rhea dan Indie termasuk
dalam daftar 3 orang yang beruntung itu. Dan tentu saja, satu orang lainnya
adalah seorang wanita juga. Untungnya, orang itu bukanlah salah satu dari sekian banyak haters yang dengan
konsisten menghujat Rhea. What a relieve. “I can see u put some interest to
Agha too lately...” Indie berbicara pada Rhea dengan suara pelan saat mereka
sedang berada di dalam kendaraan yang disediakan kantor. Rhea hanya tersenyum. “Give
it up, bitch ! ”Ujar indie lagi. “Why should i...? its fun...”sahut Rhea tanpa
menoleh memandang indie yang tengah duduk di sebelahnya. “Now u sound like real
bitch...” Ujar indi lagi. Rhea kembali tertawa “u made me... so please enjoy
it...”. Indie ikut tertawa dan kembali menyahut “Theres no way he would fall
for a bitch like u...”. Rhea tidak menjawab. Dia lebih tertarik untuk mengecek
ponselnya yang baru saja mengeluarkan bunyi pendek tanda ada pesan masuk. “How would u know...” ujarnya
kemudian. Dia berhenti sejenak, memastikan bahwa indie tidak bergerak memeriksa
ponselnya juga. Lalu dengan memasang senyuman termanis, Rhea menunjukkan layar
ponselnya pada Indie, “I think he missed me...” Rhea berkata dengan nada
mencemooh. Senyuman indie akhirnya menguap begitu saja. Di layar
ponsel itu tertera nama Agha. Lelaki itu benar – benar mengirim pesan untuk
Rhea ? Meskipun indie tidak bisa melihat apa isi pesan tersebut, namun pikirannya sudah terlanjur berantakan dan dia kewalahan mengatur emosinya sendiri. Buru – buru dia
memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan dari Agha. Gadis itu semakin kalut dan
dengan susah payah berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang betapa tidak pentingnya pesan teks itu.
Sementara Rhea tersenyum memandangi layar ponselnya. Why cappuchino ? with extra cream ?. why suddenly he care to ask. Rhea lalu mulai mengetik dan
mengirim pesan balasan gay tends to like
what girls like. sent ! Akhir – akhir ini menaruh kopi setiap pagi di meja kerja
Agha adalah rutinitas baru Rhea. Sudah hampir satu minggu dia menyempatkan diri
untuk mampir di coffee house memesan cappuchino untuk Agha. Gadis itu selalu
menempelkan post it di gelas kopi dan menuliskan pesan pendek untuk menyapa lelaki
itu. Good morning. did u sleep well ?
, Good morning. lets work
hard today ! atau kata – kata sejenis itu. Tapi pagi
ini dia menggambar siluet Barbie dan menulis Im gonna see barbie today, let me know if u want me to say hi for u.
Dan akhirnya Agha benar – benar mengiriminya pesan. Setelah bergelas – gelas kopi,
dan berlembar - lembar post it. Agha akhirnya memutuskan untuk mengiriminya
pesan singkat. But why does it feel so good ? Kenapa rhea merasa senang
mendapat pesan yang amat sangat singkat dan tidak berarti apa – apa itu ? That
man really feels like a dilemma buat rhea. Separuh dirinya merasa begitu
terluka dan dipenuhi rasa bersalah. This isn’t right. She put a lot of effort
for this man, and that is felt so wrong. She doesn’t even love that man for
real. Seharusnya hanya Titan yang boleh medapat perlakuan seperti ini darinya. Rhea
bahkan hampir berteman baik dengan Kevin dalam rangka merebut hati Agha ini. Dia
datang ke kafe tempat Kevin bekerja setiap kali Agha datang kesana. Saat akan
break makan siang, Rhea selalu mengirimkan gambar makanan sehat dan alamat
resto sebagai rekomen. Memesan air mineral extra dan ice tea di pantry untuk
Agha. Dan masih banyak lagi. She did that. Blink ! Ponsel Rhea kembali
mengeluarkan suara memberitahukan bahwa ada pesan baru. Indie dengan cepat
melirik Rhea. Dari senyuman Rhea, dia tahu itu pasti Agha. I know now that I realy am too awesome. They spread that rumor to make me
more like human. Rhea tertawa membaca pesan itu. Dia tau seharusnya dia
tidak sesenang ini. Tapi dengan keberadaan indie di dekatnya saat ini, kadar
kebahagiaannya justru semakin meningkat. “akhirnya sampe...” terdengar suara
dari kursi depan. It’s the driver. Mia, gadis yang sedari tadi duduk di sebelah
sopir itu dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Sementara
indie dan rhea masih butuh waktu untuk merapikan pikiran mereka masing – masing
dan menyadari bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan. Barbie world fest.
Rhea dan Indie buru – buru turun dari mobil. Mereka lalu berkumpul untuk
membagi tugas dan menentukan tujuan masing – masing. Rhea harus mendatangi
beberapa tempat yang menyenangkan. Itu sudah diputuskan pada pertemuan kemarin.
Dimana Rhea dan Indie mati – matian mempertahankan argument mereka masing –
masing seperti jaksa penuntut umum dan pembela di pengadilan. Well, mereka
berdua akhirnya sama – sama mendapatkan kesempatan untuk pergi.
Rhea berkeliling melihat – lihat, mencoba, dan
mencatat segala hal yang dia perlukan untuk liputan di majalah. Mengambil beberapa
foto sudah pasti. Tugas Rhea jauh lebih menyenangkan daripada Mia yang harus
mewawancarai sang pembuat event. Sementara Indie harus menghadiri pertunjukan
teater. Barbie world fest ini benar – benar impian para gadis kecil di seluruh
dunia. Segala tentang Barbie ada disini, terwujud dalam dunia nyata. They can
even dressed like Barbie and take a picture of it. Rhea tersenyum. Dia memang
bukan pecinta Barbie. Tapi melihat para gadis kecil yang begitu bahagia seolah menjadi
Barbie dan masuk ke dalam dunia dongeng, membuatnya dipenuhi perasaan bahagia. Dia
ingat betapa dia menyukai cerita peter pan saat dia masih kecil dulu dan begitu
terobsesi pada neverland. Saat ini dia bahkan membayangkan jika dirinya bisa benar
– benar datang ke neverland. Rhea kembali berkeliling dan mengambil beberapa
foto yang diperlukan. Dia kemudian berhenti di depan salah satu pintu. Should
she come in again ? setelah berpikir beberapa saat, Rhea akhirnya memutuskan
untuk masuk. Tempat itu adalah ruang studio. Para gadis cilik berganti kostum
dan berfoto disana. Rhea memandangi gadis kecil berkostum Barbie yang
sepertinya baru saja selesai foto. It’s Mariposa. How cute... She’s the reason
why Rhea come in to this room again. Rhea melihatnya dari luar dan berpikir
bahwa dia harus mengambil beberapa foto gadis kecil ini. “Hai Mariposa...” Sapa
Rhea lalu, gadis kecil itu tampak malu – malu. Looks sparke somehow. “Hai...”
Gadis itu menjawab dengan malu – malu. Rhea tersenyum dan kemudian duduk
disampingnya. Tidak lama kemudian, dia sudah berhasil membujuk gadis kecil itu
untuk berfoto lagi. Setelah mengambil beberapa gambar, Rhea lalu menuliskan
sesuatu di atas kertas dan memberikannya pada si kecil mariposa. “satu kali
lagi...” katanya lalu. Gadis itu mengerti dan menunjukkan kertas itu kea rah Rhea.
Kali ini Rhea mengambil gambar dengan kamera ponselnya. “Thank u, mariposa...”
Rhea tersenyum dan memberikan cupcake barbienya pada gadis kecil itu setelah
menyelesaikan urusannya. Gadis itu berlari ke pelukan ibunya dan
melambaikan tangan pada Rhea. Rhea balas melambai. Dia lalu kembali memeriksa
pesan di ponselnya. Dia tidak membalas pesan dari Agha tadi. Have u decide it ? whether u want me to say
hi or not ? Rhea memencet enter dan mengirim pesan pada Agha. Tak berapa
lama, ponselnya kembali berbunyi. No
Thanks. Rhea tertawa. Dia lalu kembali mengetik But She said hi to you... Sent ! Rhea mengirim foto si mariposa
cilik pada Agha. Gadis itu membawa kertas bertuliskan “Hi... Did u enjoy the
cappuchino ?” yang tadi ditulis oleh Rhea. Agha membalas Tell her, she’s my type. Rhea tertawa, dia tidak membalas lagi.
Rhea tersenyum geli memandangi foto dirinya di layar
ponsel. Dia akhirnya memutuskan untuk memakai kostum dan berfoto seperti para
pengunjung lainnya. Tentu saja dia bukan satu – satunya wanita dewasa disini.
Dia harus menjadi model sukarelawan dan berfoto bersama anak – anak kecil untuk
bisa memakai kostum ini. Beberapa model lainnya hanya tersenyum melihatnya. Dia
bahkan berkenalan dengan para model import itu pada akhirnya. Rhea mengirim
fotonya yang berkostum Barbie dan membawa kertas bertuliskan “Am I close to ur
type now ?” kepada Agha dan tertawa sendiri membayangkan reaksi agha melihat
kelakuannya ini. Tak lama, ponsel Rhea menerima pesan baru. Dengan cepat Rhea
memeriksanya. Dari Mia, Done yet ? Ketemu
di kafe yaa... Rhea lalu bergegas bangkit dan berjalan menuju kafe yang
dimaksud Mia. Sudah tidak ada yang bisa dia kerjakan lagi. “Rhe...!” Rhea mendengar
seseorang memanggilnya. Tampak dari kejauhan Mia melambaikan tangan padanya.
Indie tidak ada disana. Apa pertunjukannya belum selesai sampai jam segini ? “Indie
balik duluan tadi... Dia bilang mau naik taksi ke kantor...” Seolah bisa
membaca pikiran Rhea, Mia langsung menjelaskan begitu Rhea sampai di dekatnya.
Rhea hanya tersenyum. Keliatannya Indie sepanik itu mikirin Agha. Dari tempat
ini ke kantor butuh waktu satu jam. Belum lagi kalo kena macet. Segitu mendesaknya
kah urusan Indie di kantor sampai harus rela menghabiskan uang untuk taksi ? “kapan
dia balik ?” Tanya Rhea pada Mia. Gadis itu melihat arloji di tangannya “baru
15 menit yang lalu... Tadi si gue bilang kita barengan aja... Biar gue hubungin
lo dulu, udah kelar apa blm... Tapi dia bilang takutnya lo masi lama, jadi
balik duluan pake taksi...”jelas Mia. Rhea benar – benar ingin tertawa ngakak
mendengarnya. Tapi cukup lah dia menertawakan Indie dalam hati. “Nggak buru –
buru kan rhe ? Kita makan dulu aja gmna ?” Mia menyodorkan menu pada Rhea dan
meminta persetujuan untuk memesan makanan. Rhea mengangguk. Dia juga sudah amat
sangat kelaparan sedari tadi... Hanya sempat makan satu cupcake. Blink ! ponsel
Rhea berbunyi lagi. Rhea tidak terlalu mempedulikan. Baginya, memesan makanan
secepat mungkin adalah prioritas utama saat ini. They r all look tasty... Rhea
bingung memilih salah satu dari menu yang ada. Saat sedang lapar, semua pasti
terlihat enak. “buru dong rhe... biar cepet diproses...” Mia berkata sambil
tertawa, dia sepertinya tau kebingungan rhea. Akhirnya rhea memilih salah satu
menu dari sekian banyak hidangan yang menarik perhatiannya. “handphone lo kedip
– kedip tu...” Mia mengingatkan, rhea lalu memeriksa ponselnya yang tadi sempat
berbunyi. Dari Agha. Membuatnya kembali teringat pada Indie. Dibukanya pesan
dari sang prince charming yang begitu controversial itu. Rhea terkesiap.
Dibacanya lagi nama pengirimnya dan isi pesan itu. Should we start dating ?. Realy ? That man wrote this ? What got into him ?
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar