Kata
pepatah... “Dunia kerja adalah dunia yang kejam”. Kalimat itu tidak muncul
begitu saja tanpa sebab musabab yang jelas. Well, theres a reason for it... Setelah
kau memasuki dunia kerja, ada beberapa hal yang perlu kau pahami... Jika kau
cantik, segalanya akan terasa sulit untukmu... Jika kau pintar, orang - orang akan berusaha menendangmu
keluar... Jika kau pernah membuat skandal, jangan harap kehidupan sosial di
kantor akan berjalan dengan tenang dan damai... Well, mungkin tidak semua kantor menganut
paham seperti itu. Tapi bagi Rhea, itulah realita dunia perkantoran. Kejam dan
menyakitkan. Bukan karena Rhea kelewat cantik. Bukan juga karena dia kelewat
pintar. Dengan tampilan boyish yang sama sekali tidak memiliki sense fashion
itu, aneh rasanya jika ada lelaki yang kembali melayangkan pandangan padanya
setelah melengos pandangan pertama. Besides, di kantor ini, wanita cantik dan
sadar fashion ada banyak bertaburan bagai meises coklat di atas donat. Lalu untuk kategori pintar...?? Rhea memang memiliki kinerja
yang sangat baik, karirnya pun berjalan mulus... Tapi tidak cukup cemerlang
untuk menjadi musuh bersama di dalam kantor yang megah ini. Satu – satunya alasan
yang membuat Rhea begitu dibenci oleh para wanita cantik di kantor ini adalah
Indie. Wanita cantik modis dan pintar ini adalah rekan sesama tim kreatif rhea.
Jika dilihat secara kasat mata, tentu tidak ada alasan bagi Indie untuk
membenci rhea. Mereka begitu jarang bertegur sapa hingga akhirnya rhea
menemukan fakta bahwa indie ternyata berpacaran dengan Rio, sahabat terbaik
rhea sepanjang masa. Kalau saja rhea tidak melihat indie dengan laki – laki
lain setiap kali mereka pulang kantor, tentu dia tidak akan keberatan indie
berpacaran dengan rio. Dan cerita berikutnya berjalan sebagaimana
mestinya. Rhea menjadi orang yang paling sering dibicarakan di kalangan para
wanita, dimulai sejak indie dicampakkan oleh Rio. Kehidupan kerja tidak lagi
mudah bagi rhea setelah insiden itu. Banyak yang berbisik menyebutnya jalang
dan memberi predikat backstabber, spesialis tukang tikung, dan berbagai
panggilan yang tidak akan pernah terdengar indah di telinga siapapun. Indie
telah kehilangan pacar dengan tabungan dan kartu kredit terbanyak yang pernah
dia miliki. Thats why, kebenciannya terhadap rhea menjadi begitu mengerikan.
“Kalo
gue jadi elo rhe, mending gue berenti kerja daripada tiap hari makan hati
begini... gue kawinin itu si rio... terus hidup bahagia di depan idungnya indie...”
Rhea hanya mendesah mendengar kata – kata alin, office girl yang begitu setia
menemaninya setiap kali dia harus lembur karena ulah indie akhir – akhir ini. “lo
pikir kawin itu macem orang main bekel...?? bisa seenak udel gitu... lagian si
rio kan sohib gue... bukan pacar gue...” rhea menjawab ketus. Otaknya sudah
mulai buntu... Tapi deadline tidak bisa diganggu gugat... Alin gantian mendesah
panjang “Hari gini rhe... lo pikir masih ada itu yang namanya sohib laki ama
perempuan...”. kali ini rhea tidak menjawab. Dia bosan mendengar pernyataan
semacam ini. Orang – orang selalu meragukan persahabatannya dengan rio. Dan
topik seperti ini lah yang akhir – akhir ini membuat kupingnya panas. Sepertinya
sedikit lagi rhea akan meledak.
***
Rhea
menatap layar ponselnya, memandangi nama rio yang tertulis disana. Haruskah dia
menelpon sahabatnya itu untuk berkeluh kesah ? Ini sudah yang ketiga kalinya. Indie
mencuri ide dan hasil kerja kerasnya. Gadis licik itu melakukannya dengan
sangat baik kali ini. Rhea mengatur nafas untuk menenangkan hati dan
pikirannya. You’ll lose if u cry. Rasanya tidak tepat bercerita pada rio
tentang hal ini. Baru 2 bulan sahabatnya itu putus.
“ Yea...
Like i care... what a rubbish rumor...” rhea mengangkat kepalanya dan beralih
menatap pintu toilet tempatnya berada sekarang begitu mendengar suara yang
begitu dibencinya itu. Indie. Gadis itu sedang berbicara dengan seseorang. Ladies
room memang seringkali beralih fungsi menjadi ruang gosip. Sepertinya tidak ada yang tahu keberadaan rhea di dalam salah
satu toilet saat ini.“problematika pria
tampan ndie...” sahut temannya yang lain yang disusul suara cekikikan gadis – gadis yang lain.
“hati – hati aja lo... si bitchy pasti lagi mengintai...” masih suara yang
sama. Tidak ada yang mendapat panggilan itu di kantor ini selain rhea. Bitch ! “lo
aja yang hati – hati... kalo bisa pasangin alarm tu cowok lo... she sleeps with everyman for free...
menurut lo apalagi yang bisa dia lakuin bwt menarik perhatian lelaki...? kualifikasi
fisik dan penampilan... lo tau sendiri
lahh kayak apa... no style, no fashion, tampang paspasan !” itu suara indie. What a snake ! Harus bagaimana rhea bereaksi terhadap kata – kata ini ? Apalagi yang tersisa untuk rhea di kantor ini ?
pekerjaan berantakan, nama baik dan kualitas kerjanya had flied through a
window, dan lagi dia sekarang menjadi orang yang terpinggirkan dalam kehidupan
sosial kantor. Pride is the only thing she has now. Jika dia keluar dari kantor
ini, sama saja dengan mundur dan mengakui semua tuduhan orang terhadapnya, mengakui
bahwa dirinya incompetent, dan akhirnya satu – satunya yang dia miliki sekarang
akan ikut menghilang. Dia tidak boleh mundur dengan meninggalkan kesan yang
seperti ini. Tidak dalam keadaan begini. Rhea membuka pintu toilet dan
melangkahkan kakinya dengan berat hati, melewati orang – orang yang baru saja
berbicara buruk di depan cermin tentang dirinya. Meskipun orang – orang itu sudah
secara terang – terangan membenci dirinya, tetap saja mereka tampak sedikit
terkejut dengan kemunculan rhea yang begitu tiba – tiba dari dalam toilet. “whore...”
terdengar suara yang dengan pelan mengumpat di belakang. Rhea menghentikan
langkahnya. Thats it ! enough !! Lets do this war. dengan cepat rhea berbalik dan
mendekati sumber suara yang membuatnya naik darah itu. “of course, i can b
bitchy... you shud start to feel insecure from now on...” rhea berhenti untuk mengambil nafas. Dilihatnya wajah lawan
bicaranya. Gadis itu tampak sangat terkejut.“ be careful what u wish for
!” rhea berkata tanpa ragu lalu kembali
berbalik dan meninggalkan ladies room secepat mungkin.
***
Meskipun
berpenampilan lusuh dan seadanya. Maeve Rhea Irdina bukannya orang yang buta fashion. Sama sekali bukan ! Dia juga bukan wanita yang tidak
tahu bagaimana caranya menggunakan make up dan bagaimana memilih pakaian yang
bagus. Bertahun – tahun yang lalu, bahkan mungkin sebelum para wanita modis di
kantornya tau bagaimana cara berdandan dengan benar, dia sudah terbiasa
berdandan dengan cantik dan modis. Hanya saja, setelah cinta pertamanya pergi
begitu saja, rhea akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukan semua itu. Lelaki
seperti titan, cinta pertamanya yang begitu sempurna, tidak menyukai gadis semacam
rhea. That kinda man tend to fall in love to a smart girl who dressed
naturally... gadis yang bersinar karena kecerdasannya dan tidak mudah terbawa
arus. Dengan kata lain, anti mainstream. Karena itu rhea memutuskan untuk
berhenti hidup seperti carrie bradshaw dan kawan - kawannya. Titan selalu
memandang sebelah mata pada wanita – wanita semacam itu. Rio tahu tentang ini. Karena
itu, saat rhea tiba – tiba muncul di hadapannya dan berkata “buy me some
clothes !”, cowok itu mengabulkan permintaan rhea tanpa ragu. Dia tahu, pasti
terjadi sesuatu pada gadis itu. “what happenned ?” tanya rio akhirnya setelah
mereka selesai belanja dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di coffee
house favorit mereka. Rhea hanya mendesah panjang. “lo lagi jatuh cinta ?”tanya
rio lagi. Kali ini terdengar lebih mendesak. “lo tau... bahkan innocent people
sekalipun, kalo tiap hari ditereakin maling, bisa berubah jadi maling beneran...”
Rhea akhirnya buka suara. Tapi rio tampaknya tidak mengerti apa yang sedang
dibicarakan oleh sahabatnya itu. “ngomong apa si lo ?” Rio mulai tidak sabaran.
“Gara – gara lo ! sekarang gue dapet predikat bitch, whore, and slut dari para
fashionista kelas atas di kantor gue... mereka tu kayak nggak ada capeknya tiap
hari ngatain gue tukang tikung lah, cewek penggoda lah, ato sebutan – sebutan
laen hasil kreasi mantan lo itu...” rhea berhenti. Dia lalu kembali melanjutkan
“trus menurut lo... gue mesti gimana coba ?”. Rio mengerutkan kening. Sepertinya
dia masih belum yakin apa yang sedang dibicarakan oleh rhea. “kata – kata
adalah doa boy ! im gonna grant their wish... dan satu lagi! gk peduli sekuat
apa gue berusaha untuk menang dari mantan lo, selama pimred gue masih orang
itu, lelaki yang begitu menghargai fashion, sampe modar juga gue gk akan menang
dengan tampilan yang jujur seperti ini”Rhea bisa melihat perubahan ekspresi di
wajah sahabatnya itu karena apa yang baru saja dia katakan. You wont b serious...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar