Pages

Kamis, 27 Juni 2013

a girl who cant breakup, a boy who cant leave (part 1)

Kata pepatah... “Dunia kerja adalah dunia yang kejam”. Kalimat itu tidak muncul begitu saja tanpa sebab musabab yang jelas. Well, theres a reason for it... Setelah kau memasuki dunia kerja, ada beberapa hal yang perlu kau pahami... Jika kau cantik, segalanya akan terasa sulit untukmu... Jika kau pintar, orang - orang akan berusaha menendangmu keluar... Jika kau pernah membuat skandal, jangan harap kehidupan sosial di kantor akan berjalan dengan tenang dan damai... Well, mungkin tidak semua kantor menganut paham seperti itu. Tapi bagi Rhea, itulah realita dunia perkantoran. Kejam dan menyakitkan. Bukan karena Rhea kelewat cantik. Bukan juga karena dia kelewat pintar. Dengan tampilan boyish yang sama sekali tidak memiliki sense fashion itu, aneh rasanya jika ada lelaki yang kembali melayangkan pandangan padanya setelah melengos pandangan pertama. Besides, di kantor ini, wanita cantik dan sadar fashion ada banyak bertaburan bagai meises coklat di atas donat. Lalu untuk kategori pintar...?? Rhea memang memiliki kinerja yang sangat baik, karirnya pun berjalan mulus... Tapi tidak cukup cemerlang untuk menjadi musuh bersama di dalam kantor yang megah ini. Satu – satunya alasan yang membuat Rhea begitu dibenci oleh para wanita cantik di kantor ini adalah Indie. Wanita cantik modis dan pintar ini adalah rekan sesama tim kreatif rhea. Jika dilihat secara kasat mata, tentu tidak ada alasan bagi Indie untuk membenci rhea. Mereka begitu jarang bertegur sapa hingga akhirnya rhea menemukan fakta bahwa indie ternyata berpacaran dengan Rio, sahabat terbaik rhea sepanjang masa. Kalau saja rhea tidak melihat indie dengan laki – laki lain setiap kali mereka pulang kantor, tentu dia tidak akan keberatan indie berpacaran dengan rio. Dan cerita berikutnya berjalan sebagaimana mestinya. Rhea menjadi orang yang paling sering dibicarakan di kalangan para wanita, dimulai sejak indie dicampakkan oleh Rio. Kehidupan kerja tidak lagi mudah bagi rhea setelah insiden itu. Banyak yang berbisik menyebutnya jalang dan memberi predikat backstabber, spesialis tukang tikung, dan berbagai panggilan yang tidak akan pernah terdengar indah di telinga siapapun. Indie telah kehilangan pacar dengan tabungan dan kartu kredit terbanyak yang pernah dia miliki. Thats why, kebenciannya terhadap rhea menjadi begitu mengerikan.
“Kalo gue jadi elo rhe, mending gue berenti kerja daripada tiap hari makan hati begini... gue kawinin itu si rio... terus hidup bahagia di depan idungnya indie...” Rhea hanya mendesah mendengar kata – kata alin, office girl yang begitu setia menemaninya setiap kali dia harus lembur karena ulah indie akhir – akhir ini. “lo pikir kawin itu macem orang main bekel...?? bisa seenak udel gitu... lagian si rio kan sohib gue... bukan pacar gue...” rhea menjawab ketus. Otaknya sudah mulai buntu... Tapi deadline tidak bisa diganggu gugat... Alin gantian mendesah panjang “Hari gini rhe... lo pikir masih ada itu yang namanya sohib laki ama perempuan...”. kali ini rhea tidak menjawab. Dia bosan mendengar pernyataan semacam ini. Orang – orang selalu meragukan persahabatannya dengan rio. Dan topik seperti ini lah yang akhir – akhir ini membuat kupingnya panas. Sepertinya sedikit lagi rhea akan meledak.
***
Rhea menatap layar ponselnya, memandangi nama rio yang tertulis disana. Haruskah dia menelpon sahabatnya itu untuk berkeluh kesah ? Ini sudah yang ketiga kalinya. Indie mencuri ide dan hasil kerja kerasnya. Gadis licik itu melakukannya dengan sangat baik kali ini. Rhea mengatur nafas untuk menenangkan hati dan pikirannya. You’ll lose if u cry. Rasanya tidak tepat bercerita pada rio tentang hal ini. Baru 2 bulan sahabatnya itu putus.
“ Yea... Like i care... what a rubbish rumor...” rhea mengangkat kepalanya dan beralih menatap pintu toilet tempatnya berada sekarang begitu mendengar suara yang begitu dibencinya itu. Indie. Gadis itu sedang berbicara dengan seseorang. Ladies room memang seringkali beralih fungsi menjadi ruang gosip. Sepertinya tidak ada yang tahu keberadaan rhea di dalam salah satu toilet saat ini.“problematika pria tampan ndie...” sahut temannya yang lain yang disusul suara cekikikan gadis – gadis yang lain. “hati – hati aja lo... si bitchy pasti lagi mengintai...” masih suara yang sama. Tidak ada yang mendapat panggilan itu di kantor ini selain rhea. Bitch ! “lo aja yang hati – hati... kalo bisa pasangin alarm tu cowok lo... she sleeps with everyman for free... menurut lo apalagi yang bisa dia lakuin bwt menarik perhatian lelaki...? kualifikasi fisik dan penampilan... lo tau sendiri lahh kayak apa... no style, no fashion, tampang paspasan !” itu suara indie. What a snake ! Harus bagaimana rhea bereaksi terhadap kata – kata ini ? Apalagi yang tersisa untuk rhea di kantor ini ? pekerjaan berantakan, nama baik dan kualitas kerjanya had flied through a window, dan lagi dia sekarang menjadi orang yang terpinggirkan dalam kehidupan sosial kantor. Pride is the only thing she has now. Jika dia keluar dari kantor ini, sama saja dengan mundur dan mengakui semua tuduhan orang terhadapnya, mengakui bahwa dirinya incompetent, dan akhirnya satu – satunya yang dia miliki sekarang akan ikut menghilang. Dia tidak boleh mundur dengan meninggalkan kesan yang seperti ini. Tidak dalam keadaan begini. Rhea membuka pintu toilet dan melangkahkan kakinya dengan berat hati, melewati orang – orang yang baru saja berbicara buruk di depan cermin tentang dirinya. Meskipun orang – orang itu sudah secara terang – terangan membenci dirinya, tetap saja mereka tampak sedikit terkejut dengan kemunculan rhea yang begitu tiba – tiba dari dalam toilet. “whore...” terdengar suara yang dengan pelan mengumpat di belakang. Rhea menghentikan langkahnya. Thats it ! enough !! Lets do this war. dengan cepat rhea berbalik dan mendekati sumber suara yang membuatnya naik darah itu. “of course, i can b bitchy... you shud start to feel insecure from now on...” rhea berhenti untuk mengambil nafas. Dilihatnya wajah lawan bicaranya. Gadis itu tampak sangat terkejut.“ be careful what u wish for !” rhea berkata tanpa ragu lalu kembali berbalik dan meninggalkan ladies room secepat mungkin.
***
Meskipun berpenampilan lusuh dan seadanya. Maeve Rhea Irdina bukannya orang yang buta fashion. Sama sekali bukan ! Dia juga bukan wanita yang tidak tahu bagaimana caranya menggunakan make up dan bagaimana memilih pakaian yang bagus. Bertahun – tahun yang lalu, bahkan mungkin sebelum para wanita modis di kantornya tau bagaimana cara berdandan dengan benar, dia sudah terbiasa berdandan dengan cantik dan modis. Hanya saja, setelah cinta pertamanya pergi begitu saja, rhea akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukan semua itu. Lelaki seperti titan, cinta pertamanya yang begitu sempurna, tidak menyukai gadis semacam rhea. That kinda man tend to fall in love to a smart girl who dressed naturally... gadis yang bersinar karena kecerdasannya dan tidak mudah terbawa arus. Dengan kata lain, anti mainstream. Karena itu rhea memutuskan untuk berhenti hidup seperti carrie bradshaw dan kawan - kawannya. Titan selalu memandang sebelah mata pada wanita – wanita semacam itu. Rio tahu tentang ini. Karena itu, saat rhea tiba – tiba muncul di hadapannya dan berkata “buy me some clothes !”, cowok itu mengabulkan permintaan rhea tanpa ragu. Dia tahu, pasti terjadi sesuatu pada gadis itu. “what happenned ?” tanya rio akhirnya setelah mereka selesai belanja dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di coffee house favorit mereka. Rhea hanya mendesah panjang. “lo lagi jatuh cinta ?”tanya rio lagi. Kali ini terdengar lebih mendesak. “lo tau... bahkan innocent people sekalipun, kalo tiap hari ditereakin maling, bisa berubah jadi maling beneran...” Rhea akhirnya buka suara. Tapi rio tampaknya tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh sahabatnya itu. “ngomong apa si lo ?” Rio mulai tidak sabaran. “Gara – gara lo ! sekarang gue dapet predikat bitch, whore, and slut dari para fashionista kelas atas di kantor gue... mereka tu kayak nggak ada capeknya tiap hari ngatain gue tukang tikung lah, cewek penggoda lah, ato sebutan – sebutan laen hasil kreasi mantan lo itu...” rhea berhenti. Dia lalu kembali melanjutkan “trus menurut lo... gue mesti gimana coba ?”. Rio mengerutkan kening. Sepertinya dia masih belum yakin apa yang sedang dibicarakan oleh rhea. “kata – kata adalah doa boy ! im gonna grant their wish... dan satu lagi! gk peduli sekuat apa gue berusaha untuk menang dari mantan lo, selama pimred gue masih orang itu, lelaki yang begitu menghargai fashion, sampe modar juga gue gk akan menang dengan tampilan yang jujur seperti ini”Rhea bisa melihat perubahan ekspresi di wajah sahabatnya itu karena apa yang baru saja dia katakan. You wont b serious...
***
 
Copyright (c) 2010 A Girl Like Me and Powered by Blogger.