Pages

Rabu, 11 April 2012

Setelah Dia Pergi


Aku dan bapak seringkali tidak akur. Setiap kali dia menasehatiku, aku selalu menyahut. Tapi meski begitu, aku selalu sayang dia.
Aku dan bapak lebih sering berbeda pendapat. Setiap kali dia menjelaskan sesuatu, aku selalu mendebatnya. Meski begitu, aku tetap sayang dia.
Selama hidupnya dia berusaha mengajariku banyak hal, sementara aku selalu saja acuh tak acuh dengan semua yang dikatakannya. Bapak berusaha menjelaskan banyak hal tentang apa yang tengah dikerjakannya, tapi aku tidak pernah benar – benar mendengarkan. Mungkin, di dunia ini, akulah manusia yang paling enggan mendengar semua penjelasannya. Aku yang paling meragukan dan meremehkannya. Aku kesal, karena bapak begitu sibuk mengurusi hal – hal yang kuanggap berlebihan. Aku keberatan kalau setiap kali bapak harus bepergian jauh sendirian. Aku khawatir…
Aku selalu ingat tiap kali bapak meminta tolong… “ Tolong dong ma… Installin computer depan…” “ Tolong dong ma… Bersihin Flashdisk bapak…” “Tolong dong ma… Cepetan selesai… mumpung bapak masih hidup...”. aku selalu menggampangkan… selalu menunda… sampai akhirnya bapak harus meminta tolong berkali – kali. Tidak jarang aku hanya menjawab “ iya ntar… “. Dan apa balasan bapak stlh aku menjawab seperti itu ?? “tolong yaa maa…”. There’s a simple joy in his voice… Ada pengharapan dan rasa terimakasih yang terbersit dari nada bicaranya… Bapak tdk pernah marah… Hingga akhirnya, bapak pergi untuk selamanya… Terlalu banyak permintaannya yang belum sempat kupenuhi. Dan terlalu banyak rencana – rencanaku yang belum sempat terlaksana. Ini seperti mimpi... Rasanya mustahil bapak meninggal begitu cepat. Apa aku melewatkan isyarat – isyarat terakhir yang diberikan bapak sebelum pergi ?? Setiap kali bapak bilang “bapak mungkin udah nggak sempat…” aku selalu menganggap itu sekedar kata – kata gurauan. What hurt the most… is when I remember… Bapak selalu berusaha membuat aku bangga padanya Sementara aku tidak pernah melakukan hal yang sama untuknya… Dan ironisnya, aku baru bisa melihat perjuangannya dan merasa begitu bangga padanya justru setelah dia pergi… Aku terlalu buta…
Sekarang aku sadar… Semua yang bapak bilang memang benar… Semua yang dia kerjakan bukan hal yang sia – sia dan mustahil untuk diwujudkan. My dad was a great architect… He used to plan a building… Aku selalu bertanya kenapa dia akhirnya keluar dari jalur arsiteknya. Aku terlalu picik dan berpikiran sempit. Sekarang aku tau jawabannya. Dia tidak pernah keluar jalur. Dia berhenti merancang bangunan dan beralih merancang sesuatu yang lebih besar. Dia merancang konsep yang sesuai untuk masyarakat. Aku ingat, bapak selalu bilang, jika program lumbung ini sukses, kita tidak akan kelaparan dan impor beras lagi. Kita bakal bisa mencukupi kebutuhan beras kita. Dan seperti itulah bapak. Bertahun – tahun berusaha menyambung silaturrahmi dan membangun persaudaraan dengan datang ke desa – desa demi mensukseskan program yang telah dirancangnya dengan begitu teliti. Aku Menyesal… Ada banyak hal yang bapak rencanakan untuk komunitas lumbung ini. Dia membuat begitu banyak konsep dan menyusun filosofi – filosofi yang akhirnya dia tanamkan pada pikiran setiap orang yang ditemuinya. Dia merencanakan ini semua selama bertahun - tahun. Seperti program terakhir yang dirancangnya. Bapak berkali – kali mengatakan padaku, jika program ini bisa berjalan dengan sukses, kita tidak perlu lagi mengemis bantuan dana dari pemerintah. Aku selalu menganggap bapak terlalu banyak bicara tanpa pernah berusaha untuk melakukan sesuatu. Aku salah… Bagaimana bisa aku meragukannya seperti itu. Sementara hasil “karya” nya bukannya tidak ada yang terlihat. Bapak bercerita tentang apa yang dulu dilakukannya semasa muda. Dia ingin aku belajar. Dan terlebih lagi, dia ingin mengajarkanku untuk tidak terikat dengan uang. Salah satu hasil karyanya yang aku saksikan secara langsung ?? TBBAI... Awalnya, TK kami mungkin terlihat seperti TK dadakan. Semua anak boleh ikut bermain dan belajar disana tanpa harus mendaftar. Semua anak boleh memutuskan untuk tetap masuk sekolah atau tidak. TK kami tumbuh perlahan – lahan. Bapak mulai membangun sarana bermain untuk kami, hingga akhirnya sekarang sudah terbentuk yayasan yang resmi untuk menangani TK. Bapak tidak pernah mau ikut andil dalam yayasan. Setelah semuanya terbentuk, dia beralih merancang program yang lain. Ada banyak yang hal yang pernah dikerjakannya. Hanya saja, rancangannya kali ini  tidaklah semudah konsep – konsep sebelumnya. Butuh waktu bertahun – tahun, belasan tahun, atau bahkan puluhan. Tapi dia tidak jalan di tempat. Dia tidak hanya bicara. Dia mengumpulkan masyarakat yang akan menjadi sasaran program yang dirancangnya dengan berkeliling ke seluruh Lombok. Dia melakukannya dengan ikhlas dan penuh semangat. Aku yang terlalu buta untuk melihat semua usahanya. Dia berbicara banyak untuk mengajak sebanyak mungkin orang ikut bergabung dan turut andil dalam semua ini, karena seperti itulah seharusnya semua ini bekerja. Program ini butuh pemain. Terlebih lagi, bapak menyadari kalau dia sudah tidak muda lagi, fisiknya tidak sekuat dulu. Itulah sebabnya dia ingin membagi semuanya kepada sebanyak mungkin orang karena dia tidak akan mampu untuk menjalankan semua ini sendiri. Dia membawa konsep dan filosofi lumbungnya kemanapun dia pergi. God, he had a beautiful mind… Bahkan hingga akhir hayatnya, dia merelakan dirinya pergi untuk selamanya dalam keadaan sedang menjalankan misi. Meski selama ini bapak selalu bilang. Alangkah indahnya jika dia bisa mati di pangkuan mama. Tapi keinginannya yang begitu sederhana akhirnya tidak bisa terwujud. Tubuhnya mungkin sudah tidak sanggup lagi. Tuhan mungkin tidak ingin bapak menderita lebih lama lagi karena penyakitnya. Walaupun mungkin bapak sudah berusaha menahan semua rasa sakitnya agar bisa sampai di rumah sebelum dia pergi untuk selamanya. Tuhan begitu menyayanginya… Tuhan tahu, jika bapak lebih lama lagi hidup di dunia ini, hanya sakit yang akan didapatnya. Aku akan menyakitinya lebih lama lagi, dan dia akan kecewa lebih dalam lagi… Padahal dia begitu mencintaiku. Aku tidak pernah tau betapa dia menyayangiku hingga akhirnya  dia pergi. Aku baru ingat betapa sedihnya dia saat aku harus keluar dari rumah dan pergi ke solo untuk sekolah. Bapak menangis lebih sering dari siapapun. Dia bahkan memajang foto terakhirku saat itu di tempat yang sering terlihat olehnya. Tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya sosok seperti bapak akhirnya menangis...
Seingatku, bapak orang terkuat yang pernah aku kenal. Sosoknya saat masih muda dulu begitu mengerikan. Tapi dia bisa begitu mudah bergaul dengan siapapun. Dia tidak pernah takut menantang siapapun. Dia satu – satunya sosok yang kukenal yang bisa begitu disegani sekaligus disukai pada saat itu. Saat aku masih kecil, aku terbiasa dalam keramaian. Ada begitu banyak orang yang begitu bahagia berkumpul di rumahku karena bapak selalu membuka pintu rumah kami lebar – lebar untuk siapapun. Bapak menjadi sosok lelaki sempurna di mataku justru setelah dia pergi.
Meski begitu, di luar semua ketidakcocokan kami, aku dan bapak begitu dekat. Aku terlalu menyayanginya… Hingga tiap kali melihatnya sakit, aku gelisah... Aku berharap dapat menggantikannya... Beberapa waktu sebelum bapak akhirnya pergi aku begitu ketakutan... Bagaimana jika bapak akhirnya meninggal ?? Aku tidak sanggup membayangkan hidup seperti itu... Setiap malam aku keluar dari kamarku hanya untuk melihat apakah dia masih bernafas...
Bapak yang memperkenalkan aku pada music… menjelaskan banyak hal padaku tentang jaz, blues, country, dan music – music lainnya meski aku terlalu bodoh untuk mengerti setiap ucapannya. Dia yang selalu mengajakku untuk menikmati dangdut, keroncong, dan berbagai jenis music lainnya. Dia mengajariku cara bermain gitar, berlatih teater, yoga, bagaimana cara merancang bangunan, dan banyak hal lainnya. Dia bahkan begitu bersemangat mengajariku bermain basket saat aku uring – uringan sebelum pengambilan nilai olah raga di SMA dulu.  Tapi aku terlalu bodoh untuk mengerti semua yang diajarkannya. Dan aku hanyalah pecundang brengsek yang dengan bodohnya mempertanyakan kinerja dan idealismenya. Aku hanyalah seorang gadis yang picik yang dengan begitu idiotnya menganggap dia selalu pamer kesana kemari tentang apa yang tengah dikerjakannya. Aku hanya orang yang berpikiran terlalu sempit untuk mengerti semua pemikirannya yang begitu jauh dan luas. Aku salah…
Tuhan… Aku ikhlas. Aku bisa merelakan semua kenangan indah bersamanya yang tidak akan pernah kembali lagi. Senyum tulusnya, tawa khasnya yang berniat untuk membahagiakanku, marahnya, dan semua tentangnya, tidak akan bisa kembali lagi. Meski tiap kali mengingat semua itu, rasanya sungguh menyakitkan… Tapi aku tidak sanggup… Jika mengingat semua hal kejam yang telah kulakukan padanya. Dia tidak akan pernah sadar betapa aku mencintainya. Dia tidak akan pernah tau betapa aku bangga padanya. Aku tak bisa tahan, Tuhan… Setiap kali membayangkan dia di saat – saat terakhirnya… Aku tidak bisa berada di sisinya, untuk bahkan sekedar menunjukkan betapa aku peduli padanya. Semua orang pasti mati, hanya saja, begitu banyak “tidak sempat…” yang akhirnya menjadi sesal setelah dia pergi. Aku bingung… Aku harus apa ??? Sejauh apapun pencapaianku, bapak tidak lagi ada disini untuk melihatnya.
Aku menyesal… Atas semua kelakuanku dan caraku memandangnya selama ini. Ada banyak hal tentangku yang tidak sempat dia lihat dan ketahui… Aku tidak sempat mengatakan kepadanya semua yang ingin aku katakan… Karena itu, aku ingin orang lain tau… My father is a great man… he was, and always be… Aku sayang dia dan begitu bangga padanya. Aku mau semua orang tau itu…

4 komentar:

  1. Sabar yah dear...
    Papahnya pergi bukan berarti akhir dari mae buat papahnya bangga, insya allah papah masih bisa liat perjuangan mae meraih prestasi... Ammmiinn ya robbi *hug* :)

    BalasHapus
  2. pergi untuk kembali,, kembali membangkitkan semangant di dirimu.. ceritanya keren

    BalasHapus

 
Copyright (c) 2010 A Girl Like Me and Powered by Blogger.