Aku
menunduk memandangi lantai semen di bawah kursi kemudian beralih menengadahkan
kepala memandangi bintang – bintang yang terlihat jelas tanpa awan di langit
malam kota solo. Saat ini, aku tengah duduk berdua dengan seorang lelaki tinggi
dan tegap di beranda depan rumah eyang. Laki laki itu bernama Adjie, dia dan
keluarganya tinggal tepat di sebelah rumah eyang Tyo. Aku tinggal bersama eyang
sejak usiaku 6 tahun, krna papa dan mama harus bercerai dan eyang putri
bersikeras agar aku tinggal dengannya Sejak saat itu pula aku dan Adjie menjadi
sangat akrab, meski usia kami berbeda 4 tahun. Kami selalu bersama… Dan kami
saling jatuh cinta… Hubungan kami tanpa kata – kata cinta. Dan orang2 melihat kami
seperti dua bersaudara yang saling menyayangi. Coba saja tanyakan pada setiap
orang di dunia ini. Tidak akan ada satu orang pun yg tahu, bahwa ada cerita
antara aku dan dia. Kami menyimpan semua ini hanya untuk kami berdua. Jika kau
bertanya padaku bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi. Aku akan menjawabnya.
Hubungan kami tanpa bicara, Hanya saling memahami perasaan masing2...
Selanjutnya, hanya menungGu waktu untuk terus bersama.
Adjie
meninggalkan kota Solo dan tinggal di Jakarta untuk menyelesaikan kuliahnya.
Saat itu usiaku 14 tahun. Orang – orang pasti mencemooh dan mengatakan
perasaanku pada Adjie hanyalah cinta monyet. Tapi buktinya, 6 tahun tanpa
Adjie, aku masih menganggap akan ada saatnya bagi kami untuk bisa bersama lagi.
Hingga 1 minggu yang lalu, harapan itu hancur dan habis tersapu seperti debu
tertiup angin. Hari ini tepat 7 hari aku berada di solo. Sejak memutuskan
menerima tawaran untuk kuliah dan tinggal di Bali bersama papa, aku hanya
pulang ke solo 1 tahun sekali saat liburan semester genap. Dan liburan kali
ini, terasa begitu tragis dan mengenaskan. Aku sudah mengurung diri di dalam
rumah dan menghindar sebisa mungkin agar tidak bertemu Adjie, namun akhirnya
lelaki itu datang dan memaksa untuk bertemu denganku hingga jadilah malam ini
kami duduk di beranda depan rumah eyang tempat biasa kami bermain dan berkemah
setiap sabtu malam saat kami masih anak2.
“ Nay…” suara Adjie begitu lembut menyapaku
“ Selamat yaa…” jawabku miris seraya memberi senyuman termanis yang bisa
kuperlihatkan, “sudah berapa lama…??” aku melanjutkan. Adjie menghela nafas
panjang
“ 4 bulan…” sahutnya, dia lalu melanjutkan “ Kalian mirip… Mama juga suka
dia…”
“ Good to know…” kembali memaksakan senyum. Apa cowok ini datang hanya
untuk membicarakan istrinya di hadapanku…?? Karena aku tidak berminat sama
sekali.
“ Nggak ada yg bisa menolak cinta
nay… Itu yg terjadi sama aku sejak aku kenal dia…”
Sungguh kata – kata Adjie barusan terasa begitu tajam dan melukai hatiku…
Jika itu cinta, lalu apa yang hadir di antara aku dan dia dulu…
“ kamu punya pacar…??” Adjie melanjutkan. Aku terdiam sejenak. Apa
pertanyaan ini wajar…?? Aku tersenyum kecil. Lalu menggelengkan kepala.
“ Sampai 1 minggu yang lalu, aku masih mengira, bahwa ciuman di kening 6
tahun yang lalu adalah sebuah komitmen…” jawabku lirih dengan kepala tertunduk,
berusaha menyembunyikan air mata.
“ Dulu, apapun yg kamu lakuin… kamu selalu bilang itu semua buat aku…” Aku ingat...
Adjie yang ikut latihan taekwondo dengan alasan mau melindungi aku dari apapun. Adjie yang memutuskan belajar main gitar, karena aku berkata padanya aku hanya mau
nikah sama cowok yang pinter main musik. Dan akhirnya dia selalu menyanyikan lagu favoritku setiap malam dari beranda kamarnya. Aku pikir itu
karena cinta…
" Waktu kamu umur 17 tahun, kamu bilang suatu saat kita pasti bisa buat rumah yang tinggi dengan beranda di lantai 2, taman belakang yang luas dan banyak pohon2 tinggi dan bunga – bunga yang aku suka, ayunan panjang dan sebagainya. Aku pikir itu artinya kamu cinta aku… Waktu kamu umur 18 tahun, kamu bilang kamu ngerasa suatu saat nanti kita pasti bisa tinggal di rumah impian kita dan dengan bodohnya aku mengira bahwa itu tandanya kamu minta aku buat nunggu kamu hingga datang saatnya buat kita bs bersama… Sampai satu minggu yang lalu, aku masih berpikir, bahwa perasaan yang hadir di antara kita dulu itu cinta… Tapi sekarang, aku bingung… Apa yang sebenernya terjadi pada kita dulu…”
" Waktu kamu umur 17 tahun, kamu bilang suatu saat kita pasti bisa buat rumah yang tinggi dengan beranda di lantai 2, taman belakang yang luas dan banyak pohon2 tinggi dan bunga – bunga yang aku suka, ayunan panjang dan sebagainya. Aku pikir itu artinya kamu cinta aku… Waktu kamu umur 18 tahun, kamu bilang kamu ngerasa suatu saat nanti kita pasti bisa tinggal di rumah impian kita dan dengan bodohnya aku mengira bahwa itu tandanya kamu minta aku buat nunggu kamu hingga datang saatnya buat kita bs bersama… Sampai satu minggu yang lalu, aku masih berpikir, bahwa perasaan yang hadir di antara kita dulu itu cinta… Tapi sekarang, aku bingung… Apa yang sebenernya terjadi pada kita dulu…”
“ Itu cinta nay…” jawab Adjie lirih. Aku bisa mendengarnya dengan jelas. Kekuatanku runtuh seketika mendengar
kata – kata itu. Itu cinta…
Adjie bangkit dari tempat duduknya
dan bersimpuh di hadapanku.
“ apa yang kita rasain dulu itu bener… Aku cinta kamu… Sejak kapan…?? Aku
juga nggak tahu, dan aku yakin kamu juga begitu…” Kata – kata manis ini terlalu
menyakitkan… Kenapa sekarang…??
“ Bertahun – tahun kita seperti ini, aku ngerasa ada komitmen di antara
kita walaupun nggak pernah ada kata cinta… Ironis sekali, kamu akhirnya bilang
cinta ke aku justru setelah kamu beristri…” aku mulai menangis…
“ Maaf…” Sahut adjie lirih… Dia kelihatan begitu terluka… Ini pertama
kalinya aku melihat Adjie seperti ini… Dia menangis...
“ Aku selalu bahagia saat bersama kamu... Tapi sejak aku ketemu dia, aku nggak bisa menolak perasaan yang datang padaku. semakin aku berusaha menolak, perasaanku tumbuh semakin dalam padanya. Aku sangat yakin kalau aku cinta kamu... Kamu yang jadi motivasi aku selama 6 tahun ini... Tapi aku juga nggak bisa membantah kalau aku sudah jatuh cinta sama orang lain. Andai kamu tahu... Aku hampir gila... Lalu aku sadar akan satu hal. Aku bisa merasa bahagia hanya dengan memikirkan kamu meskipun aku nggak bisa ketemu kamu setiap hari selama 6 tahun ini, tapi dia... Semakin lama aku nggak ketemu dia, aku ngerasa sakit..." Adjie menundukkan kepalanya di hadapanku, berlaku seperti seorang anak yang hendak meminta pengampunan pada ibunya. "aku akhirnya memilih untuk mencintai kamu sebagai adikku…” lanjut Adjie…
Air mataku semakin deras dan aku mulai sesenggukan. Apa ini adil…?? Betapa
jahatnya kalimat itu buatku… Aku kesal, marah, sedih, dan sayang dalam waktu bersamaan.
-end-
ya Ma, kurang tersampaikan perasaan si Adjie, kayaknya datar bget waltu dy bilang "itu cinta nay.." kok sy bayangin dy bilang gitu sambil senyum, jadi waktu baca lanjutannya yg katanya dia nangis kayaknya aneh aja rasanya, hmm.. dan knp tiba2 si Nay lgs nyambar aja curhat seketika, kurangnya gimana gitu, kayal dipaksain selese gitu Ma,.. hmmm get my point?! :).. terus bisa g sih buat cerita yg bahagia and ceria, ini sedih2 terus :( , kcuali yg Chattet Tale tu...:)]
BalasHapusIya... Awal rencananya maun buat cerita ini rada panjang... Ada kronologi crta mereka dari kecil gt... biar semuanya jelas n dpt emosi... Tapi u knw lah... Saia takut gk bakal kelar kalo dbwt panjang... Jadinya setengah mati dah saia mikir gmna caranya biar semua pointnya tersampaikan dlm sekali nulis... :(
BalasHapusNtar koreksi2 lagi kalo gt...
Hahahaa... Iya yaa... saia juga gk sadar kalo gk ada yg hepi ending...