Pages

Jumat, 24 Februari 2012

For a Moment (part II)


            2 hari sebelum hari pernikahan. Hampir satu semester sejak Andra datang ke rumah untuk melamarku. 3 hari setelah percakapan kami di ruang kerja, papa menelponku mengajak untuk makan malam bersama keluarga dan memutuskan untuk menyerahkan semua keputusan padaku. Salsa tidak banyak bicara malam itu, dia hampir tidak mau mengangkat wajahnya dan melihatku sepanjang pertemuan kami. Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasa ragu untuk melanjutkan rencana pernikahan ini. Apa aku tega melanjutkan semua ini…?? Sampai kapan ketegangan antara aku dan Salsa ini akan bertahan…?? Aku tahu apa yang papa dan mama pikirkan tentang semua ini. Mereka pasti khawatir anak – anak mereka selamanya saling membenci dan terus – terusan bersikap canggung seperti ini. Aku ragu… Hingga akhirnya Andra kembali meyakinkanku. Dia menyuruhku untuk mulai membangun hubungan yang baik dengan Salsa. Aku setuju. Selalu seperti itu, dia seolah bisa membaca pikiranku yang berada dalam keragu – raguan dan akhirnya meyakinkan aku. Dia seperti mulut yang membantuku untuk mengutarakan apa yang susah untuk kuutarakan. Dan begitulah, aku mulai menghubungi Salsa dan mengajaknya untuk bertemu. Tapi dia selalu mengelak. Entah sudah berapa email dan sms yang kukirim untuknya. Hingga akhirnya, hari ini Salsa menelponku dan memutuskan untuk bertemu denganku. Dia bertanya apa akhirnya aku akan mentraktirnya makan siang hari ini setelah sekian lama. Dari nada bicaranya, aku tahu dia sudah memutuskan untuk berusaha menerima keadaan ini. Meskipun bisa dipastikan, Salsa belum bisa melupakan Andra secepat itu.
Aku tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi pada kami selanjutnya. Kulirik jam dinding di ruang makan. Jam 12.10. Semua makanan sudah tersedia dan tertata rapi di atas meja makan. Aku memutuskan untuk mengajak Salsa makan siang di rumahku, karena sepertinya pertemuan pertama kami butuh sedikit privasi. 5 menit kemudian terdengar suara ketukan dan Salsa muncul dengan cengiran khasnya. Dia langsung menuju ruang makan dan memperhatikan makanan yang sudah kusediakan.
“ ini masak sendiri kan…??” tanyanya,
“ iya donk… special + puding brownies…” jawabku, dia lalu tersenyum
“ boleh langsung makan nggak…??” tanyanya lagi, aku hanya tersenyum lalu duduk dan mulai menyendok nasi. Tidak ada sepatah kata yang keluar saat kami tengah asyik menyantap makanan di meja makan. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berpindah ke ruang tengah. Salsa asyik menyendok puding browniesnya. Aku hanya memperhatikan, tidak tahu harus mulai bicara dari mana
“ Dek, kamu udah punya pacar baru yaa…??” Aku bertanya dengan bodohnya. Salsa menghentikan kegiatannya dan menoleh padaku.
“ pertanyaan macem apa sii, mbak…?? Kalo mau nanyain soal Andra nggak usah pake basa basi deh…” ujar Salsa seraya tertawa kecil. Aku tidak menjawab. Salsa lalu meletakkan pudingnya dan menghela napas panjang. Dia beranjak mendekati tembok dan bersandar menghadapku. Seperti sudah tradisi, kami suka tembok.
“ awalnya susah banget buat aku, mbak… Berhari – hari aku mengunci diri di kamar dan berpikir betapa nggak adilnya ini… Setelah sekian lama, aku akhirnya tau kalo kali ini aku bener – bener jatuh cinta dan ini pertama kalinya buatku. Tapi akhirnya dia jatuh cinta sama mbak… Kenapa…?? Aku bener – bener benci mbak waktu itu. Aku nangis setiap kali membayangkan hidup aku ke depannya tanpa dia. Nggak ada lagi Andra dan perhatian – perhatiannya buatku. Tapi akhirnya aku mikir. Ini nggak sepenuhnya salah mbak, aku yang terlalu lama nggak ngasi dia kejelasan status meskipun dia udah beberapa kali mengutarakan perasaannya ke aku. Nggak ada yang suka punya hubungan tanpa status, iya kan mbak…?? Saat mbak mulai hadir dalam kehidupan kami, aku baru sadar, kalo aku bener – bener cinta dia dan akhirnya kami jadian. Tapi sejak saat itu, mbak selalu ada dalam pembicaraan kami. Sampe akhirnya aku sepenuhnya yakin kalo dia udah jatuh cinta sama mbak. Kami sepakat buat break sampe akhirnya dia bisa mutusin untuk milih aku ato mbak. Selama break aku udah berusaha buat mempersiapkan diriku kalo - kalo hal seperti ini terjadi. Tapi sekuat apapun aku berusaha, dan sebaik apapun aku mempersiapkan diri, semuanya hancur begitu aja. Kenyataannya, aku tetep sakit hati. “ Salsa berhenti, tampaknya dia berusaha untuk menahan air matanya.
“ Kalo emang jodoh, nggak akan kemana mbak… dan kayaknya Andra bukan jodoh yang dikasi Tuhan buat aku…” Salsa melanjutkan dengan mata berkaca – kaca.
“ dek…” aku menghela napas dan memikirkan kata – kata apa yang harus kuucapkan. Aku bersalah.
“ maafin mbak…” hanya itu yang keluar dari mulutku dengan suara parau. Aku lalu memeluk adikku dengan erat.
“ Sejak pertama kali dia ketemu mbak, aku tau suatu saat dia bakal jatuh cinta sama mbak…” ujar Salsa lirih, lalu air matanya pun mulai jatuh. Dia menangis tanpa suara.
***
            Aku tersenyum menatap kotak besar yang diberikan Salsa padaku sesaat sebelum acara akadku dimulai. Anak itu bilang kalau ini bukan hadiah pernikahan. Aku tersenyum seraya memicingkan mata curiga padanya.
“ Mbak, we’d share everything since we are kids. Aku Cuma mau mbak tau, kalo aku ikut bahagia buat mbak. Ini, aku kasi ke mbak sebagai bukti kalo aku ikhlas dan mbak nggak ragu lagi.” Begitu katanya seraya menyerahkan kotak besar ini padaku tadi pagi.
“ Apa yang lucu dari kotak ajaib itu…??” Andra duduk disampingku dan ikut memperhatikan kotak besar ini setelah mendapati aku tersenyum – senyum sendiri sudah siap membuka kotak.
“ Let’s see…” jawabku. Aku lalu membuka kotak yang sedari tadi kuperhatikan ini.
“ wow… What’s with this things…??” Anda tertawa kecil melihat isi kotak, aku ikut tersenyum. Ini semua barang – barang kami.  Ada tas ransel, arloji, baju, sandal, buku, dan barang – barang kecil lainnya.
“ ada cerita di setiap barang – barang ini…”
Aku mengambil arloji yang sudah tidak bernyawa dari dalam kotak.
“ Arloji ini dulu dikasi papa buat Salsa, tapi karena dia nggak pernah pake, akhirnya aku yang pake…” tuturku, Andra hanya mengangguk – angguk seraya tertawa kecil. Dia lalu bangkit dan mulai membuka kado yang lain. Aku menatap arloji ini dan seketika aku tercenung mengingat – ingat masa laluku. Aku ingat, dulu papa menegurku karena aku memakai arloji ini tanpa izin. Aku kesal saat itu, karena aku hanya meminjamnya sekali dan itupun karena arloji ini tergeletak begitu saja tidak pernah dipakai oleh Salsa. Saat Salsa melihatku dengan arloji ini, dia hanya berkomentar “ eh mbak ambil arlojiku…?? Mmmhh… yaudah deh, daripada nggak kepake juga…”. Salsa memberikan arloji itu padaku… Aku menunduk mendapati mataku mulai memanas. Kupandangi tas ransel di dalam kotak di pangkuanku. Tas ini punya Salsa. Waktu tasku satu – satunya rusak, aku meminjam tas ransel ini, dan Salsa dengan baiknya memindahkan semua buku – bukunya ke dalam tas lamanya dan meminjamkan tas ini padaku. Dia tidak pernah memintanya kembali sebelum aku membeli tas yang baru. Aku mulai membongkar isi kotak satu persatu dengan tidak sabar. Semua barang – barang ini Salsa berikan untukku tanpa marah ataupun terpaksa. Iya, bener. Papa emang selalu ngasi semuanya buat Salsa. Tapi Salsa… Dia ngasi semuanya buat aku… Dia kasi aku apa yang aku inginkan, sementara aku selalu bersikap egois karena berpikir dia selalu dapet semuanya. Dan sekarang, aku merebut Andra dari Salsa… Papa benar, harusnya aku bisa berpikir tentang apa yang sudah kami lalui selama ini... Aku buta... Aku terlalu buta oleh rasa cemburu...
“ Mas… Kenapa akhirnya kamu mutusin buat milih aku daripada Salsa…??” tanyaku seketika pada Andra. Andra mengernyitkan kening.
“ Kenapa kita bahas ini sekarang…??” tanya Andra keberatan
“Aku mau tau ceritanya… Salsa bilang apa waktu itu…??” aku bersikeras memaksanya menjawab. Andra menghela napas panjang
“ karena aku sadar, aku udah jatuh cinta sama kamu. Kamu yang muncul di pikiran aku setiap saat. Aku merasa bersalah setiap kali inget kalo Salsa dan aku masih punya hubungan. Sampe akhirnya aku dan Salsa memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, karena dia juga sadar, perasaan aku ke dia udah nggak seperti dulu lagi.” Aku hanya menunduk menahan air mataku. Dengan cepat aku bangkit menyambar ponselku dan mengunci diri dalam kamar mandi. Call “My Sissy”…
“ Halo mbak…” terdengar suara Salsa di seberang.
“ Dek… Maafin mbak… Mbak udah ngancurin cinta pertama kamu...” Selama 23 tahun hidupnya, Andra adalah orang pertama yang menjadi kekasih Salsa. Dan akulah yang menghancurkan hubungan mereka. Aku merasa jahat… Karena aku, salsa harus mengalami sakitnya patah hati…
“ Selalu ada pertama kali untuk segala hal, mbak… Aku Cuma patah hati…” Salsa menjawab dengan suara lembut. Dari nadanya, aku tahu… Dia tersenyum saat mengucapkan itu.
-end-

Kamis, 23 Februari 2012

For a Moment (part 1)


                Aku berhak bahagia. Berkali – kali aku mengulang – ulang kalimat itu di dalam pikiranku. Untuk kali ini, sekali dalam hidupku aku akan bertahan walau dunia memberiku label egois sekalipun. Mereka tidak pernah mengerti. Dan aku tahu, papa dan mama juga tidak akan berpihak padaku kali ini.
Aku memandangi foto yang berdiri tegak dengan manisnya di atas bufet ruang tengahku. Foto itu baru saja diambil 2 bulan yang lalu, aku tertawa menghadap kamera dan seorang lelaki duduk di sebelahku ,  memandangku dengan senyuman hangatnya. Kami bahagia. Yaa, kami sangat bahagia dan aku merasa aku harus mempertahankannya. Aku wanita berusia 28 tahun, apa aku harus mengalah jika kali ini mama papa tidak mengizinkan aku menikah dengannya…? Perlahan aku beranjak dari tempatku berdiri dan meraih ponselku. Pelan aku bersandar di tembok kamarku dan mulai merosot ke lantai sambil mencari nomor ponsel papa di kontak memori. Kupandangi nama di kontak itu dengan ragu, lalu setelah menarik napas panjang aku memutuskan untuk menelpon.
“ Halo…” terdengar suara papa di seberang, dan aku hanya diam. Aku mengatur napas pelan dan ketika papa menyapa lagi aku menjawab
“ Halo pa… Gimana Salsa…??” Terdengar papa menghembuskan napas panjang
“ Masih betah di dalem kamar… Papa nggak tau dia ngapain aja di dalem kamarnya…” Papa menjawab dengan candaannya tapi sama sekali tidak tertawa. Aku tahu maksudnya ini, papa tidak marah meskipun dia tidak setuju denganku. Tapi hal ini pasti terasa begitu tidak menyenangkan baginya.
“ Besok Laras ke rumah, pa…” ujarku
“ Salsa bilang dia mau liburan bareng temen – temennya ke Sembalun. Besok dia berangkat pagi – pagi.”
“ Nggak apa – apa… Laras mau ketemu papa sama mama kok…” aku menjawab dengan cepat, terdengar papa kembali mendesah lelah.
“ Iya, cantik… ntar papa kasih tau mama…”
“ Makasih, pa… Assalamualaikum…” Aku memutus telepon setelah papa menjawab salamku.
***
                Aku memaksa diri untuk membuka mata dan mendapati diriku terbangun di kamar lamaku. Aku ingat, semalam setelah menelpon papa aku memutuskan untuk pulang malam itu juga. Ada rasa gundah yang sepertinya akan terus menghantuiku jika aku tidak pulang. Cepat aku memeriksa ponselku, jam 8.30. kebiasaan bangun telat masih berlaku di hari libur. Aku bangkit dari ranjang dan mulai memeriksa sekelilingku. Kamar ini nggak berubah, masih seperti waktu terakhir kali kutinggalkan, ada tas dan peralatan kuliahku dulu, kipas angin… Aku langsung teringat pada adikku Salsa. Apa dia sudah berangkat dengan teman2nya…?? Dulu saat masih SMA kami berebut kipas angin. Kipas angin yang biasa ada di kamarku akhirnya berpindah ke kamar Salsa dan otomatis aku mendapat kipas angin yang lebih menyebalkan. Saat itu aku diam saja walaupun kesal setengah mati. Sejak lahir dia mendapatkan apa yang dia minta, sementara aku… Untuk meminta saja aku tidak punya keberanian, aku sadar saat itu papa mama masih hidup susah. Saat Salsa berusia 1 tahun, kehidupan kami mulai membaik, dan aku yang berusia 6 tahun tidak akan pernah mengalami masa – masa balita yang menyenangkan seperti Salsa. Kuanggap itu semua itu keberuntungan, dia mendapatkan semua yang dia minta, dan sekarang aku akhirnya mendapatkan apa yang aku mau. Walau sepertinya papa dan mama ingin aku mengalah untuk yang satu ini juga kepada Salsa.
“ Ras, tumben udah bangun…” terdengar suara mama dari arah pintu, aku refleks menoleh dan tersenyum.
“ ngejek nih ma…” sahutku, mama balas tersenyum. Dia tidak marah. Tentu saja…
“ Nasi goreng sama kopi udah siap di meja makan dari tadi lho, tuan putri…” ujar mama, aku memberengut mendengar sindiran mama.
“ Makasih yaa, ibu suri…” jawabku seraya menghampiri mama dan mengajaknya keluar.
Papa tidak ada di ruang tamu ataupun ruang makan, pasti sudah siap di depan komputer di ruang kerja, mendengarkan musik dan mencari inspirasi. Aku bergegas menemui papa di ruang kerjanya dengan membawa secangkir kopi.
“ Masih pagi udah nongkrong disini aja, pa…” sapaku begitu melihat papa asyik mendengarkan lagu di kursi kerjanya, papa tersenyum.
“ yang bilang masih pagi kan kamu aja… Kalo buat orang lain mah ini udah siang…” canda papa, aku tersenyum seraya menghampirinya dan meletakkan kopi di atas meja
“ Udah ngopi, pa…??” tanyaku, papa lalu menunjukkan mug kesayangannya.
“ Pa, papa pasti tau kan apa yang mau laras omongin…” aku mulai membuka pembicaraan. Papa menyeruput kopi dari mugnya dan beralih menatapku
“ Ini udah jadi masalah utama buat kita sekarang, ras… Semua orang di rumah ini pasti tau…” jawab papa dengan suara lembut, aku menarik napas panjang mendengar kata – kata papa
“ Sabtu depan Andra mau dateng ke rumah bawa keluarganya buat lamaran, pa… Kalo papa setuju…”
“ Laras… Kamu sama adikmu itu bukannya nggak pernah berantem. Sejak dulu, kalian sering rebutan barang ataupun berantem karena hal – hal sepele. Sekarang, papa menyesal, nak… Kalau tau akan begini jadinya, papa nggak akan biarin kalian rebutan bahkan untuk hal paling nggak penting sekalipun. “ Papa berhenti dan menghela napas panjang, aku hanya diam mendengar penuturannya.
“ 3 tau yang lalu, Pertama kalinya Andra dateng ke rumah bersama Salsa. Nggak pernah terbersit dalam pikiran papa sekalipun bahwa kalian akan berebut untuk hal yang satu ini. Papa selalu berpikir kalo Andra sepertinya benar – benar mencintai adikmu. Tapi nyatanya, minggu lalu bukan Salsa yang mengajak Andra untuk berbicara dengan papa, tapi malah kamu…”
“ Sekarang Laras tau pa… Selamanya, Laras akan jadi perebut di mata papa dan mama… Selamanya, papa akan selalu berpikir dari sisi Salsa, bukan aku… Segalanya buat Salsa. Dari hal – hal kecil seperti souvenir sampai barang – barang yang besar, semua kalian kasi buat Salsa… Laras nggak pernah protes, pa… Tapi untuk kali ini aja… Andra memutuskan untuk menikahi Laras dan papa masih ingin Laras mengalah dan memberikan Andra buat Salsa…” Aku mulai emosional, papa menatapku dengan heran
“ Bukan itu inti dari kata – kata papa… Papa Cuma minta kamu buat memikirkan lagi, semua yang udah kamu dan Salsa lalui selama ini… Kamu harus berenti bersikap kekanak – kanakan seperti ini, Laras… Kamu sadar kan… Cinta itu, bukan buat diperebutkan…” bukan main kesalnya aku mendengar kata – kata papa ini. Jadi selama ini, aku yang bersikap kekanak – kanakkan merebut apapun dari Salsa…?? Seolah – olah aku sengaja merencanakan untuk merebut Andra. Andra yang memilihku !!! dan aku cinta dia… Apa kami tidak berhak untuk bahagia dengan pilihan kami…???
“ Jadi menurut papa Laras sengaja ngerebut Andra dari Salsa…?? Pa… Laras nggak pernah memaksa Andra untuk mencintai laras…!!” aku menyahut dengan nada yang mulai tinggi, papa menatapku dengan serius
“ tapi kamu berusaha, sayang… Dan itu sama buruknya…” jawab papa, aku terkesiap mendengarnya. Ucapan papa sudah jelas.

***
 
Copyright (c) 2010 A Girl Like Me and Powered by Blogger.