Pages

Rabu, 25 April 2012

Life is Like..........

Ada banyak hal yang berubah sejak bapak pergi...

Aku berusaha menjadi seperti apa yang dia mau...
Aku berusaha untuk selalu akur dengan adikku
Aku berusaha untuk menuruti segala kata - kata mama
Aku berusaha untuk menjadi orang yang peka
Aku berusaha untuk selalu bersikap ramah pada setiap orang
Aku berusaha untuk memperbaiki semua sifat burukku
Aku berusaha untuk melihat segala sesuatunya dari berbagai sisi
Aku berusaha untuk mempertahankan silaturrahim yang sudah dibangunnya selama ini
Aku berusaha untuk menjaga agar dia tetap hidup di dalam hatiku...

Hatiku hancur Tuhan...
Karena tidak sempat memeluknya dengan sayang...
Karena tidak sempat bercanda tawa dengannya...
Karena tidak sempat membahagiakannya...
Karena tidak sempat menunjukkan padanya bahwa dibalik semua perlawananku di depannya, aku berusaha untuk menuruti semua nasihatnya di belakangnya...

Ada yang hilang...
Aku kehilangan teman berbagi
Aku kehilangan teman berdiskusi
Aku kehilangan guruku
Aku kehilangan pelindungku
Aku kehilangan tujuan hidup
Aku bahkan kehilangan rasa aman dalam hidupku...

Rasa tak percaya itu masih ada...
Berharap bisa segera bangun dari mimpi yang panjang ini dan memeluknya erat - erat...

Aku tertawa... Aku tersenyum...
Tapi, air mataku juga tetap mengalir setiap kali ingat dia...

Aku tau...
Aku harus bisa ikhlas menerima semua ini...
Sungguh... Aku rela...
Tapi siapa yang bisa mencegah perasaan seperti ini, yang datang begitu saja tanpa direncakan...??

Tuhan...
Aku sudah tidak bisa memeluknya lagi...
Titip peluk dan cium sayang buat bapak yaa Allah...

Rabu, 11 April 2012

Setelah Dia Pergi


Aku dan bapak seringkali tidak akur. Setiap kali dia menasehatiku, aku selalu menyahut. Tapi meski begitu, aku selalu sayang dia.
Aku dan bapak lebih sering berbeda pendapat. Setiap kali dia menjelaskan sesuatu, aku selalu mendebatnya. Meski begitu, aku tetap sayang dia.
Selama hidupnya dia berusaha mengajariku banyak hal, sementara aku selalu saja acuh tak acuh dengan semua yang dikatakannya. Bapak berusaha menjelaskan banyak hal tentang apa yang tengah dikerjakannya, tapi aku tidak pernah benar – benar mendengarkan. Mungkin, di dunia ini, akulah manusia yang paling enggan mendengar semua penjelasannya. Aku yang paling meragukan dan meremehkannya. Aku kesal, karena bapak begitu sibuk mengurusi hal – hal yang kuanggap berlebihan. Aku keberatan kalau setiap kali bapak harus bepergian jauh sendirian. Aku khawatir…
Aku selalu ingat tiap kali bapak meminta tolong… “ Tolong dong ma… Installin computer depan…” “ Tolong dong ma… Bersihin Flashdisk bapak…” “Tolong dong ma… Cepetan selesai… mumpung bapak masih hidup...”. aku selalu menggampangkan… selalu menunda… sampai akhirnya bapak harus meminta tolong berkali – kali. Tidak jarang aku hanya menjawab “ iya ntar… “. Dan apa balasan bapak stlh aku menjawab seperti itu ?? “tolong yaa maa…”. There’s a simple joy in his voice… Ada pengharapan dan rasa terimakasih yang terbersit dari nada bicaranya… Bapak tdk pernah marah… Hingga akhirnya, bapak pergi untuk selamanya… Terlalu banyak permintaannya yang belum sempat kupenuhi. Dan terlalu banyak rencana – rencanaku yang belum sempat terlaksana. Ini seperti mimpi... Rasanya mustahil bapak meninggal begitu cepat. Apa aku melewatkan isyarat – isyarat terakhir yang diberikan bapak sebelum pergi ?? Setiap kali bapak bilang “bapak mungkin udah nggak sempat…” aku selalu menganggap itu sekedar kata – kata gurauan. What hurt the most… is when I remember… Bapak selalu berusaha membuat aku bangga padanya Sementara aku tidak pernah melakukan hal yang sama untuknya… Dan ironisnya, aku baru bisa melihat perjuangannya dan merasa begitu bangga padanya justru setelah dia pergi… Aku terlalu buta…
Sekarang aku sadar… Semua yang bapak bilang memang benar… Semua yang dia kerjakan bukan hal yang sia – sia dan mustahil untuk diwujudkan. My dad was a great architect… He used to plan a building… Aku selalu bertanya kenapa dia akhirnya keluar dari jalur arsiteknya. Aku terlalu picik dan berpikiran sempit. Sekarang aku tau jawabannya. Dia tidak pernah keluar jalur. Dia berhenti merancang bangunan dan beralih merancang sesuatu yang lebih besar. Dia merancang konsep yang sesuai untuk masyarakat. Aku ingat, bapak selalu bilang, jika program lumbung ini sukses, kita tidak akan kelaparan dan impor beras lagi. Kita bakal bisa mencukupi kebutuhan beras kita. Dan seperti itulah bapak. Bertahun – tahun berusaha menyambung silaturrahmi dan membangun persaudaraan dengan datang ke desa – desa demi mensukseskan program yang telah dirancangnya dengan begitu teliti. Aku Menyesal… Ada banyak hal yang bapak rencanakan untuk komunitas lumbung ini. Dia membuat begitu banyak konsep dan menyusun filosofi – filosofi yang akhirnya dia tanamkan pada pikiran setiap orang yang ditemuinya. Dia merencanakan ini semua selama bertahun - tahun. Seperti program terakhir yang dirancangnya. Bapak berkali – kali mengatakan padaku, jika program ini bisa berjalan dengan sukses, kita tidak perlu lagi mengemis bantuan dana dari pemerintah. Aku selalu menganggap bapak terlalu banyak bicara tanpa pernah berusaha untuk melakukan sesuatu. Aku salah… Bagaimana bisa aku meragukannya seperti itu. Sementara hasil “karya” nya bukannya tidak ada yang terlihat. Bapak bercerita tentang apa yang dulu dilakukannya semasa muda. Dia ingin aku belajar. Dan terlebih lagi, dia ingin mengajarkanku untuk tidak terikat dengan uang. Salah satu hasil karyanya yang aku saksikan secara langsung ?? TBBAI... Awalnya, TK kami mungkin terlihat seperti TK dadakan. Semua anak boleh ikut bermain dan belajar disana tanpa harus mendaftar. Semua anak boleh memutuskan untuk tetap masuk sekolah atau tidak. TK kami tumbuh perlahan – lahan. Bapak mulai membangun sarana bermain untuk kami, hingga akhirnya sekarang sudah terbentuk yayasan yang resmi untuk menangani TK. Bapak tidak pernah mau ikut andil dalam yayasan. Setelah semuanya terbentuk, dia beralih merancang program yang lain. Ada banyak yang hal yang pernah dikerjakannya. Hanya saja, rancangannya kali ini  tidaklah semudah konsep – konsep sebelumnya. Butuh waktu bertahun – tahun, belasan tahun, atau bahkan puluhan. Tapi dia tidak jalan di tempat. Dia tidak hanya bicara. Dia mengumpulkan masyarakat yang akan menjadi sasaran program yang dirancangnya dengan berkeliling ke seluruh Lombok. Dia melakukannya dengan ikhlas dan penuh semangat. Aku yang terlalu buta untuk melihat semua usahanya. Dia berbicara banyak untuk mengajak sebanyak mungkin orang ikut bergabung dan turut andil dalam semua ini, karena seperti itulah seharusnya semua ini bekerja. Program ini butuh pemain. Terlebih lagi, bapak menyadari kalau dia sudah tidak muda lagi, fisiknya tidak sekuat dulu. Itulah sebabnya dia ingin membagi semuanya kepada sebanyak mungkin orang karena dia tidak akan mampu untuk menjalankan semua ini sendiri. Dia membawa konsep dan filosofi lumbungnya kemanapun dia pergi. God, he had a beautiful mind… Bahkan hingga akhir hayatnya, dia merelakan dirinya pergi untuk selamanya dalam keadaan sedang menjalankan misi. Meski selama ini bapak selalu bilang. Alangkah indahnya jika dia bisa mati di pangkuan mama. Tapi keinginannya yang begitu sederhana akhirnya tidak bisa terwujud. Tubuhnya mungkin sudah tidak sanggup lagi. Tuhan mungkin tidak ingin bapak menderita lebih lama lagi karena penyakitnya. Walaupun mungkin bapak sudah berusaha menahan semua rasa sakitnya agar bisa sampai di rumah sebelum dia pergi untuk selamanya. Tuhan begitu menyayanginya… Tuhan tahu, jika bapak lebih lama lagi hidup di dunia ini, hanya sakit yang akan didapatnya. Aku akan menyakitinya lebih lama lagi, dan dia akan kecewa lebih dalam lagi… Padahal dia begitu mencintaiku. Aku tidak pernah tau betapa dia menyayangiku hingga akhirnya  dia pergi. Aku baru ingat betapa sedihnya dia saat aku harus keluar dari rumah dan pergi ke solo untuk sekolah. Bapak menangis lebih sering dari siapapun. Dia bahkan memajang foto terakhirku saat itu di tempat yang sering terlihat olehnya. Tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya sosok seperti bapak akhirnya menangis...
Seingatku, bapak orang terkuat yang pernah aku kenal. Sosoknya saat masih muda dulu begitu mengerikan. Tapi dia bisa begitu mudah bergaul dengan siapapun. Dia tidak pernah takut menantang siapapun. Dia satu – satunya sosok yang kukenal yang bisa begitu disegani sekaligus disukai pada saat itu. Saat aku masih kecil, aku terbiasa dalam keramaian. Ada begitu banyak orang yang begitu bahagia berkumpul di rumahku karena bapak selalu membuka pintu rumah kami lebar – lebar untuk siapapun. Bapak menjadi sosok lelaki sempurna di mataku justru setelah dia pergi.
Meski begitu, di luar semua ketidakcocokan kami, aku dan bapak begitu dekat. Aku terlalu menyayanginya… Hingga tiap kali melihatnya sakit, aku gelisah... Aku berharap dapat menggantikannya... Beberapa waktu sebelum bapak akhirnya pergi aku begitu ketakutan... Bagaimana jika bapak akhirnya meninggal ?? Aku tidak sanggup membayangkan hidup seperti itu... Setiap malam aku keluar dari kamarku hanya untuk melihat apakah dia masih bernafas...
Bapak yang memperkenalkan aku pada music… menjelaskan banyak hal padaku tentang jaz, blues, country, dan music – music lainnya meski aku terlalu bodoh untuk mengerti setiap ucapannya. Dia yang selalu mengajakku untuk menikmati dangdut, keroncong, dan berbagai jenis music lainnya. Dia mengajariku cara bermain gitar, berlatih teater, yoga, bagaimana cara merancang bangunan, dan banyak hal lainnya. Dia bahkan begitu bersemangat mengajariku bermain basket saat aku uring – uringan sebelum pengambilan nilai olah raga di SMA dulu.  Tapi aku terlalu bodoh untuk mengerti semua yang diajarkannya. Dan aku hanyalah pecundang brengsek yang dengan bodohnya mempertanyakan kinerja dan idealismenya. Aku hanyalah seorang gadis yang picik yang dengan begitu idiotnya menganggap dia selalu pamer kesana kemari tentang apa yang tengah dikerjakannya. Aku hanya orang yang berpikiran terlalu sempit untuk mengerti semua pemikirannya yang begitu jauh dan luas. Aku salah…
Tuhan… Aku ikhlas. Aku bisa merelakan semua kenangan indah bersamanya yang tidak akan pernah kembali lagi. Senyum tulusnya, tawa khasnya yang berniat untuk membahagiakanku, marahnya, dan semua tentangnya, tidak akan bisa kembali lagi. Meski tiap kali mengingat semua itu, rasanya sungguh menyakitkan… Tapi aku tidak sanggup… Jika mengingat semua hal kejam yang telah kulakukan padanya. Dia tidak akan pernah sadar betapa aku mencintainya. Dia tidak akan pernah tau betapa aku bangga padanya. Aku tak bisa tahan, Tuhan… Setiap kali membayangkan dia di saat – saat terakhirnya… Aku tidak bisa berada di sisinya, untuk bahkan sekedar menunjukkan betapa aku peduli padanya. Semua orang pasti mati, hanya saja, begitu banyak “tidak sempat…” yang akhirnya menjadi sesal setelah dia pergi. Aku bingung… Aku harus apa ??? Sejauh apapun pencapaianku, bapak tidak lagi ada disini untuk melihatnya.
Aku menyesal… Atas semua kelakuanku dan caraku memandangnya selama ini. Ada banyak hal tentangku yang tidak sempat dia lihat dan ketahui… Aku tidak sempat mengatakan kepadanya semua yang ingin aku katakan… Karena itu, aku ingin orang lain tau… My father is a great man… he was, and always be… Aku sayang dia dan begitu bangga padanya. Aku mau semua orang tau itu…

Senin, 02 April 2012

Imprint Thing (Imprinting)



                Aku menunduk memandangi lantai semen di bawah kursi kemudian beralih menengadahkan kepala memandangi bintang – bintang yang terlihat jelas tanpa awan di langit malam kota solo. Saat ini, aku tengah duduk berdua dengan seorang lelaki tinggi dan tegap di beranda depan rumah eyang. Laki laki itu bernama Adjie, dia dan keluarganya tinggal tepat di sebelah rumah eyang Tyo. Aku tinggal bersama eyang sejak usiaku 6 tahun, krna papa dan mama harus bercerai dan eyang putri bersikeras agar aku tinggal dengannya Sejak saat itu pula aku dan Adjie menjadi sangat akrab, meski usia kami berbeda 4 tahun. Kami selalu bersama… Dan kami saling jatuh cinta… Hubungan kami tanpa kata – kata cinta. Dan orang2 melihat kami seperti dua bersaudara yang saling menyayangi. Coba saja tanyakan pada setiap orang di dunia ini. Tidak akan ada satu orang pun yg tahu, bahwa ada cerita antara aku dan dia. Kami menyimpan semua ini hanya untuk kami berdua. Jika kau bertanya padaku bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi. Aku akan menjawabnya. Hubungan kami tanpa bicara, Hanya saling memahami perasaan masing2... Selanjutnya, hanya menungGu waktu untuk terus bersama.
                Adjie meninggalkan kota Solo dan tinggal di Jakarta untuk menyelesaikan kuliahnya. Saat itu usiaku 14 tahun. Orang – orang pasti mencemooh dan mengatakan perasaanku pada Adjie hanyalah cinta monyet. Tapi buktinya, 6 tahun tanpa Adjie, aku masih menganggap akan ada saatnya bagi kami untuk bisa bersama lagi. Hingga 1 minggu yang lalu, harapan itu hancur dan habis tersapu seperti debu tertiup angin. Hari ini tepat 7 hari aku berada di solo. Sejak memutuskan menerima tawaran untuk kuliah dan tinggal di Bali bersama papa, aku hanya pulang ke solo 1 tahun sekali saat liburan semester genap. Dan liburan kali ini, terasa begitu tragis dan mengenaskan. Aku sudah mengurung diri di dalam rumah dan menghindar sebisa mungkin agar tidak bertemu Adjie, namun akhirnya lelaki itu datang dan memaksa untuk bertemu denganku hingga jadilah malam ini kami duduk di beranda depan rumah eyang tempat biasa kami bermain dan berkemah setiap sabtu malam saat kami masih anak2.
“ Nay…” suara Adjie begitu lembut menyapaku
“ Selamat yaa…” jawabku miris seraya memberi senyuman termanis yang bisa kuperlihatkan, “sudah berapa lama…??” aku melanjutkan. Adjie menghela nafas panjang
“ 4 bulan…” sahutnya, dia lalu melanjutkan “ Kalian mirip… Mama juga suka dia…”
“ Good to know…” kembali memaksakan senyum. Apa cowok ini datang hanya untuk membicarakan istrinya di hadapanku…?? Karena aku tidak berminat sama sekali.
“  Nggak ada yg bisa menolak cinta nay… Itu yg terjadi sama aku sejak aku kenal dia…”
Sungguh kata – kata Adjie barusan terasa begitu tajam dan melukai hatiku… Jika itu cinta, lalu apa yang hadir di antara aku dan dia dulu…
“ kamu punya pacar…??” Adjie melanjutkan. Aku terdiam sejenak. Apa pertanyaan ini wajar…?? Aku tersenyum kecil. Lalu menggelengkan kepala.
“ Sampai 1 minggu yang lalu, aku masih mengira, bahwa ciuman di kening 6 tahun yang lalu adalah sebuah komitmen…” jawabku lirih dengan kepala tertunduk, berusaha menyembunyikan air mata.
“ Dulu, apapun yg kamu lakuin… kamu selalu bilang itu semua buat aku…” Aku ingat...
Adjie yang ikut latihan taekwondo dengan alasan mau melindungi aku dari apapun. Adjie yang memutuskan belajar main gitar, karena aku berkata padanya aku hanya mau nikah sama cowok yang pinter main musik. Dan akhirnya dia selalu menyanyikan lagu favoritku setiap malam dari beranda kamarnya. Aku pikir itu karena cinta…
" Waktu kamu umur 17 tahun, kamu bilang suatu saat kita pasti bisa buat rumah yang tinggi dengan beranda di lantai 2, taman belakang yang luas dan banyak pohon2 tinggi dan bunga – bunga yang aku suka, ayunan panjang dan sebagainya. Aku pikir itu artinya kamu cinta aku… Waktu kamu umur 18 tahun, kamu bilang kamu ngerasa suatu saat nanti kita pasti bisa tinggal di rumah impian kita dan dengan bodohnya aku mengira bahwa itu tandanya kamu minta aku buat nunggu kamu hingga datang saatnya buat kita bs bersama…  Sampai satu minggu yang lalu, aku masih berpikir, bahwa perasaan yang hadir di antara kita dulu itu cinta… Tapi sekarang, aku bingung… Apa yang sebenernya terjadi pada kita dulu…”
“ Itu cinta nay…” jawab Adjie lirih. Aku bisa mendengarnya dengan jelas. Kekuatanku runtuh seketika mendengar kata – kata itu. Itu cinta…
 Adjie bangkit dari tempat duduknya dan bersimpuh di hadapanku.
“ apa yang kita rasain dulu itu bener… Aku cinta kamu… Sejak kapan…?? Aku juga nggak tahu, dan aku yakin kamu juga begitu…” Kata – kata manis ini terlalu menyakitkan… Kenapa sekarang…??
“ Bertahun – tahun kita seperti ini, aku ngerasa ada komitmen di antara kita walaupun nggak pernah ada kata cinta… Ironis sekali, kamu akhirnya bilang cinta ke aku justru setelah kamu beristri…” aku mulai menangis…
“ Maaf…” Sahut adjie lirih… Dia kelihatan begitu terluka… Ini pertama kalinya aku melihat Adjie seperti ini… Dia menangis...
“ Aku selalu bahagia saat bersama kamu... Tapi sejak aku ketemu dia, aku nggak bisa menolak perasaan yang datang padaku. semakin aku berusaha menolak, perasaanku tumbuh semakin dalam padanya. Aku sangat yakin kalau aku cinta kamu... Kamu yang jadi motivasi aku selama 6 tahun ini... Tapi aku juga nggak bisa membantah kalau aku sudah jatuh cinta sama orang lain. Andai kamu tahu... Aku hampir gila... Lalu aku sadar akan satu hal. Aku bisa merasa bahagia hanya dengan memikirkan kamu meskipun aku nggak bisa ketemu kamu setiap hari selama 6 tahun ini, tapi dia... Semakin lama aku nggak ketemu dia, aku ngerasa sakit..." Adjie menundukkan kepalanya di hadapanku, berlaku seperti seorang anak yang hendak meminta pengampunan pada ibunya. "aku akhirnya memilih untuk mencintai kamu sebagai adikku…” lanjut Adjie… Air mataku semakin deras dan aku mulai sesenggukan. Apa ini adil…?? Betapa jahatnya kalimat itu buatku… Aku kesal, marah, sedih, dan sayang dalam waktu bersamaan.
-end-
 
Copyright (c) 2010 A Girl Like Me and Powered by Blogger.