Aku dan bapak seringkali tidak akur. Setiap kali dia menasehatiku, aku
selalu menyahut. Tapi meski begitu, aku selalu sayang dia.
Aku dan bapak lebih sering berbeda pendapat. Setiap kali dia
menjelaskan sesuatu, aku selalu mendebatnya. Meski begitu, aku tetap sayang
dia.
Selama hidupnya dia berusaha mengajariku banyak hal, sementara aku
selalu saja acuh tak acuh dengan semua yang dikatakannya. Bapak berusaha
menjelaskan banyak hal tentang apa yang tengah dikerjakannya, tapi aku tidak
pernah benar – benar mendengarkan. Mungkin, di dunia ini, akulah manusia yang
paling enggan mendengar semua penjelasannya. Aku yang paling meragukan dan
meremehkannya. Aku kesal, karena bapak begitu sibuk mengurusi hal – hal yang
kuanggap berlebihan. Aku keberatan kalau setiap kali bapak harus bepergian jauh
sendirian. Aku khawatir…
Aku selalu ingat tiap kali bapak meminta tolong… “ Tolong dong ma… Installin
computer depan…” “ Tolong dong ma… Bersihin Flashdisk bapak…” “Tolong dong ma…
Cepetan selesai… mumpung bapak masih hidup...”. aku selalu menggampangkan… selalu menunda… sampai akhirnya bapak
harus meminta tolong berkali – kali. Tidak jarang aku hanya menjawab “ iya ntar…
“. Dan apa balasan bapak stlh aku menjawab seperti itu ?? “tolong yaa maa…”.
There’s a simple joy in his voice… Ada pengharapan dan rasa terimakasih yang
terbersit dari nada bicaranya… Bapak tdk pernah marah… Hingga akhirnya, bapak
pergi untuk selamanya… Terlalu banyak permintaannya yang belum sempat kupenuhi.
Dan terlalu banyak rencana – rencanaku yang belum sempat terlaksana. Ini
seperti mimpi... Rasanya mustahil bapak meninggal begitu cepat. Apa aku
melewatkan isyarat – isyarat terakhir yang diberikan bapak sebelum pergi ??
Setiap kali bapak bilang “bapak mungkin udah nggak sempat…” aku selalu
menganggap itu sekedar kata – kata gurauan. What hurt the most… is when I
remember… Bapak selalu berusaha membuat aku bangga padanya Sementara aku tidak
pernah melakukan hal yang sama untuknya… Dan ironisnya, aku baru bisa melihat
perjuangannya dan merasa begitu bangga padanya justru setelah dia pergi… Aku
terlalu buta…
Sekarang aku sadar… Semua yang bapak bilang memang benar… Semua yang
dia kerjakan bukan hal yang sia – sia dan mustahil untuk diwujudkan. My dad was
a great architect… He used to plan a building… Aku selalu bertanya kenapa dia
akhirnya keluar dari jalur arsiteknya. Aku terlalu picik dan berpikiran sempit.
Sekarang aku tau jawabannya. Dia tidak pernah keluar jalur. Dia berhenti
merancang bangunan dan beralih merancang sesuatu yang lebih besar. Dia merancang
konsep yang sesuai untuk masyarakat. Aku ingat, bapak selalu bilang, jika
program lumbung ini sukses, kita tidak akan kelaparan dan impor beras lagi.
Kita bakal bisa mencukupi kebutuhan beras kita. Dan seperti itulah bapak.
Bertahun – tahun berusaha menyambung silaturrahmi dan membangun persaudaraan
dengan datang ke desa – desa demi mensukseskan program yang telah dirancangnya
dengan begitu teliti. Aku Menyesal… Ada
banyak hal yang bapak rencanakan untuk komunitas lumbung ini. Dia membuat
begitu banyak konsep dan menyusun filosofi – filosofi yang akhirnya dia
tanamkan pada pikiran setiap orang yang ditemuinya. Dia merencanakan
ini semua selama bertahun - tahun. Seperti program terakhir yang dirancangnya. Bapak
berkali – kali mengatakan padaku, jika program ini bisa berjalan dengan sukses,
kita tidak perlu lagi mengemis bantuan dana dari pemerintah. Aku selalu
menganggap bapak terlalu banyak bicara tanpa pernah berusaha untuk melakukan
sesuatu. Aku salah… Bagaimana bisa aku meragukannya seperti itu. Sementara
hasil “karya” nya bukannya tidak ada yang terlihat. Bapak bercerita tentang apa
yang dulu dilakukannya semasa muda. Dia ingin aku belajar. Dan terlebih lagi,
dia ingin mengajarkanku untuk tidak terikat dengan uang. Salah satu hasil karyanya yang aku saksikan secara langsung ?? TBBAI... Awalnya, TK kami mungkin terlihat seperti TK
dadakan. Semua anak boleh ikut bermain dan belajar disana tanpa harus
mendaftar. Semua anak boleh memutuskan untuk tetap masuk sekolah atau tidak. TK
kami tumbuh perlahan – lahan. Bapak mulai membangun sarana bermain untuk kami,
hingga akhirnya sekarang sudah terbentuk yayasan yang resmi untuk menangani TK. Bapak tidak pernah mau ikut andil dalam yayasan. Setelah semuanya terbentuk,
dia beralih merancang program yang lain. Ada banyak yang hal yang pernah dikerjakannya.
Hanya saja, rancangannya kali ini tidaklah semudah konsep – konsep sebelumnya.
Butuh waktu bertahun – tahun, belasan tahun, atau bahkan puluhan. Tapi dia
tidak jalan di tempat. Dia tidak hanya bicara. Dia mengumpulkan masyarakat yang
akan menjadi sasaran program yang dirancangnya dengan berkeliling ke seluruh
Lombok. Dia melakukannya dengan ikhlas dan penuh semangat. Aku yang terlalu
buta untuk melihat semua usahanya. Dia berbicara banyak untuk mengajak sebanyak
mungkin orang ikut bergabung dan turut andil dalam semua ini, karena seperti
itulah seharusnya semua ini bekerja. Program ini butuh pemain. Terlebih lagi,
bapak menyadari kalau dia sudah tidak muda lagi, fisiknya tidak sekuat dulu.
Itulah sebabnya dia ingin membagi semuanya kepada sebanyak mungkin orang karena
dia tidak akan mampu untuk menjalankan semua ini sendiri. Dia membawa konsep
dan filosofi lumbungnya kemanapun dia pergi. God, he had a beautiful mind… Bahkan
hingga akhir hayatnya, dia merelakan dirinya pergi untuk selamanya dalam
keadaan sedang menjalankan misi. Meski selama ini bapak selalu bilang. Alangkah
indahnya jika dia bisa mati di pangkuan mama. Tapi keinginannya yang begitu
sederhana akhirnya tidak bisa terwujud. Tubuhnya mungkin sudah tidak sanggup
lagi. Tuhan mungkin tidak ingin bapak menderita lebih lama lagi karena
penyakitnya. Walaupun mungkin bapak sudah berusaha menahan semua rasa sakitnya agar
bisa sampai di rumah sebelum dia pergi untuk selamanya. Tuhan begitu
menyayanginya… Tuhan tahu, jika bapak lebih lama lagi hidup di dunia ini, hanya
sakit yang akan didapatnya. Aku akan menyakitinya lebih lama lagi, dan dia akan
kecewa lebih dalam lagi… Padahal dia begitu mencintaiku. Aku tidak pernah tau
betapa dia menyayangiku hingga akhirnya
dia pergi. Aku baru ingat betapa sedihnya dia saat aku harus keluar dari
rumah dan pergi ke solo untuk sekolah. Bapak menangis lebih sering dari
siapapun. Dia bahkan memajang foto terakhirku saat itu di tempat yang sering
terlihat olehnya. Tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya sosok seperti bapak akhirnya menangis...
Seingatku, bapak orang terkuat yang pernah aku kenal. Sosoknya saat masih muda
dulu begitu mengerikan. Tapi dia bisa begitu mudah bergaul dengan siapapun. Dia
tidak pernah takut menantang siapapun. Dia satu – satunya sosok yang kukenal
yang bisa begitu disegani sekaligus disukai pada saat itu. Saat aku masih
kecil, aku terbiasa dalam keramaian. Ada begitu banyak orang yang begitu bahagia berkumpul di
rumahku karena bapak selalu membuka pintu rumah kami lebar – lebar untuk
siapapun. Bapak menjadi sosok lelaki sempurna di mataku justru setelah dia
pergi.
Meski begitu, di luar semua ketidakcocokan kami, aku dan bapak begitu
dekat. Aku terlalu menyayanginya… Hingga tiap kali melihatnya sakit, aku gelisah... Aku berharap dapat menggantikannya... Beberapa waktu sebelum bapak akhirnya pergi aku begitu ketakutan... Bagaimana jika bapak akhirnya meninggal ?? Aku tidak sanggup membayangkan hidup seperti itu... Setiap malam aku keluar dari kamarku hanya untuk melihat apakah dia masih bernafas...
Bapak yang memperkenalkan aku pada music… menjelaskan banyak hal padaku tentang jaz, blues, country, dan music – music lainnya meski aku terlalu bodoh untuk mengerti setiap ucapannya. Dia yang selalu mengajakku untuk menikmati dangdut, keroncong, dan berbagai jenis music lainnya. Dia mengajariku cara bermain gitar, berlatih teater, yoga, bagaimana cara merancang bangunan, dan banyak hal lainnya. Dia bahkan begitu bersemangat mengajariku bermain basket saat aku uring – uringan sebelum pengambilan nilai olah raga di SMA dulu. Tapi aku terlalu bodoh untuk mengerti semua yang diajarkannya. Dan aku hanyalah pecundang brengsek yang dengan bodohnya mempertanyakan kinerja dan idealismenya. Aku hanyalah seorang gadis yang picik yang dengan begitu idiotnya menganggap dia selalu pamer kesana kemari tentang apa yang tengah dikerjakannya. Aku hanya orang yang berpikiran terlalu sempit untuk mengerti semua pemikirannya yang begitu jauh dan luas. Aku salah…
Bapak yang memperkenalkan aku pada music… menjelaskan banyak hal padaku tentang jaz, blues, country, dan music – music lainnya meski aku terlalu bodoh untuk mengerti setiap ucapannya. Dia yang selalu mengajakku untuk menikmati dangdut, keroncong, dan berbagai jenis music lainnya. Dia mengajariku cara bermain gitar, berlatih teater, yoga, bagaimana cara merancang bangunan, dan banyak hal lainnya. Dia bahkan begitu bersemangat mengajariku bermain basket saat aku uring – uringan sebelum pengambilan nilai olah raga di SMA dulu. Tapi aku terlalu bodoh untuk mengerti semua yang diajarkannya. Dan aku hanyalah pecundang brengsek yang dengan bodohnya mempertanyakan kinerja dan idealismenya. Aku hanyalah seorang gadis yang picik yang dengan begitu idiotnya menganggap dia selalu pamer kesana kemari tentang apa yang tengah dikerjakannya. Aku hanya orang yang berpikiran terlalu sempit untuk mengerti semua pemikirannya yang begitu jauh dan luas. Aku salah…
Tuhan… Aku ikhlas. Aku bisa merelakan semua kenangan indah bersamanya yang
tidak akan pernah kembali lagi. Senyum tulusnya, tawa khasnya yang berniat
untuk membahagiakanku, marahnya, dan semua tentangnya, tidak akan bisa kembali
lagi. Meski tiap kali mengingat semua itu, rasanya sungguh menyakitkan… Tapi
aku tidak sanggup… Jika mengingat semua hal kejam yang telah kulakukan padanya.
Dia tidak akan pernah sadar betapa aku mencintainya. Dia tidak akan pernah tau
betapa aku bangga padanya. Aku tak bisa tahan, Tuhan… Setiap kali membayangkan
dia di saat – saat terakhirnya… Aku tidak bisa berada di sisinya, untuk bahkan
sekedar menunjukkan betapa aku peduli padanya. Semua orang pasti mati, hanya
saja, begitu banyak “tidak sempat…” yang akhirnya menjadi sesal setelah dia
pergi. Aku bingung… Aku harus apa ??? Sejauh apapun pencapaianku, bapak tidak
lagi ada disini untuk melihatnya.
Aku menyesal… Atas semua
kelakuanku dan caraku memandangnya selama ini. Ada banyak hal tentangku yang
tidak sempat dia lihat dan ketahui… Aku tidak sempat mengatakan kepadanya semua
yang ingin aku katakan… Karena itu, aku ingin orang lain tau… My father is a
great man… he was, and always be… Aku sayang dia dan begitu bangga padanya. Aku
mau semua orang tau itu…
Sabar yah dear...
BalasHapusPapahnya pergi bukan berarti akhir dari mae buat papahnya bangga, insya allah papah masih bisa liat perjuangan mae meraih prestasi... Ammmiinn ya robbi *hug* :)
Hope so... :)
Hapusma,speechless
BalasHapuspergi untuk kembali,, kembali membangkitkan semangant di dirimu.. ceritanya keren
BalasHapus