2
hari sebelum hari pernikahan. Hampir satu semester sejak Andra datang ke rumah
untuk melamarku. 3 hari setelah percakapan kami di ruang kerja, papa menelponku
mengajak untuk makan malam bersama keluarga dan memutuskan untuk menyerahkan
semua keputusan padaku. Salsa tidak banyak bicara malam itu, dia hampir tidak
mau mengangkat wajahnya dan melihatku sepanjang pertemuan kami. Saat itu, untuk
pertama kalinya aku merasa ragu untuk melanjutkan rencana pernikahan ini. Apa
aku tega melanjutkan semua ini…?? Sampai kapan ketegangan antara aku dan Salsa
ini akan bertahan…?? Aku tahu apa yang papa dan mama pikirkan tentang semua
ini. Mereka pasti khawatir anak – anak mereka selamanya saling membenci dan terus
– terusan bersikap canggung seperti ini. Aku ragu… Hingga akhirnya Andra
kembali meyakinkanku. Dia menyuruhku untuk mulai membangun hubungan yang baik
dengan Salsa. Aku setuju. Selalu seperti itu, dia seolah bisa membaca pikiranku
yang berada dalam keragu – raguan dan akhirnya meyakinkan aku. Dia seperti
mulut yang membantuku untuk mengutarakan apa yang susah untuk kuutarakan. Dan begitulah,
aku mulai menghubungi Salsa dan mengajaknya untuk bertemu. Tapi dia selalu
mengelak. Entah sudah berapa email dan sms yang kukirim untuknya. Hingga
akhirnya, hari ini Salsa menelponku dan memutuskan untuk bertemu denganku. Dia bertanya
apa akhirnya aku akan mentraktirnya makan siang hari ini setelah sekian lama.
Dari nada bicaranya, aku tahu dia sudah memutuskan untuk berusaha menerima
keadaan ini. Meskipun bisa dipastikan, Salsa belum bisa melupakan Andra secepat
itu.
Aku tersenyum membayangkan apa yang akan
terjadi pada kami selanjutnya. Kulirik jam dinding di ruang makan. Jam 12.10.
Semua makanan sudah tersedia dan tertata rapi di atas meja makan. Aku
memutuskan untuk mengajak Salsa makan siang di rumahku, karena sepertinya
pertemuan pertama kami butuh sedikit privasi. 5 menit kemudian terdengar suara
ketukan dan Salsa muncul dengan cengiran khasnya. Dia langsung menuju ruang
makan dan memperhatikan makanan yang sudah kusediakan.
“ ini masak sendiri kan…??” tanyanya,
“ iya donk… special + puding brownies…”
jawabku, dia lalu tersenyum
“ boleh langsung makan nggak…??” tanyanya
lagi, aku hanya tersenyum lalu duduk dan mulai menyendok nasi. Tidak ada
sepatah kata yang keluar saat kami tengah asyik menyantap makanan di meja
makan. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berpindah ke ruang tengah. Salsa
asyik menyendok puding browniesnya. Aku hanya memperhatikan, tidak tahu harus
mulai bicara dari mana
“ Dek, kamu udah punya pacar baru yaa…??”
Aku bertanya dengan bodohnya. Salsa menghentikan kegiatannya dan menoleh
padaku.
“ pertanyaan macem apa sii, mbak…?? Kalo
mau nanyain soal Andra nggak usah pake basa basi deh…” ujar Salsa seraya
tertawa kecil. Aku tidak menjawab. Salsa lalu meletakkan pudingnya dan menghela
napas panjang. Dia beranjak mendekati tembok dan bersandar menghadapku. Seperti
sudah tradisi, kami suka tembok.
“ awalnya susah banget buat aku, mbak…
Berhari – hari aku mengunci diri di kamar dan berpikir betapa nggak adilnya ini…
Setelah sekian lama, aku akhirnya tau kalo kali ini aku bener – bener jatuh
cinta dan ini pertama kalinya buatku. Tapi akhirnya dia jatuh cinta sama mbak…
Kenapa…?? Aku bener – bener benci mbak waktu itu. Aku nangis setiap kali
membayangkan hidup aku ke depannya tanpa dia. Nggak ada lagi Andra dan
perhatian – perhatiannya buatku. Tapi akhirnya aku mikir. Ini nggak sepenuhnya
salah mbak, aku yang terlalu lama nggak ngasi dia kejelasan status meskipun dia
udah beberapa kali mengutarakan perasaannya ke aku. Nggak ada yang suka punya
hubungan tanpa status, iya kan mbak…?? Saat mbak mulai hadir dalam kehidupan
kami, aku baru sadar, kalo aku bener – bener cinta dia dan akhirnya kami
jadian. Tapi sejak saat itu, mbak selalu ada dalam pembicaraan kami. Sampe akhirnya
aku sepenuhnya yakin kalo dia udah jatuh cinta sama mbak. Kami sepakat buat
break sampe akhirnya dia bisa mutusin untuk milih aku ato mbak. Selama break
aku udah berusaha buat mempersiapkan diriku kalo - kalo hal seperti ini
terjadi. Tapi sekuat apapun aku berusaha, dan sebaik apapun aku mempersiapkan
diri, semuanya hancur begitu aja. Kenyataannya, aku tetep sakit hati. “ Salsa
berhenti, tampaknya dia berusaha untuk menahan air matanya.
“ Kalo emang jodoh, nggak akan kemana
mbak… dan kayaknya Andra bukan jodoh yang dikasi Tuhan buat aku…” Salsa
melanjutkan dengan mata berkaca – kaca.
“ dek…” aku menghela napas dan
memikirkan kata – kata apa yang harus kuucapkan. Aku bersalah.
“ maafin mbak…” hanya itu yang keluar
dari mulutku dengan suara parau. Aku lalu memeluk adikku dengan erat.
“ Sejak pertama kali dia ketemu mbak,
aku tau suatu saat dia bakal jatuh cinta sama mbak…” ujar Salsa lirih, lalu air
matanya pun mulai jatuh. Dia menangis tanpa suara.
***
Aku
tersenyum menatap kotak besar yang diberikan Salsa padaku sesaat sebelum acara akadku
dimulai. Anak itu bilang kalau ini bukan hadiah pernikahan. Aku tersenyum
seraya memicingkan mata curiga padanya.
“ Mbak, we’d share everything since we
are kids. Aku Cuma mau mbak tau, kalo aku ikut bahagia buat mbak. Ini, aku kasi
ke mbak sebagai bukti kalo aku ikhlas dan mbak nggak ragu lagi.” Begitu katanya
seraya menyerahkan kotak besar ini padaku tadi pagi.
“ Apa yang lucu dari kotak ajaib itu…??”
Andra duduk disampingku dan ikut memperhatikan kotak besar ini setelah
mendapati aku tersenyum – senyum sendiri sudah siap membuka kotak.
“ Let’s see…” jawabku. Aku lalu membuka
kotak yang sedari tadi kuperhatikan ini.
“ wow… What’s with this things…??” Anda
tertawa kecil melihat isi kotak, aku ikut tersenyum. Ini semua barang – barang kami. Ada tas ransel, arloji, baju, sandal, buku,
dan barang – barang kecil lainnya.
“ ada cerita di setiap barang – barang ini…”
Aku mengambil arloji yang sudah tidak
bernyawa dari dalam kotak.
“ Arloji ini dulu dikasi papa buat
Salsa, tapi karena dia nggak pernah pake, akhirnya aku yang pake…” tuturku,
Andra hanya mengangguk – angguk seraya tertawa kecil. Dia lalu bangkit dan
mulai membuka kado yang lain. Aku menatap arloji ini dan seketika aku tercenung
mengingat – ingat masa laluku. Aku ingat, dulu papa menegurku karena aku
memakai arloji ini tanpa izin. Aku kesal saat itu, karena aku hanya meminjamnya
sekali dan itupun karena arloji ini tergeletak begitu saja tidak pernah dipakai
oleh Salsa. Saat Salsa melihatku dengan arloji ini, dia hanya berkomentar “ eh
mbak ambil arlojiku…?? Mmmhh… yaudah deh, daripada nggak kepake juga…”. Salsa
memberikan arloji itu padaku… Aku menunduk mendapati mataku mulai memanas. Kupandangi
tas ransel di dalam kotak di pangkuanku. Tas ini punya Salsa. Waktu tasku satu –
satunya rusak, aku meminjam tas ransel ini, dan Salsa dengan baiknya
memindahkan semua buku – bukunya ke dalam tas lamanya dan meminjamkan tas ini
padaku. Dia tidak pernah memintanya kembali sebelum aku membeli tas yang baru. Aku
mulai membongkar isi kotak satu persatu dengan tidak sabar. Semua barang –
barang ini Salsa berikan untukku tanpa marah ataupun terpaksa. Iya, bener. Papa
emang selalu ngasi semuanya buat Salsa. Tapi Salsa… Dia ngasi semuanya buat aku…
Dia kasi aku apa yang aku inginkan, sementara aku selalu bersikap egois karena
berpikir dia selalu dapet semuanya. Dan sekarang, aku merebut Andra dari Salsa… Papa benar, harusnya aku bisa berpikir tentang apa yang sudah kami lalui selama ini... Aku buta... Aku terlalu buta oleh rasa cemburu...
“ Mas… Kenapa akhirnya kamu mutusin buat
milih aku daripada Salsa…??” tanyaku seketika pada Andra. Andra mengernyitkan
kening.
“ Kenapa kita bahas ini sekarang…??”
tanya Andra keberatan
“Aku mau tau ceritanya… Salsa bilang apa
waktu itu…??” aku bersikeras memaksanya menjawab. Andra menghela napas panjang
“ karena aku sadar, aku udah jatuh cinta
sama kamu. Kamu yang muncul di pikiran aku setiap saat. Aku merasa bersalah
setiap kali inget kalo Salsa dan aku masih punya hubungan. Sampe akhirnya aku
dan Salsa memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, karena dia juga sadar,
perasaan aku ke dia udah nggak seperti dulu lagi.” Aku hanya menunduk menahan
air mataku. Dengan cepat aku bangkit menyambar ponselku dan mengunci diri dalam
kamar mandi. Call “My Sissy”…
“ Halo mbak…” terdengar suara Salsa di
seberang.
“ Dek… Maafin mbak… Mbak udah ngancurin
cinta pertama kamu...” Selama 23 tahun hidupnya, Andra adalah orang pertama
yang menjadi kekasih Salsa. Dan akulah yang menghancurkan hubungan mereka. Aku
merasa jahat… Karena aku, salsa harus mengalami sakitnya patah hati…
“ Selalu ada pertama kali untuk segala
hal, mbak… Aku Cuma patah hati…” Salsa menjawab dengan suara lembut. Dari nadanya,
aku tahu… Dia tersenyum saat mengucapkan itu.
-end-
keren,pollingnya lwt komen krn g pk laptop.. :D di part I sy merasa sebel ma Salsa,tp di part II sy malah ga nyangka Salsa ternyata bgtu..
BalasHapus