Pages

Kamis, 23 Februari 2012

For a Moment (part 1)


                Aku berhak bahagia. Berkali – kali aku mengulang – ulang kalimat itu di dalam pikiranku. Untuk kali ini, sekali dalam hidupku aku akan bertahan walau dunia memberiku label egois sekalipun. Mereka tidak pernah mengerti. Dan aku tahu, papa dan mama juga tidak akan berpihak padaku kali ini.
Aku memandangi foto yang berdiri tegak dengan manisnya di atas bufet ruang tengahku. Foto itu baru saja diambil 2 bulan yang lalu, aku tertawa menghadap kamera dan seorang lelaki duduk di sebelahku ,  memandangku dengan senyuman hangatnya. Kami bahagia. Yaa, kami sangat bahagia dan aku merasa aku harus mempertahankannya. Aku wanita berusia 28 tahun, apa aku harus mengalah jika kali ini mama papa tidak mengizinkan aku menikah dengannya…? Perlahan aku beranjak dari tempatku berdiri dan meraih ponselku. Pelan aku bersandar di tembok kamarku dan mulai merosot ke lantai sambil mencari nomor ponsel papa di kontak memori. Kupandangi nama di kontak itu dengan ragu, lalu setelah menarik napas panjang aku memutuskan untuk menelpon.
“ Halo…” terdengar suara papa di seberang, dan aku hanya diam. Aku mengatur napas pelan dan ketika papa menyapa lagi aku menjawab
“ Halo pa… Gimana Salsa…??” Terdengar papa menghembuskan napas panjang
“ Masih betah di dalem kamar… Papa nggak tau dia ngapain aja di dalem kamarnya…” Papa menjawab dengan candaannya tapi sama sekali tidak tertawa. Aku tahu maksudnya ini, papa tidak marah meskipun dia tidak setuju denganku. Tapi hal ini pasti terasa begitu tidak menyenangkan baginya.
“ Besok Laras ke rumah, pa…” ujarku
“ Salsa bilang dia mau liburan bareng temen – temennya ke Sembalun. Besok dia berangkat pagi – pagi.”
“ Nggak apa – apa… Laras mau ketemu papa sama mama kok…” aku menjawab dengan cepat, terdengar papa kembali mendesah lelah.
“ Iya, cantik… ntar papa kasih tau mama…”
“ Makasih, pa… Assalamualaikum…” Aku memutus telepon setelah papa menjawab salamku.
***
                Aku memaksa diri untuk membuka mata dan mendapati diriku terbangun di kamar lamaku. Aku ingat, semalam setelah menelpon papa aku memutuskan untuk pulang malam itu juga. Ada rasa gundah yang sepertinya akan terus menghantuiku jika aku tidak pulang. Cepat aku memeriksa ponselku, jam 8.30. kebiasaan bangun telat masih berlaku di hari libur. Aku bangkit dari ranjang dan mulai memeriksa sekelilingku. Kamar ini nggak berubah, masih seperti waktu terakhir kali kutinggalkan, ada tas dan peralatan kuliahku dulu, kipas angin… Aku langsung teringat pada adikku Salsa. Apa dia sudah berangkat dengan teman2nya…?? Dulu saat masih SMA kami berebut kipas angin. Kipas angin yang biasa ada di kamarku akhirnya berpindah ke kamar Salsa dan otomatis aku mendapat kipas angin yang lebih menyebalkan. Saat itu aku diam saja walaupun kesal setengah mati. Sejak lahir dia mendapatkan apa yang dia minta, sementara aku… Untuk meminta saja aku tidak punya keberanian, aku sadar saat itu papa mama masih hidup susah. Saat Salsa berusia 1 tahun, kehidupan kami mulai membaik, dan aku yang berusia 6 tahun tidak akan pernah mengalami masa – masa balita yang menyenangkan seperti Salsa. Kuanggap itu semua itu keberuntungan, dia mendapatkan semua yang dia minta, dan sekarang aku akhirnya mendapatkan apa yang aku mau. Walau sepertinya papa dan mama ingin aku mengalah untuk yang satu ini juga kepada Salsa.
“ Ras, tumben udah bangun…” terdengar suara mama dari arah pintu, aku refleks menoleh dan tersenyum.
“ ngejek nih ma…” sahutku, mama balas tersenyum. Dia tidak marah. Tentu saja…
“ Nasi goreng sama kopi udah siap di meja makan dari tadi lho, tuan putri…” ujar mama, aku memberengut mendengar sindiran mama.
“ Makasih yaa, ibu suri…” jawabku seraya menghampiri mama dan mengajaknya keluar.
Papa tidak ada di ruang tamu ataupun ruang makan, pasti sudah siap di depan komputer di ruang kerja, mendengarkan musik dan mencari inspirasi. Aku bergegas menemui papa di ruang kerjanya dengan membawa secangkir kopi.
“ Masih pagi udah nongkrong disini aja, pa…” sapaku begitu melihat papa asyik mendengarkan lagu di kursi kerjanya, papa tersenyum.
“ yang bilang masih pagi kan kamu aja… Kalo buat orang lain mah ini udah siang…” canda papa, aku tersenyum seraya menghampirinya dan meletakkan kopi di atas meja
“ Udah ngopi, pa…??” tanyaku, papa lalu menunjukkan mug kesayangannya.
“ Pa, papa pasti tau kan apa yang mau laras omongin…” aku mulai membuka pembicaraan. Papa menyeruput kopi dari mugnya dan beralih menatapku
“ Ini udah jadi masalah utama buat kita sekarang, ras… Semua orang di rumah ini pasti tau…” jawab papa dengan suara lembut, aku menarik napas panjang mendengar kata – kata papa
“ Sabtu depan Andra mau dateng ke rumah bawa keluarganya buat lamaran, pa… Kalo papa setuju…”
“ Laras… Kamu sama adikmu itu bukannya nggak pernah berantem. Sejak dulu, kalian sering rebutan barang ataupun berantem karena hal – hal sepele. Sekarang, papa menyesal, nak… Kalau tau akan begini jadinya, papa nggak akan biarin kalian rebutan bahkan untuk hal paling nggak penting sekalipun. “ Papa berhenti dan menghela napas panjang, aku hanya diam mendengar penuturannya.
“ 3 tau yang lalu, Pertama kalinya Andra dateng ke rumah bersama Salsa. Nggak pernah terbersit dalam pikiran papa sekalipun bahwa kalian akan berebut untuk hal yang satu ini. Papa selalu berpikir kalo Andra sepertinya benar – benar mencintai adikmu. Tapi nyatanya, minggu lalu bukan Salsa yang mengajak Andra untuk berbicara dengan papa, tapi malah kamu…”
“ Sekarang Laras tau pa… Selamanya, Laras akan jadi perebut di mata papa dan mama… Selamanya, papa akan selalu berpikir dari sisi Salsa, bukan aku… Segalanya buat Salsa. Dari hal – hal kecil seperti souvenir sampai barang – barang yang besar, semua kalian kasi buat Salsa… Laras nggak pernah protes, pa… Tapi untuk kali ini aja… Andra memutuskan untuk menikahi Laras dan papa masih ingin Laras mengalah dan memberikan Andra buat Salsa…” Aku mulai emosional, papa menatapku dengan heran
“ Bukan itu inti dari kata – kata papa… Papa Cuma minta kamu buat memikirkan lagi, semua yang udah kamu dan Salsa lalui selama ini… Kamu harus berenti bersikap kekanak – kanakan seperti ini, Laras… Kamu sadar kan… Cinta itu, bukan buat diperebutkan…” bukan main kesalnya aku mendengar kata – kata papa ini. Jadi selama ini, aku yang bersikap kekanak – kanakkan merebut apapun dari Salsa…?? Seolah – olah aku sengaja merencanakan untuk merebut Andra. Andra yang memilihku !!! dan aku cinta dia… Apa kami tidak berhak untuk bahagia dengan pilihan kami…???
“ Jadi menurut papa Laras sengaja ngerebut Andra dari Salsa…?? Pa… Laras nggak pernah memaksa Andra untuk mencintai laras…!!” aku menyahut dengan nada yang mulai tinggi, papa menatapku dengan serius
“ tapi kamu berusaha, sayang… Dan itu sama buruknya…” jawab papa, aku terkesiap mendengarnya. Ucapan papa sudah jelas.

***

4 komentar:

  1. hayah~ udahan ya,,, Salsa itu kenapa?berusaha bunuh diri ya?atau malah udah mati...end donk. *malah ngerusak* Lanjutkannnnn

    BalasHapus
  2. hahai Mama pengen Nikah,...

    BalasHapus
  3. Ranran. bunuh diri itu dosa looooh kakaa ran... :D

    Leeane. hehh... yaa nggak pengen nikah jugaa inii maksudnya... cuma biar dramatis ajaa...

    BalasHapus

 
Copyright (c) 2010 A Girl Like Me and Powered by Blogger.