Pages

Jumat, 05 Juli 2013

a girl who can't breakup, a boy who can't leave (part 3)

“He’s gay, rhe... Everybody in this office seems to know that...”Rhea kembali mendesah mendengar statement yang baru saja dikeluarkan oleh Alin. That girl, she’s just an office girl, but she speaks english well. Dulunya dia adalah putri seorang pengusaha sukses yang dengan rutin mengunjungi negara – negara maju setiap bulan untuk berbelanja.Sayang ayahnya mengalami kebangkrutan hingga akhirnya Alin tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Nasib Rhea sendiri tidak jauh berbeda. Ayah Rhea bangkrut saat dia sedang menjalani studi sebagai mahasiswi semester akhir. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu faktor kenapa Rhea dan Alin akhirnya menjadi teman dekat. Mereka pernah merasakan penderitaan yang sama. Dan mereka sedang membicarakan Agha. Sejak melarikan diri dari Agha di book cafe dua hari yang lalu, Rhea benar – benar tidak punya keberanian untuk bertemu dengan Agha lagi. Setiap kali gadis itu melihat Agha, dia dengan cepat menghindar dan menyembunyikan diri sebisa mungkin. That’s annoying. Ini tidak sesuai rencana. Rhea harusnya berusaha menarik hati seorang Agha. Tapi untuk saat ini, dia benar – benar tidak tahu harus bersikap seperti apa jika bertemu Agha. Sekilas profil tentang Agha yang baru saja dijabarkan oleh Alin. Cowok itu adalah pengasuh arikel Hi-Tech di people magz tempat mereka bekerja sekarang. Dia Cuma penulis artikel, tapi kenapa dia bisa mendapat ruangan sendiri untuk tempatnya bekerja di kantor ini ? Jawabannya karena dia adalah orang yang belakangan ini dianggap sebagai beethoven dalam dunia IT. Setidaknya di negara ini. Orang pintar selalu mendapat perlakuan khusus. Seringkali mendapat undangan sebagai dosen tamu di beberapa perguruan tinggi dan sudah menelurkan 3 buah buku yang diterbitkan oleh penerbit buku ternama. Dua buah buku tutorial dan satu buah buku berisi tips – tips berharga hasil karyanya. Then why such a person is so willing to work here ??? Apa ini semacam lelucon yang sedang ditertawakannya sendiri ? Dan berita lainnya tentang pria ini adalah, orang – orang curiga dia seorang gay. Yang tidak akan pernah terpergok sedang menonton atau membaca porn, dan tidak akan pernah ketahuan memiliki hubungan spesial dengan wanita. He’s that kinda man. Dan akhirnya Rhea menyadari, hal – hal misterius itulah yang akhirnya berhasil menarik perhatian seorang indie  dan membuat gadis itu tergila – gila pada Agha. “lo tau apa yang bikin ini jadi lebih menarik ? gue rasa pasti jauh lebih mudah buat indie menerima kenyataan dia ditolak Agha karena cowok itu gay, daripada harus mengakui bahwa seorang Agha yang dikabarkan gay akhirnya berhasil takluk di hadapan gue.” Rhea tersenyum sendiri membayangkan hal yang baru saja dikatakannya itu. “Dan itu artinya lo gk bakal kabur lagi kalo ketemu Agha ?” celetuk Alin cepat. Rhea berpikir sejenak. Senyuman di wajahnya sudah menghilang. “I will manage it later...” sahut Rhea lalu.
***
No more hiding from now on. Rhea akhirnya berhasil meyakinkan dirinya sendiri untuk berhenti melarikan diri dari Agha. Why should she hid herself ? Memangnya kenapa kalau Agha tau semuanya ? Bukan berarti tertutup kemungkinan Agha bisa jatuh cinta padanya. Kabur dan bersembunyi seperti pecundang bukanlah gayanya. “Gk kabur lagi lo ?” Rhea terkejut mendengar suara dari belakangnya dan dengan cepat berbalik. Agha. Jadi cowok itu sudah tau kalo selama beberapa hari ini Rhea berusaha kabur setiap kali melihatnya. “Why shud i...??” balas Rhea lalu tanpa ragu dengan disertai senyuman manis. “u know my intention, so what... i’m already a bitch here...”lanjut Rhea lagi. Agha hanya tertawa sinis. Cowok itu sedang mencemoohnya. “So u r gonna keep going ? hillarious...”sahut agha. Rhea menghela napas panjang, “well... who knows... some people were just born to be loved. Effortless. Lets say i have that kinda charm in me... Even gay will fall for me if i want it...” Rhea tersenyum dan kemudian berlalu begitu saja setelah menyelesaikan kata – katanya.
***
Sesuatu pasti akan terjadi hari ini. Rhea dan Indie akhirnya harus pergi bersama ke sebuah event yang diselenggarakan oleh komunitas pecinta barbie international. Event ini berlangsung hanya 3 hari dan menampilkan pertunjukan teater tentang dongeng barbie setiap harinya. Barbie World Fest. Semua tentang barbie ada disini. People magz sudah seharusnya meliput event yang luar biasa ini. Pihak kantor hanya menyediakan 3 tiket masuk untuk orang yang terpilih. Rhea dan Indie termasuk dalam daftar 3 orang yang beruntung itu. Dan tentu saja, satu orang lainnya adalah seorang wanita juga. Untungnya, orang itu bukanlah salah satu dari sekian banyak haters yang dengan konsisten menghujat Rhea. What a relieve. “I can see u put some interest to Agha too lately...” Indie berbicara pada Rhea dengan suara pelan saat mereka sedang berada di dalam kendaraan yang disediakan kantor. Rhea hanya tersenyum. “Give it up, bitch ! ”Ujar indie lagi. “Why should i...? its fun...”sahut Rhea tanpa menoleh memandang indie yang tengah duduk di sebelahnya. “Now u sound like real bitch...” Ujar indi lagi. Rhea kembali tertawa “u made me... so please enjoy it...”. Indie ikut tertawa dan kembali menyahut “Theres no way he would fall for a bitch like u...”. Rhea tidak menjawab. Dia lebih tertarik untuk mengecek ponselnya yang baru saja mengeluarkan bunyi pendek tanda ada pesan masuk. “How would u know...” ujarnya kemudian. Dia berhenti sejenak, memastikan bahwa indie tidak bergerak memeriksa ponselnya juga. Lalu dengan memasang senyuman termanis, Rhea menunjukkan layar ponselnya pada Indie, “I think he missed me...” Rhea berkata dengan nada mencemooh. Senyuman indie akhirnya menguap begitu saja. Di layar ponsel itu tertera nama Agha. Lelaki itu benar – benar mengirim pesan untuk Rhea ? Meskipun indie tidak bisa melihat apa isi pesan tersebut, namun pikirannya sudah terlanjur berantakan dan dia kewalahan mengatur emosinya sendiri. Buru – buru dia memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan dari Agha. Gadis itu semakin kalut dan dengan susah payah berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang betapa tidak pentingnya pesan teks itu. Sementara Rhea tersenyum memandangi layar ponselnya. Why cappuchino ? with extra cream ?. why suddenly he care to ask. Rhea lalu mulai mengetik dan mengirim pesan balasan gay tends to like what girls like. sent ! Akhir – akhir ini menaruh kopi setiap pagi di meja kerja Agha adalah rutinitas baru Rhea. Sudah hampir satu minggu dia menyempatkan diri untuk mampir di coffee house memesan cappuchino untuk Agha. Gadis itu selalu menempelkan post it di gelas kopi dan menuliskan pesan pendek untuk menyapa lelaki itu. Good morning. did u sleep well ? , Good morning. lets work hard today ! atau kata – kata sejenis itu. Tapi pagi ini dia menggambar siluet Barbie dan menulis Im gonna see barbie today, let me know if u want me to say hi for u. Dan akhirnya Agha benar – benar mengiriminya pesan. Setelah bergelas – gelas kopi, dan berlembar - lembar post it. Agha akhirnya memutuskan untuk mengiriminya pesan singkat. But why does it feel so good ? Kenapa rhea merasa senang mendapat pesan yang amat sangat singkat dan tidak berarti apa – apa itu ? That man really feels like a dilemma buat rhea. Separuh dirinya merasa begitu terluka dan dipenuhi rasa bersalah. This isn’t right. She put a lot of effort for this man, and that is felt so wrong. She doesn’t even love that man for real. Seharusnya hanya Titan yang boleh medapat perlakuan seperti ini darinya. Rhea bahkan hampir berteman baik dengan Kevin dalam rangka merebut hati Agha ini. Dia datang ke kafe tempat Kevin bekerja setiap kali Agha datang kesana. Saat akan break makan siang, Rhea selalu mengirimkan gambar makanan sehat dan alamat resto sebagai rekomen. Memesan air mineral extra dan ice tea di pantry untuk Agha. Dan masih banyak lagi. She did that. Blink ! Ponsel Rhea kembali mengeluarkan suara memberitahukan bahwa ada pesan baru. Indie dengan cepat melirik Rhea. Dari senyuman Rhea, dia tahu itu pasti Agha. I know now that I realy am too awesome. They spread that rumor to make me more like human. Rhea tertawa membaca pesan itu. Dia tau seharusnya dia tidak sesenang ini. Tapi dengan keberadaan indie di dekatnya saat ini, kadar kebahagiaannya justru semakin meningkat. “akhirnya sampe...” terdengar suara dari kursi depan. It’s the driver. Mia, gadis yang sedari tadi duduk di sebelah sopir itu dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Sementara indie dan rhea masih butuh waktu untuk merapikan pikiran mereka masing – masing dan menyadari bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan. Barbie world fest. Rhea dan Indie buru – buru turun dari mobil. Mereka lalu berkumpul untuk membagi tugas dan menentukan tujuan masing – masing. Rhea harus mendatangi beberapa tempat yang menyenangkan. Itu sudah diputuskan pada pertemuan kemarin. Dimana Rhea dan Indie mati – matian mempertahankan argument mereka masing – masing seperti jaksa penuntut umum dan pembela di pengadilan. Well, mereka berdua akhirnya sama – sama mendapatkan kesempatan untuk pergi.
Rhea berkeliling melihat – lihat, mencoba, dan mencatat segala hal yang dia perlukan untuk liputan di majalah. Mengambil beberapa foto sudah pasti. Tugas Rhea jauh lebih menyenangkan daripada Mia yang harus mewawancarai sang pembuat event. Sementara Indie harus menghadiri pertunjukan teater. Barbie world fest ini benar – benar impian para gadis kecil di seluruh dunia. Segala tentang Barbie ada disini, terwujud dalam dunia nyata. They can even dressed like Barbie and take a picture of it. Rhea tersenyum. Dia memang bukan pecinta Barbie. Tapi melihat para gadis kecil yang begitu bahagia seolah menjadi Barbie dan masuk ke dalam dunia dongeng, membuatnya dipenuhi perasaan bahagia. Dia ingat betapa dia menyukai cerita peter pan saat dia masih kecil dulu dan begitu terobsesi pada neverland. Saat ini dia bahkan membayangkan jika dirinya bisa benar – benar datang ke neverland. Rhea kembali berkeliling dan mengambil beberapa foto yang diperlukan. Dia kemudian berhenti di depan salah satu pintu. Should she come in again ? setelah berpikir beberapa saat, Rhea akhirnya memutuskan untuk masuk. Tempat itu adalah ruang studio. Para gadis cilik berganti kostum dan berfoto disana. Rhea memandangi gadis kecil berkostum Barbie yang sepertinya baru saja selesai foto. It’s Mariposa. How cute... She’s the reason why Rhea come in to this room again. Rhea melihatnya dari luar dan berpikir bahwa dia harus mengambil beberapa foto gadis kecil ini. “Hai Mariposa...” Sapa Rhea lalu, gadis kecil itu tampak malu – malu. Looks sparke somehow. “Hai...” Gadis itu menjawab dengan malu – malu. Rhea tersenyum dan kemudian duduk disampingnya. Tidak lama kemudian, dia sudah berhasil membujuk gadis kecil itu untuk berfoto lagi. Setelah mengambil beberapa gambar, Rhea lalu menuliskan sesuatu di atas kertas dan memberikannya pada si kecil mariposa. “satu kali lagi...” katanya lalu. Gadis itu mengerti dan menunjukkan kertas itu kea rah Rhea. Kali ini Rhea mengambil gambar dengan kamera ponselnya. “Thank u, mariposa...” Rhea tersenyum dan memberikan cupcake barbienya pada gadis kecil itu setelah menyelesaikan urusannya. Gadis itu berlari ke pelukan ibunya dan melambaikan tangan pada Rhea. Rhea balas melambai. Dia lalu kembali memeriksa pesan di ponselnya. Dia tidak membalas pesan dari Agha tadi. Have u decide it ? whether u want me to say hi or not ? Rhea memencet enter dan mengirim pesan pada Agha. Tak berapa lama, ponselnya kembali berbunyi. No Thanks. Rhea tertawa. Dia lalu kembali mengetik But She said hi to you... Sent ! Rhea mengirim foto si mariposa cilik pada Agha. Gadis itu membawa kertas bertuliskan “Hi... Did u enjoy the cappuchino ?” yang tadi ditulis oleh Rhea. Agha membalas Tell her, she’s my type. Rhea tertawa, dia tidak membalas lagi.
Rhea tersenyum geli memandangi foto dirinya di layar ponsel. Dia akhirnya memutuskan untuk memakai kostum dan berfoto seperti para pengunjung lainnya. Tentu saja dia bukan satu – satunya wanita dewasa disini. Dia harus menjadi model sukarelawan dan berfoto bersama anak – anak kecil untuk bisa memakai kostum ini. Beberapa model lainnya hanya tersenyum melihatnya. Dia bahkan berkenalan dengan para model import itu pada akhirnya. Rhea mengirim fotonya yang berkostum Barbie dan membawa kertas bertuliskan “Am I close to ur type now ?” kepada Agha dan tertawa sendiri membayangkan reaksi agha melihat kelakuannya ini. Tak lama, ponsel Rhea menerima pesan baru. Dengan cepat Rhea memeriksanya. Dari Mia, Done yet ? Ketemu di kafe yaa... Rhea lalu bergegas bangkit dan berjalan menuju kafe yang dimaksud Mia. Sudah tidak ada yang bisa dia kerjakan lagi. “Rhe...!” Rhea mendengar seseorang memanggilnya. Tampak dari kejauhan Mia melambaikan tangan padanya. Indie tidak ada disana. Apa pertunjukannya belum selesai sampai jam segini ? “Indie balik duluan tadi... Dia bilang mau naik taksi ke kantor...” Seolah bisa membaca pikiran Rhea, Mia langsung menjelaskan begitu Rhea sampai di dekatnya. Rhea hanya tersenyum. Keliatannya Indie sepanik itu mikirin Agha. Dari tempat ini ke kantor butuh waktu satu jam. Belum lagi kalo kena macet. Segitu mendesaknya kah urusan Indie di kantor sampai harus rela menghabiskan uang untuk taksi ? “kapan dia balik ?” Tanya Rhea pada Mia. Gadis itu melihat arloji di tangannya “baru 15 menit yang lalu... Tadi si gue bilang kita barengan aja... Biar gue hubungin lo dulu, udah kelar apa blm... Tapi dia bilang takutnya lo masi lama, jadi balik duluan pake taksi...”jelas Mia. Rhea benar – benar ingin tertawa ngakak mendengarnya. Tapi cukup lah dia menertawakan Indie dalam hati. “Nggak buru – buru kan rhe ? Kita makan dulu aja gmna ?” Mia menyodorkan menu pada Rhea dan meminta persetujuan untuk memesan makanan. Rhea mengangguk. Dia juga sudah amat sangat kelaparan sedari tadi... Hanya sempat makan satu cupcake. Blink ! ponsel Rhea berbunyi lagi. Rhea tidak terlalu mempedulikan. Baginya, memesan makanan secepat mungkin adalah prioritas utama saat ini. They r all look tasty... Rhea bingung memilih salah satu dari menu yang ada. Saat sedang lapar, semua pasti terlihat enak. “buru dong rhe... biar cepet diproses...” Mia berkata sambil tertawa, dia sepertinya tau kebingungan rhea. Akhirnya rhea memilih salah satu menu dari sekian banyak hidangan yang menarik perhatiannya. “handphone lo kedip – kedip tu...” Mia mengingatkan, rhea lalu memeriksa ponselnya yang tadi sempat berbunyi. Dari Agha. Membuatnya kembali teringat pada Indie. Dibukanya pesan dari sang prince charming yang begitu controversial itu. Rhea terkesiap. Dibacanya lagi nama pengirimnya dan isi pesan itu. Should we start dating ?. Realy ? That man wrote this ? What got into him ?

***

Selasa, 02 Juli 2013

a girl who can't breakup, a boy who can't leave (part 2)

Seems like Rhea nggak main – main dengan pernyataannya kemarin dulu. Saat dia bilang akan mengabulkan kata – kata para haters di kantornya,dia sudah mantap untuk benar – benar melakukannya. Hari ini genap sudah 1 minggu sejak insiden itu. Rhea muncul di kantornya dengan transformasi yang cukup menggemparkan. Dia bahkan keluar dari mobil grand new fortuner silver dengan elegan dan menggandeng seorang pria tampan yang mengantarkannya sampai ke pintu masuk. Ada banyak orang yang menyaksikan momen aneh bin ajaib ini. Selama sautu tahun bekerja di kantor ini, Rhea adalah gadis yang paling tidak menarik dan tidak pernah mencoba untuk menjadi menarik. Jeans, shirt, dan kemeja biasa adalah lebih dari cukup untuknya.wajah selalu polos, sepatu sneakers, dan hair style yang tidak pernah berubah; kuncir kuda. Sepertinya Rhea yang seperti itu tidak akan ditemukan lagi mulai hari ini. Itik buruk rupa sudah bertransformasi menjadi angsa.
Tidak ada seorangpun di kantor ini yang tidak terkejut. Tidak seorang pun. Termasuk indie dan kawan – kawan. Terlebih lagi Fairuz, wanita yang mengumpatnya di kamar mandi seminggu yang lalu, kini harus menahan air mata mendengar pembicaraan teman – temannya yang menyaksikan kedatangan Rhea pagi tadi bersama Arya, lelaki tampan yang baru saja memutuskan hubungan dengan Fairuz 2 hari yang lalu. Indie pun tampaknya sangat terkejut mendengar berita itu, dimana seharusnya dia menjadi orang yang paling masygul, mengingat dialah orang yang telah menyebar gosip tentang Rhea. “total bitch !” Fairuz berusaha menahan air matanya dan berkali – kali mengumpat Rhea. “Gue mesti samperin dia !” Fay tiba – tiba bangkit dari tempat duduknya dan bergegas mencari Rhea, teman – temannya terkejut dengan reaksi yang tiba - tiba itu dan buru – buru mengikutinya. “Fay, fay, tunggu dulu fay... lo gk boleh bikin ribut dsni...” Indie menarik tangan Fairuz tapi gadis itu menepisnya. Dia terus saja berjalan dengan cepat dan penuh emosi munuju tempat Rhea bekerja. Brak !!! Fairuz menggebrak meja kerja Rhea dan berusaha mengatur nafasnya yang terengah – engah. “Hehh, racun lo !!! Lo pikir lo bakalan bisa ngerebut Arya dari gue ??!!! Gk ada malunya lo goda – godain cowok orang !!!”Fairuz meledak. Emosi yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah ruah begitu dia bertemu Rhea. Indie dan teman – temannya yang lain hanya diam menyaksikan kemarahan Fairuz. “lo nanya apa tadi ? apa gue bisa ngerebut arya dari lo ? BASI !!! Arya udh putusin elo, trs dtg ke gue, mau bukti apa lagi lo ???” Rhea berkata seraya tertawa sinis. Fairuz tidak menjawab, pikirannya sibuk mengutuk dan mencari jawaban yang tepat.Tapi Rhea dengan cepat melanjutkan “see... i said i can b bitchy if u want it... I’ve been VERY patient to u... but even ants bite if u step on it...”Rhea lalu melangkah pergi meninggalkan Fairuz dan kawan – kawan dengan membawa map berisi naskah setelah menyelesaikan kata – katanya. What a Joy... Rhea tersenyum sendiri, merasakan kemenangannya atas para gadis yang telah membuatnya begitu sakit hati beberapa bulan ini. She can tell that the other women get the fear too...
***


2 minggu berlalu sejak kemunculan pertama Rhea dengan style barunya. Kendala yang menghalangi pertemanannya dengan pimred sekarang hilanglah sudah. Mr Jan hampir tidak bisa mengenalinya saat pertama kali dia muncul dengan tampilan barunya. “Rhea ? That Maeve Rhea ?” tanya Mr Jan dengan suara berbisik pada asistennya yang kemudian dibalas dengan anggukan. Rhea hanya tersenyum. Dia bahkan sangat serius dengan keputusannya untuk melakukan revenge. That’s why she’s here now. Duduk manis di sebuah book cafe berwifi, mengawasi dua orang pria yang tengah asyik mengobrol dengan membawa laptop masing – masing. Salah satu dari pria itu bernama Agha, yang dicurigai sebagai pria idaman indie belakangan ini. Seems like indie really truely in love this time. Tampan, tinggi, dan pintar. Meski bukan lelaki kaya seperti tipe pria incaran indie biasanya. Tanpa mengeluarkan effort yang besar, Rhea akhirnya berhasil mendapat undangan untuk bergabung bersama para pria tersebut. Kevin, teman lelaki Agha yang sepertinya begitu tertarik untuk mengobrol dengan Rhea yang akgirnya berbaik hati menawarinya untuk duduk bersama. Mereka membicarakan kerjaan, Agha tetap asyik dengan laptopnya. Mereka membahas film dan buku, Agha masih terlihat enggan untuk ikut mengobrol. “Bentar yaa, gue terima telpon dulu.” Kevin akhirnya meminta izin untuk menerima telpon, dan tinggallah Rhea berdua dengan pria yang menjadi targetnya itu. Lelaki pasif dan pendiam. Cenderung gay. Benar – benar jauh dari standar pria seorang Indira Putri. Tapi pria semacam ini bukannya tidak mungkin untuk didekati. Meskipun Agha masih saja seperti orang bego yang tidak bisa menangkap semua sinyal yang telah diberikan oleh Rhea. “Gha, kamu gk suka yaa aku gabung disini bareng kalian...?” tanya Rhea akhirnya. Agha kembali tertawa kecil yang terdengar seperti tawa meremehkan bagi Rhea. Ooohh fine ! I can make you fall for me and begging me to love you back ! You wait and see, kid ! “Hai again...”Kevin kembali duduk bersama mereka setelah menyelesaikan urusan telponnya. Rhea membalas dengan tersenyum. “Aku ke belekang sebentar yaa...”Giliran Rhea yang berdiri dan meminta izin untuk pergi ke kamar kecil. Gadis itu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Namun baru saja dia membuka pintu, seseorang dengan cepat mendorongnya untuk segera masuk dan kemudian mengunci pintu. Rhea berbalik dengan cepat untuk melihat siapa orang di belakangnya yang baru saja mendorongnya masuk. Agha !!! Apa yang cowok itu lakukan di dalam ladies room ??? Dia bahkan mengunci pintunya. Rhea memandang cowok itu dengan dengan expresi terkejut sekaligus takut. Cowok itu berjalan mendekat dan membuat Rhea terpojok. “U think i dont know why u came here dressing like that and try to flirt with me ?”Aga akhirnya membuka suara. Rhea tidak bersuara. Dia masih begitu terkejut melihat lelaki yang satu menit yang lalu masih menjadi lelaki pasif dan pendiam baru saja mengikutinya masuk ke dalam ladies room dan membuatnya terpojok seperti ini. Dia juga bisa melihat tatapan Agha yang berubah bengis dan sadis. “Lo pikir gue gk tau kalo lo berusaha ngedeketin gue buat manas – manasin Indie...?” Kali ini disertai tawa sinis dan mengejek, lalu kembali menambahkan "Should i make it real for you then...?". Rhea terkejut bukan main. Dia bisa merasakan perubahan suhu tubuhnya yang mendadak jadi panas. Dia ketauan !
***
 
Copyright (c) 2010 A Girl Like Me and Powered by Blogger.